Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Kedatangan Andrew


__ADS_3

Pukul 1 siang...


Tepatnya setelah pulang kampus, Arabella dan Rachel segera pergi ke area parkir menuju sepeda mereka masing masing. Setelahnya, mereka menuju restoran tempat mereka bekerja.


Sesampainya di area parkir restoran itu, Arabella memarkirkan sepedanya dan masuk ke dalam restoran, disusul oleh Rachel.


"Kemana jam tanganmu?", tanya Rachel sambil melepaskan almameter nya. Gadis itu baru menyadari jam tangan mahal yang biasa dipakai Arabella kini telah tiada.


"Hmm... Begitulah", Arabella memasang wajah sedih.


"Kenapa? Di curi?!"


"Bukan, tau! Itu.. aku jual..", jawab Arabella berbohong.


Rachel mengangguk angguk, "Omong omong, itu bukan dari tuan Andrew kan? Karena aku lihat jam tangan kalian sama. Aku melihatnya saat terjadi perdebatan di resto kemarin"


Arabella membulatkan matanya. Ia tak menyangka sahabatnya itu akan sedetail itu sampai memperhatikan jam tangan orang saat tengah terjadi keributan.


"Bukan kok, apasih Rachel.."


Rachel terkekeh kecil, lalu sedetik kemudian, ada panggilan dari dalam dapur. Salah seorang chef memanggil Rachel, gadis itu pun segera pergi menuju dapur.


Waktunya mulai berkerja. Para pelanggan masuk dan keluar restoran. Arabella juga harus secepatnya melayani pelanggan.


"Arabella, kau antarkan pesanan ini ya, ke meja nomor 05", ujar seorang koki dari balik jendela dapur.


"Baik!", Arabella segera bergerak mengikuti perintah tadi.


"Arabella, tolong bersihkan meja nomor 08, ada seorang pelanggan yang baru saja memesan meja itu", ujar seorang pelayan yang lain.

__ADS_1


"Baik kak!", Arabella segera mengambil kain dari dapur, dan membersihkan meja nomor 08 seperti yang diperintahkan barusan.


Saat sedang membersihkan meja kosong itu, tiba tiba muncul seorang lelaki berjas hitam berdiri di sampingnya. Arabella menoleh dan refleks terkejut.


"Kemana jam tanganmu?", tanya Andrew, seakan akan tengah bertanya pada anak sendiri.


"Eh.. om, astaga..om-"


"Jangan panggil aku om"


"Tuan Andrew, iya. Tuan Andrew. Om mau pesan apa?"


Andrew menepuk jidat, Arabella seakan tidak mendengar yang ia minta tadi. Masuk dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri.


"Kemana jam tanganmu itu?", Andrew mengulang pertanyaan.


"Hah?"


"Hm.. sebenarnya bukan di curi, lebih tepatnya dia memaksa untuk membeli jam ku itu", jelas Arabella polos.


"Kenapa kau mau mau saja? Bukankah bagus jam tangan kita couple?", tanya Andrew, lelaki itu entah kenapa tampak marah mendengar bahwa Arabella hanya diam saja saat jam tangannya nya di paksa untuk dibeli. Jam tangan gadis itu yang sama dengan jam tangannya, menjadi kesenangan tersendiri bagi Andrew.


Sementara Arabella, gadis itu malah tampak bingung bingung, "Kapel itu artinya apa om?"


Ternyata kata itu yang dibingungkan oleh Arabella. Andrew menahan tawanya, "Kau cari saja di google"


Dan Arabella yang polos segera mengecek arti kata itu melalui ponselnya.


Pasangan?, tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Om mesum", gumam Arabella pelan.


Andrew nampak nya mendengar itu, karena lelaki itu langsung menoleh cepat ke arah Arabella setelah Arabella mengucapkan itu, "Apa?"


"Eh? Apanya yang apa om? Hehe"


Andrew menatapnya datar. Sebenarnya ia mendengar jelas tadi apa yang gadis itu katakan, tapi ia tidak mau memperdebatkan nya panjang lebar, "Arabella, kau selalu mengabaikan chat dariku. Coba sekali kali kau balas chat ku"


Arabella menggaruk garuk kepalanya, pura pura tak tau. Padahal ia sebenarnya sudah memblokir nomor om om yang disampingnya itu.


"Ng.. oke om, oh.. tuan", ujar Arabella sambil mengacungkan jempol.


Andrew mengangguk angguk, "Bagus..".


"Iya om, hehe"


"Datang lah kalau aku mengajakmu makan bersama"


"Eh.. tentu tidak, tuan"


"Kenapa? Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat"


"Tidak, tuan terimakasih. Oh ya, tuan mau pesan apa?", tanya Arabella mengubah topik.


Andrew terdiam sejenak karena ia merasa baru saja ditolak mentah mentah oleh gadis lugu itu.


"Aku kesini tidak untuk memesan makanan. Aku kesini hanya untuk bertemu denganmu", ujar Andrew jujur.


"Oh.. oke, tuan. Saya pergi ke dapur ya? Terimakasih..", ujar Arabella lalu berjalan pergi, meninggal kan lelaki itu yang masih menatapnya dengan bingung sekaligus terheran heran.

__ADS_1


__ADS_2