Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Mencari Lowongan Pekerjaan


__ADS_3

2 hari kemudian..


Di pagi yang cerah, tepatnya di area lapangan basket kampus, terlihat beberapa pria yang sedang sibuk bermain basket. Mereka semua tak lain adalah anggota Richard. Lelaki itu juga ada disana, tengah duduk santai di area penonton. Tak perlu ia lelah lelah bermain basket, hanya dengan mengibaskan rambutnya saja, para gadis sudah berteriak heboh melihat pesonanya.


Setelah beberapa saat kemudian, tepatnya setelah para anggotanya selesai berlatih, mereka semua berkumpul didepan Richard.


Sambil berkipas kipas akibat matahari yang mulai terik, Richard mengambil botol minum yang ada disampingnya. Ketika ia meneguk botol tersebut, ia agak tersedak ketika melihat seorang gadis bertubuh gemuk yang sekilas lewat di depan pintu masuk lapangan basket.


"Apa itu tadi Arabella?", tanya Richard entah pada siapa.


"Sepertinya iya", jawab salah seorang temannya.


"Hm.. ", Richard bergumam entah memikirkan apa. Matanya fokus mengikuti langkah gadis itu yang tengah berjalan mengekori seorang gadis berambut cokelat panjang yang ada didepannya.


"Kau sedang memikirkan apa?", tanya Brandon tiba tiba.


"Hm.. aku hanya heran, kenapa gadis menyebalkan itu tidak mengejar ngejarku lagi?"


"Pfft!", Brandon menahan tertawa mendengar jawaban dari temannya itu.


"Kan sudah menolaknya, tentu saja dia menjauh"


Richard menaikkan sebelah alisnya, "Tapi dia pernah mengatakan padaku bahwa ia akan terus mengejarku kalau aku menolaknya", entah kenapa tiba tiba Richard berkata polos.


"Dan lagi pula, hampir semua wanita yang pernah kujumpai begitu"


"Hahahah.. dia tidak sebodoh itu, Richard", ujar Brandon. Richard langsung memberi tatapan datar ke arah Brandon.


"Hei? Kenapa kau jadi membelanya?"


"Aku bukan membelanya. Aku hanya merasa kau berfikir kalau semua wanita yang menyukaimu akan mengejar mu sampai mati. Tidak semuanya seperti itu, dan Arabella adalah salah satunya", jawab Brandon.


Kata kata Brandon membuat Richard terfikir sejenak. Sebenarnya, apa yang dikatakan Brandon itu benar. Sejak SMP, Richard memang selalu jadi incaran para siswi. Jumlah siswi yang mengejarnya pun tak terhitung jari, mulai dari jari jempol hingga hari kaki. Saat dia masih kelas tujuh pun, sudah banyak kakak kelas yang ingin berkenalan dengannya. Banyak gadis yang... terlalu mengejarnya.


Hingga SMA pun masih terjadi seperti itu, malah lebih parah. Richard teringat saat dia pertama kali masuk SMA, saat di barisan, ada banyak kakak kelas perempuan yang mencubit pipinya dan mengatainya tampan. Ew, menggelikan fikir Richard. Bukan hanya itu, kakak kelas yang memberikannya surat cinta juga banyaknya bukan main, sampai sampai di tanyai oleh guru BK. Richard bisa dengan mudah mendapatkan hati gadis gadis jomblo, sempat ia terfikir seperti itu karena saking banyaknya gadis yang mudah kelepek kelepek padanya.


Tapi, kali ini, ia menemukan sosok wanita yang berbeda. Arabella. Iya, gadis itu awalnya memang tampak mengejar nya mati matian. Tapi setelah Richard memberikan satu kalimat menohok pada gadis itu, gadis itu tidak pernah mengejarnya lagi. Sama sekali tidak mengejarnya lagi.


Dan itu membuat Richard bertanya tanya.

__ADS_1


Astaga, kenapa aku malah memikirkannya seperti ini?, gumam Richard dalam hatinya. Ia lalu memijat kepalanya pelan.


"Hei Richard, omong omong, kau mau dikejar kejar lagi olehnya? Seperti waktu itu?", tanya Brandon memecah lamunan. Pertanyaan itu berhasil membuat Richard terdiam.


"Tidak"


"Oh sungguh?"


"Hei, tentu saja!"


"Oh, baiklah"


Bug!


Richard dan Brandon langsung menoleh ke arah sosok yang melempar bola basket ke arah mereka barusan. Sosok lelaki tampan bertubuh tinggi berambut cepak dengan almameter coklat menandakan fakultas hukum.


"Kau cari masalah, huh?", tanya Richard yang tiba tiba terbawa emosi.


"Kau juga sering melempar wajahku dengan bola", Nael menjawab dengan wajah datar.


Lelaki itu berjalan mendekati anggota Richard, dan mengambil bola basket yang ia lemparkan ke arah mereka tadi, "Kau mau bertanding denganku?"


Melihat ketua mereka berdiri, Brandon dan juga empat orang lainnya ikut berdiri. Mereka berenam menatap ke arah Nael dengan tatapan yang tidak mengenakkan, tapi lelaki itu tidak peduli. Ia tetap memasang wajah datar.


"Segera panggil anggotamu!", ujar Richard. Nael menggeleng.


"Denganku. Kau bertanding denganku. Hanya kita"


Tanpa menjelaskan apapun lagi, Richard langsung faham pertandingan seperti apa yang dimaksud lelaki itu.


"Hahah, baiklah", Richard dengan percaya diri langsung berjalan menuju area lapangan dan mengambil bola basket dari tangan Nael.


"Oh, tunggu", ucap Richard tiba tiba, "Apa kau pernah menitipkan setangkai bunga pada Arabella?"


Nael yang masih memasang wajah datar, Refleks mengernyit heran, "Aku fikir itu kau"


"Kau tau tentang itu?"


Nael berdecak, "Ck, gadis itu sudah menceritakannya padaku. Lagipula, hanya setangkai bunga. Untuk apa kita perlu mencari tau?"

__ADS_1


Richard mengangguk anggukan kepalanya. Benar juga apa yang dikatakan lelaki itu, untuk apa Richard sangat ingin tau tentang gadis itu?


*


Arabella baru saja memasuki kelasnya setelah menemani Rachel, temannya itu ke toilet tadi. Gadis itu langsung membuka tasnya dan membaca kembali isi surat yang dititipkan padanya semalam. Kepalanya masih bertanya tanya. Bahkan hingga tadi malam, ia masih tidak bisa tidur hanya karena surat itu. Arabella merasa diteror seseorang.


"Wah.. kau dapat surat cinta?", tanya Rachel tiba tiba. Gadis berambut coklat panjang itu langsung duduk di sebelah Arabella tanpa permisi.


"Bukan, ini surat mengerikan tau!", jawab Arabella polos.


Rachel tidak berniat menanyakan apapun tentang surat itu, menurutnya paling itu surat izin sakit dari seorang mahasiswa lain.


"Omong omong, Rachel, kau sudah punya pekerjaan sampingan belum?", tanya Arabella mengubah topik.


"Belum. Memangnya kenapa?"


"Hm.. aku berniat untuk mencari pekerjaan sampingan. Agar aku bisa mendapatkan uang dan pergi mengunjungi rumah ibuku", jawab Arabella. Sebenarnya tanpa harus mencari pekerjaan sampingan pun Arabella bisa melakukan nya. Uang yang ia dapatkan dari Queen System cukup banyak. Tapi tentunya ibunya akan menanyainya tentang darimana ia mendapatkan semua uang itu.


"Hm.. aku pernah lihat lowongan koki di restoran Gorya"


Arabella membulatkan matanya, "Wah, sungguh?"


"Iya."


Arabella tersenyum senang. Cukup bagus menurutnya, karena restoran Gorya itu tidak terlalu jauh dari rumah sewanya, dan lagipula, restoran itu selalu penuh dengan pelanggan. Gaji disana pasti lumayan.


"Tapi kau tau apa yang lebih menyenangkan? Itu temapt Richard bekerja juga, jadi kau bisa semakin dekat dengannya juga. Benar kan?", tanya Rachel sambil terkikik kecil. Senyum Arabella memudar seketika.


"Ck, Rachel, aku tidak pernah memikirkan lelaki itu lagi, tau?", Arabella tampak kesal.


"Wah, sungguh? Kau sudah melupakan nya? Bagaimana bisa secepat itu?", tanya Rachel sambil terkekeh.


"Ck. Sudah ah, jangan bahas itu lagi. Apa kau punya usul lain, Rachel?", tanya Arabella mencoba mengubah topik.


Rachel berfikir sejenak. Cukup lama ia untuk mengingat ingat nama dan letak restoran yang pernah ia lihat bahwa restoran itu tengah membuka lowongan pekerjaan. Setelah mengingat salah satu nama restoran tersebut, ia langsung membuka suara seakan akan baru saja menemukan ide yang luar biasa, "Nah, aku baru ingat! Ada sebuah restoran yang pasti kau suka!"


Arabella mengernyitkan dahinya, "Aku suka?"


"Iya..", Rachel menjeda kalimatnya sejenak, "Setelah pulang kampus ini aku akan langsung mengantar mu kesana"

__ADS_1


__ADS_2