Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Mengunjungi Rumah Kediaman Korban


__ADS_3

"Aku.. aku sudah masuk Detektif, ma", jawab Arabella pelan.


Ibunya langsung menutup mulutnya terkejut.


"Kenapa... Kenapa kau tak minta izin dari mama dulu, Arabella?"


Arabella terdiam sejenak untuk menjawab nya.


"Karena.. aku tau ibu takkan mengizinkan nya", Arabella menjawab pelan.


Ibunya terdiam sejenak sambil menatap Arabella serius.


"Kau yakin dengan itu? Sejak kapan kau masuk detektif?"


"Sebulan lalu, ma"


"Apa alasanmu ingin jadi detektif?"


Lalu terjadi keheningan lagi.


"Ng.. karena memang ingin, ma. Mama tau kan dari dulu aku suka baca buku tentang detektif?"


"Iya, tapi kamu sendiri justru sering bilang pada mama bahwa jadi detektif itu merepotkan dan mengerikan. Itulah sebabnya mama terkejut kenapa kau tiba tiba sudah jadi detektif", jawab ibunya.


Wanita parubaya itu mendudukkan dirinya ke atas kasur.


"Mama hanya takut terjadi sesuatu yang buruk padamu. Kau tau kan? Menjadi detektif itu beresiko sekali", ujar wanita itu dengan nada lembut.


Walaupun selama ini tugas Arabella hanya wawancara dan mencari jejak si pembunuh di cctv, tapi tetap saja Arabella sering tidak bisa tidur memikirkannya.


Tapi ia sendiri tak bisa lepas dari detektif begitu saja. Ia sudah terikat perjanjian dengan Queen System. Lagipula, ia juga sudah jatuh cinta dengan tugasnya.


"Aku janji, ma, aku... aku akan baik baik saja"


"Siapa yang bisa menjamin itu?", tanya wanita parubaya itu dengan raut wajah sedih.


"Arabella, kau adalah anak tunggal. Kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu, ibu tak kan bisa memaafkan diri ibu sendiri", lanjut wanita itu yang membuat Arabella tertegun.


"Aku... aku tak akan mengecewakan mu, ma"


*


Saat pukul 2 siang, Arabella sedang bersiap siap untuk pergi mengunjungi toko kue nya. Tapi baru saja ia keluar dari kamarnya..


Drrtt.. drrtt..


Nael menelepon. Ia segera mengangkat telepon itu.


"Halo?"


"Arabella, kau sudah melihat jasad Edo?", tanya Nael di seberang sana.


"Belum. Memangnya ada apa?"


"Aku mau mengajakmu untuk ikut menelusuri awal pembunuhan di rumahnya , dan juga untuk mengetahui bagaimana proses otopsi nya"


"Ng... Otopsi? Nampaknya akan sangat mengerikan. Aku.."


"Bukan melihat proses otopsinya. Maksudku, supaya kau mengenal sedikit bagaimana itu proses otopsi", potong lelaki itu.


"Apa itu penting untuk detektif seperti kita?", tanya Arabella.


"Tentu saja"

__ADS_1


Arabella berfikir sejenak.


"Baiklah, aku akan pergi"


Setelah menutup telepon, Arabella membatalkan untuk pergi ke toko kue. Ia pun mencari taxi untuk pergi menemui Nael di kantor polisi utama.


*


Sesampainya di kantor polisi, Arabella langsung ditemui oleh beberapa orang detektif yang ia kenal. Vilia, Chriss , dan Nael. Juga tuan Steve dan tuan Hans.


"Kami membawa Vilia dan kau supaya kalian berdua bisa mengetahui, apa saja yang harus di cek pertama kali di dalam sebuah rumah yang diduga sebagai tempat pembunuhan", ujar Nael yang membuat Arabella merinding.


"Baiklah", ujar Arabella mencoba untuk semangat, walaupun sebenarnya ia sangat gemetaran. Ia takut diteror pembunuh itu karena mencoba menelusuri kasus ini.


"Jangan tremor, Arabella"


Arabella gelagapan ketika melihat Vilia yang tiba tiba sudah ada di belakangnya.


"Ng.. hehe, tidak kok"


"Baiklah, semuanya pergi ke mobil yang telah ditentukan. Kita akan berangkat segera", ujar tuan Steve yang berdiri agak jauh dari mereka.


Setelah aba aba itu, semuanya segera memasuki mobil masing masing.


*


Setelah perjalanan 5 menit melewati jalan kecil, kedua mobil yang dikendarai telah sampai di depan halaman sebuah rumah mungil.


"Ini rumah kediaman Edo?", tanya Arabella.


"Iya", jawab Nael sambil memberhentikan mobilnya.


Arabella dan Vilia saling pandang setelah melihat rumah itu.


Rumah itu tampak kosong. Di lihat dari luar jendela kacanya, tampak dari dalam sana begitu gelap.


Arabella dan Vilia mengangguk. Setelah lelaki itu perlahan membuka pintu mobil, Arabella dan Vilia juga ikut membuka pintu mobil. Lalu keduanya berjalan pelan mengikuti langkah kaki Nael.


Tuan Steve dengan tuan Hans juga melakukan hal yang sama. Mereka memegang sebuah pistol dan berjalan mengendap endap, melihat ke kanan dan kekiri seperti berjaga jaga jika tiba tiba ada seseorang yang menyerang. Mereka juga masing masing membawa sebuah tameng berwarna hitam sebagai pelindung.


"Pintu rumahnya terbuka", bisik tuan Steve setelah mereka semua sudah berada di dekat pintu depan.


Tuan Steve memberi kode agar tidak ada yang membuka suara. Tuan steve mengarahkan tamengnya ke depan, lalu dengan tangan kanannya, ia mendorong pintu dengan cepat.


Setelah memeriksa ke dalam bahwa tidak ada siapapun, Nael, tuan Hans, dan yang lainnya segera masuk ke dalam rumah tersebut.


Arabella langsung merasakan hawa dingin yang membuat tubuh merinding saat memasuki pintu tersebut.


"Sangat gelap", bisik Arabella pada Vilia.


"Itu karena semua lampunya mati", jawab Vilia


"Oh, ya, benar , aku baru sadar", ujar Arabella.


"Sebaiknya kita nyalakan saja lampunya, untuk mempermudah penyelidikan. Disini sangat gelap", ujar tuan Hans yang diangguki oleh tuan Steve.


Tuan Hans pun segera menyalakan tombol lampu terdekat.


Ketika dua lampu menyala, Arabella terkejut melihat ada banyak bercak darah di lantai. Bercak darah itu lebih tepatnya berada sekitar tiga meter di belakang sofa ruang tamu.


Nael mendekati bercak darah tersebut. Ia memperhatikan semua bercak darah yang ada disitu. Ternyata bercak darah juga ada di dinding. Di dinding, terlihat sebuah cakaran berwarna merah. Tentunya itu darah.


Selain itu, di dinding juga disenderkan sebuah kain pel. Ada banyak warna merah pada kain pel nya yang berwarna putih itu. Arabella berfikir kalau kain pel itu bekas si pembunuh mengepel darah si korban sedikit.

__ADS_1


Setelah selesai memperhatikan bercak darah itu, Nael beralih melihat ke ruang tv yang jaraknya hanya dia meter dari bercak darah tadi.


Setelah mengecek ngecek disana, Nael berjalan mendekati Arabella dan Vilia yang sejak tadi masih diam di tempat.


"Menurut kalian berdua, apa saja benda di ruangan ini yang mungkin meninggalkan sidik jari?", tanya Nael.


"Hm.. gagang kain pel itu?", tanya Arabella.


"Gelas disitu? Aku lihat seperti ada bercak darah juga di gelas depan sofa itu", lanjut Vilia.


"Jawaban kalian berdua benar. Aku akan cek satu persatu", ujar Nael sambil berjalan menuju pel yang disenderkan di dinding dekat bercak darah tadi.


Nael memperhatikan pel itu dari kejauhan terlebih dahulu, seperti tengah mencari cari keanehan dari situ. Ia lalu berjongkok dan alisnya berkerut ketika menemukan sebuah kertas kecil yang diselipkan di kain pel itu.


"Ada surat..", ujar Arabella yang baru menyadari itu.


Nael segera mengambil surat itu. Di situ, terlihat tulisan tegak bersambung, tulisan yang sudah sangat dikenal oleh Arabella.


Aku sengaja meninggalkan sidik jariku supaya polisi bodoh seperti kalian bisa cepat menemukanku. Sidik jariku ada di mana mana! Sekarang cari lah aku!


Arabella yang ikut membacanya meneguk saliva karena mulai ketakutan. Si pembunuh seakan akan tau kalau mereka tidak ada berhenti mencari. Arabella merasa si pembunuh sudah sangat mengenal mereka semua, termasuk dirinya.


"Nampaknya korban di bunuh di tempat ini, lalu di pindahkan ke ruangan kosong di kampus itu", ujar tuan Hans pada Nael.


Arabella juga berfikir seperti itu. Karena menurutnya, tak mungkin di rumah Edo ada darah sebanyak ini kalau bukan ini ialah darah Edo yang dibunuh.


"Saya juga berfikir begitu. Karena yang kami lihat ketika sampai di ruang kelas itu, jasad korban sudah tampak mengering. Tidak ada bercak darah disitu", lanjut tuan Steve.


Nael mengangguk angguk faham.


"Apa tidak ada pisau atau benda tajam yang tertinggal di tempat ini tuan?"


"Tidak ada"


Setelah itu, Nael bangkit berdiri dan menyimpan surat tadi ke dalam saku bajunya.


"Jadi setelah mengecek sidik jari, kita akan segera pergi ke tempat otopsi?", tanya Nael.


"Sepertinya hanya itu yang bisa kita lakukan kali ini. Karena tak ada jejak lain yang tersisa", jawab tuan Steve.


Selagi tuan Steve dan Nael berbincang bincang, Arabella berjalan jalan kecil untuk melihat sekeliling ruang tv.


Tv nya tidak menyala. Ada beberapa bekas tumpahan keripik kentang di lantai dan di meja depan sofa. Arabella lalu menemukan sebuah kotak kecil di atas sofa. Sebuah kotak kado.


Arabella mengernyit kan dahi heran, lalu mendekati kotak tersebut. Ada sebuah kertas kecil di atasnya. Tulisan tegak bersambung.


Sebuah suprise kecil untuk polisi dan Detektif bodoh seperti kalian


Arabella mengepalkan tangannya karena geram membaca isi tulisan tersebut.


"Nael, ada sebuah kotak hadiah disini", panggil Arabella pelan.


Lelaki itu mendekati sofa. Tuan Steve dan tuan Hans juga menyusul. Ketika Nael membuka kotak tersebut, Arabella langsung menutup matanya dengan tangannya.


Ada potongan hari di dalam kota itu. Bercak darah juga banyak sekali.


"Ini gila..", ujar Vilia. Gadis itu juga masih menutup matanya dengan tangannya.


Arabella mencoba membuka matanya perlahan, memberanikan diri untuk melihat potongan jari tersebut.


"Ada surat lagi disini", ujar Nael lalu mengambil surat kecil yang diselipkan di bagian potongan jari disitu. Nael mengambilnya dengan santai, wajahnya pun tetap dingin, tidak terlihat takut sama sekali.


Arabella mencoba melihat dari dekat, dan ikut melihat isi surat yang sedikit terkena bercak darah tersebut.

__ADS_1


Isinya ialah hanya tulisan singkat, dengan tulisan tegak bersambung yang sudah sangat mereka kenali. Tapi kali ini, si pembunuh menggambar sebuah emoji senyum di akhir kalimat.


Cepat temukan aku, sebelum aku yang menemukan kalian :)


__ADS_2