
Keesokan harinya, ketika sampai di kelas, Arabella langsung mengumpulkan tugas wawancara kelompok nya pada dosen. Dosen berkata bahwa video wawancara tersebut sangat bagus, membuat mereka sekelompok sangat senang.
"Hei, kalian mau menonton film bersama di rumahku?", tanya Vino tiba tiba saat dosen baru saja keluar dari kelas.
"Boleh boleh", ujar Angel.
"Iya, aku dan Feny mau ikut juga. Aku cukup bosan di rumah", ujar Rachel.
"Aku harap kalian semua mau datang. Karena orang tua ku tadi baru saja pergi ke luar kota, aku kesepian", ujar Vino sambil memasang wajah memelas.
Setelah itu, mereka berempat menoleh ke arah Arabella.
"Iya, aku ikut", jawab Arabella pada akhirnya.
"Oke, terimakasih banyak karena kalian semua mau ikut", ujar Vino.
Setelah itu Arabella berfikir.
Kalau aku pergi ke rumah teman lelaki tuan Andrew akan marah tidak ya?, tanya nya dalam hati.
Tanpa berfikir panjang, ia segera mengetik pesan kepada Andrew.
Arabella
Tuan Andrew, aku ingin ke rumah temanku setelah pulang kampus ini
Tak lupa Arabella meletakkan emoji tangan memohon di akhir kalimatnya.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada balasan, padahal sudah ada centang dua abu abu. Lelaki itu sedang online.
Berarti dia memang tak peduli kan? Ya sudah, intinya aku sudah minta izin, ujar Arabella dengan kesal dalam hatinya.
*
Saat waktu istirahat tiba, Nael terlihat sedang sibuk dengan beberapa lembar kertas di mejanya. Karena di kelas nya sedang sepi, jadi dia berani mengeluarkan lembaran lembaran kertas kecil yang merupakan clue yang ia temukan dari kasus kematian akhir akhir ini.
"Clue yang pertama, di dapat dari kantung baju tuan Reonald", ujar Nael sambil menuliskannya di buku tebal miliknya.
Ia lalu menuliskan isinya juga ke buku tebal tersebut.
Buku tebal tersebut tentu memiliki sebuah kunci untuk membukanya. Nael tentu tidak bodoh hanya dengan menulis nulis clue itu di sebuah buku biasa, teman temannya kemungkinan bisa usil dan membacanya.
"Clue kedua dari istri tuan Reonald yang diduga bunuh diri, di mall Fornia. Di letakkan di saku rok", ujar Nael pelan lalu kembali menuliskannya di buku itu.
Nael juga menuliskan isinya ke dalam buku tersebut.
"Oke, hanya dua clue" , simpul Nael , "Tapi aku yakin keempat kematian 2 Minggu ini adalah ulah pembunuh yang sama", lanjutnya dengan kening berkerut.
__ADS_1
Ia terus memperhatikan tulisan tulisan tegak bersambung dari si pembunuh itu, dan tak berapa lama kemudian..
Drrtt.. drrtt..
Telepon di sakunya berbunyi. Nael seger mengeluarkan telepon nya dan melihat nama tuan Hans di layar. Ia pun seger menjawab telepon itu.
"Halo?"
"Halo, Nael. Kami baru saja menemukan sesuatu dari rekaman di mobil yang sempat dinaiki oleh Vano", ujar tuan Hans. Nael mengangguk angguk.
"Lalu.. apa sesuatu itu?"
"Di rekaman itu terdapat sebuah mobil Jeep berwarna hijau tua yang kita temukan di cctv wisata hutan Pinus"
"Hm.. selain itu? Bagaimana saat si akhir video?", tanya Nael.
"Di akhir video, terlihat si pengemudi Jeep hijau mengeluarkan pistol dan menembak ke arah belakang. Setelah penembakan itu, mobil yang dikendarai Vano berhenti, dan mobil Jeep hijau itu melaju cepat. Hanya itu saja", jelas tuan Hans yang membuat Nael menghela nafas panjang.
"Pembunuh yang memang sudah sangat ahli, dia bahkan punya pistol, entah dari mana dia dapatkan itu", gumam Nael kesal.
"Benar, Nael. Oh iya, saat ini kamu masih berada di kampus kan? Saya minta kamu untuk membawa tas Vano yang kemarin sempat di bawa pulang oleh orang tua nya. Coba kamu pergi ke rumahnya setelah pulang dari kampus, tanyakan tentang tas itu"
"Baik,", ujar Nael.
Setelah itu telepon ditutup.
*
Mereka pergi dengan menggunakan taxi, dan berhenti di pintu gerbang masuk komplek. Kata petugasnya, kendaraan umum tidak boleh memasuki tempat itu. Setelah turum dari taxi, jadi mereka berlima harus berjalan kaki lagi sejauh 35 meter.
Ketika sampai di dalam rumah, Vino langsung menyalakan tv. Mereka berlima hanya duduk santai di ruang tv, sambil memakan Snack.
Selagi Arabella dan yang lainnya duduk sambil menikmati Snack, Vino sibuk mencari cari CD untuk di tonton.
"Kalian suka kartun Caroline?", tanya Vino.
"Hei, kartun itu mengerikan sekali!", ujar Angel dengan mata membulat.
"Iya, aku pernah menontonnya sampai separuh. Aku tak berani melanjutkan nya", lanjut Feny. Vino tertawa.
"Ahahah, padahal Caroline bukan kartun horor, masa kalian takut sih?", tanya Vino.
Arabella yang tak tahu menahu tentang kartun yang mereka maksud hanya diam saja.
"Jangan yang itu, yang lain saja. Kita tonton film komedi saja", ujar Angel, yang diangguki oleh Feny dan Rachel.
Ketika mereka menoleh ke arah Arabella, Arabella tau kalau mereka sedang menanyakan pendapatnya, jadi Arabella langsung mengangguk setuju.
__ADS_1
Lagi pula memang lebih baik film komedi kan? Apalagi dua hari yang lalu ada seorang penghuni rumah ini yang meninggal, yang benar saja mereka akan menonton film horor.
"Ahahah, lihatlah badut itu berguling guling!", terdengar tawa Angel saat film yang mereka nyalakan sudah di mulai.
"Iya, ahahah!!"
Terdengar suara tawa yang lain.
Arabella yang duduk di sofa paling belakang hanya melihat tv itu sekilas. Dia sedang tidak mood menonton film itu entah kenapa. Ia tadinya ingin mengajak vino bercerita tentang Kakak lelakinya, tapi kelihatannya mereka semua sedang sangat senang menonton tv, terlihat dari mereka yang tertawa tawa saat film komedi itu diputar.
Tok.. tok.. tok..
Arabella menegakkan kepalanya saat ia mendengar suara ketukan pintu.
Dan nampaknya hanya ia saja yang mendengarnya, karena keempat temannya itu terlihat masih tertawa terpingkal pingkal.
Arabella menunggu beberapa saat, tak ada suara ketukan pintu lagi.
Ia tadi jelas mendengar suara ketukan pintu dari ruang tamu yang jaraknya hanya lima meter dari sini. Pintu depan tak dikunci, hanya mereka tutup.
Arabella kemudian berfikir.
Kalau memang suara ketukan pintu tadi berasal dari tamu yang hendak masuk ke rumah, kenapa cara mengetuknya halus sekali seperti tidak berniat untuk mengetuk?, tanya Arabella dalam hati.
Ia kemudian melihat teman temannya yang masih sibuk tertawa tawa melihat film di tv. Karena Arabella penasaran dengan suara ketukan pintu tadi, ia segera meninggalkan ruang tv dan berjalan ke ruang tamu.
Sesampai nya di ruang tamu, ia melihat pintu depan sedikit terbuka.
Padahal saat masuk ke dalam rumah Vino, ia ingat jelas bahwa pintu itu langsung ditutup. Dan pintu itu bukanlah pintu yang akan langsung terbuka jika diterpa angin.
Pasti ada seseorang yang membukanya.
Arabella memberanikan diri untuk berjalan mendekati pintu itu. Ketika dia membuka pintu..
Tak ada siapa siapa.
Arabella mencoba melihat lagi kesana kemari, tidak ada siapa siapa.
"Apa tadi ada anak anak usil yang membuka pintu?", tanya Arabella seorang diri.
Dan saat ia hendak kembali masuk ke dalam, Arabella baru menyadari bahwa ada sebuah kertas ukuran kecil yang diletakkan di ujung teras.
Ada beberapa tetesan warna merah di sekitar kertas itu. Apa itu?
Darah?
Arabella berjongkok, lalu mengambil kertas kecil yang terlihat seperti sudah diremuk remukkan itu.
__ADS_1
Awalnya aku tak berniat untuk membunuh lelaki itu. Dia tidak termasuk list orang yang akan kubunuh. Tapi dia sangat menyebalkan! Dia tidak mau berhenti mengejarku! Maafkan aku, aku terpaksa membunuhnya
Tangan Arabella bergetar hebat dan efleks menjatuhkan kertas itu dari tangannya.