
Keesokan harinya..
Tepat pukul tujuh pagi, seperti biasa Arabella pergi ke kampusnya dengan menaiki sepeda.
Ketika sampai di area dekat gerbang, tepatnya ketika melihat pria berkumis si penjaga gerbang, Arabella teringat dengan bunga mawar yang pernah ia terima dari lelaki itu. Bukan dari lelaki itu sebenarnya, lebih tepatnya dititipkan kepada lelaki itu.
Ia menghampiri pria si penjaga gerbang yang tengah tertidur pulas di atas kursi itu. Ia geleng geleng kepala melihat lelaki itu, "Sudah pagi masih tidur? Ckckck"
Arabella terus memperhatikan wajah lelaki yang tengah tidur mengorok itu. Suara nya saat mengorok tidak terlalu mengganggu Arabella, tapi kumis nya yang seperti patil lele membuat Arabella gemas. Arabella mendekat dan menyentuh kumis itu, seketika membuat pria itu terbangun.
"Eh?! Astaga.. kamu membuat bapak terkejut, saja!", ujar pria itu sambil mengelus dada.
"Muehehe. Tuan, saya ingin tau apakah ada om om lagi yang mengirimi saya bunga?", tanya Arabella polos.
Pria itu mengerutkan dahinya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ng.. oh, tidak ada. Memangnya kenapa, dik?"
"Oh, baguslah, tuan. Tidak ada apa apa, hihi", Arabella kemudian berjalan pergi dari sana sambil bersenandung kecil, meninggalkan pria itu yang tengah geleng geleng kepala melihatnya.
.
.
"Hari Minggu semalam kau pergi kemana?"
Itu pertanyaan pertama yang diucapkan Rachel ketika Arabella baru memasuki kelasnya.
"Ng...", Arabella mencoba mengingat ingat hal hal yang ia lakukan semalam.
"Aku menelepon mu jam delapan pagi, bahkan berkali kali hingga pukul 9 pagi, tapi kau tak menjawab telepon ku. Kau sebenarnya sedang pergi kemana?", Rachel mengulangi pertanyaannya.
"Ng..", Arabella menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku semalam kemana ya? Aku lupa"
Rachel menepuk jidat, "Astaga, yang benar saja. Kau ini pelupa sekali.."
Tok! Tok! Tok!
Ada seseorang dari luar yang mengetuk pintu kelas. Arabella dan Rachel menoleh, terlihat seorang gadis beralmameter merah berdiri didepan pintu.
"Mahasiswa yang bernama Arabella Cathan, dipanggil oleh dosen Han di perpustakaan", ujar gadis beralmameter merah itu.
Arabella menoleh ke arah Rachel sejenak, "Ng.. nanti kita lanjutkan ya, aku ke perpustakaan dulu"
"Hm.. baiklah", jawab Rachel, lalu membiarkan sahabat gempal nya itu berjalan keluar kelas.
*
Atas panggilan mendadak tadi, Arabella segera menuju ke perpustakaan seorang diri. Sesampainya di perpustakaan yang tampak ramai, Arabella mengetuk pintu dan segera masuk ketika melihat dosen Han yang tengah berada tak jauh dari pintu.
__ADS_1
"Anda memanggil saya, pak?", tanya Arabella pada seorang dosen lelaki berkulit putih berkacamata yang tengah sibuk mengurus berkas di atas meja.
Dosen bernama Han itu menoleh, "Iya, Arabella. Saya ingin memintamu untuk membantu saya menyusun data data mahasiswa fakultas hukum. Ada beberapa siswa lain yang akan membantumu, kamu silahkan pergi ke sebelah sana ya", dosen Han menunjuk ke arah sudut kanan perpustakaan.
Arabella mengangguk dan segera menjalankan perintah lelaki parubaya tadi. Ia melihat ada beberapa mahasiswa beralmameter coklat, satu fakultas dengannya, tengah sibuk memberesi buku buku di beberapa rak. Beberapa yang lain tengah menyusun banyak berkas di meja yang ada didekat situ.
"Halo semua, saya Arabella!", sapa Arabella tiba tiba tanpa diminta. Tak lupa ia memasang senyum lebar.
Beberapa mahasiswi yang tengah sibuk bekerja disitu menoleh, dan memberi senyuman kecil padanya. Beberapa yang lain hanya mengabaikan.
"Apa yang harus saya bantu, kak?", tanya Arabella pada salah seorang perempuan disana.
"Oh, kamu susun berkas yang ada di rak sebelah sana. Susun berkas sesuai warna, ya", jawab mahasiswi itu sambil menunjuk ke arah rak yang berada di sudut dinding.
"Baik kak!", Arabella segera menghampiri rak buku besar itu.
Ditatapi nya semua berkas berkas yang bermacam macam warna, tersusun rapi, namun disusun dengan warna yang teracak.
Arabella mulai menyusun dari rak paling bawah. Ketika rak dibagian bawa sudah rapi, sampailah di rak bagian atas yang tak bisa ia gapai.
Gadis itu sudah mencoba untuk berjinjit, tapi tetap tidak bisa mencapai rak bagian atas itu.
Baru saja ia hendak berbalik badan untuk mengambil kursi, tiba tiba ia melihat sebuah tangan yang muncul mendekati tangannya. Tangan itu mengambil beberapa berkas berwarna hijau yang memang hendak dituju oleh Arabella.
Arabella menoleh kebelakang saat tangan itu berhasil meraih berkas hijau tadi dengan mudah, "Eh? Kak Richard?"
"Tapi kata ibu saya, perempuan pendek itu tidak masalah kak", ujar Arabella polos.
"Iya, tapi jangan sampai seperti kurcaci"
"Bukannya kurcaci itu menggemaskan ya kak?"
Lelaki itu tidak menjawab, ia hanya melipat tangan nya didepan dada, sambil menahan semburat merah yang mulai muncul di pipinya
Saat Richard melipat tangan itu, Arabella melihat sesuatu yang berkilauan di pergelangan tangan kiri lelaki itu.
"Eh?", Arabella memicingkan matanya.
Itu jam tangan hitam yang kujual semalam!, pekik Arabella dalam hatinya.
"Ada yang perlu kubantu lagi?", tanya Richard, memecah lamunan Arabella yang masih terbengong bengong karena menatap jam tangan yang dipakai lelaki itu.
"Hei, Richard, kalau kau ingin mendekatinya, jangan tanggung tanggung!", tiba tiba muncul seorang lelaki tak dikenal yang langsung menggandeng bahu Richard.
Richard menoleh ke arah lelaki itu dengan cepat. Ia berdecak, dan menatap lelaki itu dengan malas, tapi ia membiarkan lelaki itu menggandeng bahunya.
"Ng.. maaf kak, itu.. jam tangan kakak beli dimana?", tanya Arabella sambil menunjuk jam tangan hitam yang ada di pergelangan tangan Richard.
__ADS_1
Richard melirik sekilas ke arah jam tangan yang dipakainya, "Kenapa kau ingin tau?"
"Kak, semalam saya jual jam tangan saya, jam nya persis seperti itu"
"Jadi?"
"Kak, tolong lah. Ini sangat penting..!", Arabella terlihat memohon.
"Aku beli di toko jam Green Bell"
Arabella membulatkan matanya, menyadari bahwa jam tangan yang ia jual semalam juga di toko itu, "Wah! Itu pasti jam tangan saya kak!"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Boleh saya membelinya kembali? Boleh ya kak?", Arabella memasang wajah se kasihan mungkin supaya lelaki itu dapat mengasihaninya.
Melihat wajah Arabella yang terlihat begitu memohon, Richard tampak memikirkan sesuatu. Muncul sebuah ide jahil di otaknya, yang mungkin membuatnya dapat berkesempatan untuk dikejar oleh gadis itu.
...Hm.. sepertinya aku perlu memanfaatkan jam tangan ini, ujarnya dalam hati....
Pada akhirnya, Richard tersenyum miring sambil menjawab, "Tidak"
"Kak, ayolah kak, aku akan beli seharga 4000 dollar!"
Richard membulatkan matanya, "Eh? Kau yakin?"
"Ng.. tidak sih, kak. Mana ada saya uang sebanyak itu, hihi"
Richard langsung memasang wajah datar.
Saat lelaki itu hendak beranjak pergi, Arabella dengan cepat menghalanginya, "Kak, ayolah. Saya akan beli dengan harga 3.500 dollar, kali ini saya serius", Arabella membentuk dua jari di tangan kanannya.
"Tidak"
"Oh, ayolah kak. Jam itu sangat penting untukku..!"
Tapi lelaki itu tetap berjalan pergi. Arabella mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Ketika lelaki itu sudah tak terlihat lagi, ia mencari cari cara agar bisa mendapatkan jam tangan itu.
Kemudian ia melihat Brandon, teman dekat lelaki tadi tengah membaca buku di dekat pintu masuk perpustakaan. Kebetulan sekali, fikir Arabella.
"Kak Brandon..", panggil Arabella, lelaki itu menoleh.
"Iya, Arabella. Ada apa?"
Arabella tersenyum kecil, lalu membisikkan rencana yang baru saja ia fikirkan kepada lelaki itu.
__ADS_1