
Ketika waktu pulang sekolah tiba, Arabella, Angel, Vino, Rachel dan Feny segera pergi mencari taxi untuk pergi ke kantor polisi tujuan mereka.
Ketika sampai di halaman depan kantor polisi utama New York, satu persatu turun dari taxi, lalu berjalan menuju pagar masuk.
Arabella sebenarnya sudah minta izin dulu dengan tuan Steve. Jadi sebab itulah ketika mereka menghampiri petugas penjaga gerbang, petugas itu langsung membukakan gerbang untuk mereka.
Ketika berhasil memasuki gerbang, mereka semua terdiam sejenak melihat sudah ada dua orang lelaki bertubuh tinggi besar yang berdiri di area depan pintu masuk kantor polisi.
Ada tuan Steve yang masih mengenakan pakaian seragam polisi, sedangkan di sebelah kirinya ada Nael yang mengenakan jaket hitam tebal, topi hitam, kaca mata hitam, dan janggut tebal. Tentu pakaian dan janggut yang dipakai Nael itu hanya palsu, semata mata untuk menutupi wajah dan bentuk tubuh aslinya.
"Permisi tuan, kami mahasiswa dari Columbia university, kami mendapat tugas untuk melakukan wawancara kepada seorang polisi atau seorang detektif. Apa kami diizinkan untuk mewawancarai salah seorang detektif disini atas kasus kematian tuan Vano?", tanya Angel pada tuan Steve dengan menunduk sedikit sebagai tanda hormat.
"Iya, diizinkan. Saya juga masih mengingat kalian. Kalian yang kemarin juga datang kesini kan?", tanya tuan Steve.
"Iya, benar tuan. Terimakasih atas izinnya", ujar Angel dengan senyum kecil. Kemudian pandangan Angel beralih pada sosok lelaki berjanggut tebal yang berdiri di sebelah kiri tuan Steve itu.
"Oh iya, omong omong, apakah anda seorang detektif, tuan?", tanya Angel.
"Oh.. dia bukan detektif, dia seorang psikolog", tuan Steve yang menjawab.
Angel, Vino, Rachel dan Feny mengangguk angguk. Arabella juga ikut mengangg angguk walaupun ia tau yang dikatakan tuan Steve itu tidak benar.
"Oh, kalau begitu, kami mewawancarai anda saja, tuan. Anda seorang polisi disini kan?", tanya Angel.
"Iya, benar. Ya sudah, kalian wawancarai saya saja, tidak masalah", ujar tuan Steve.
Angel segera mengeluarkan sebuah kamera digital kecil dari tas nya, lalu memberikannya pada Vino.
__ADS_1
"Kau yang rekam ya", ujar Angel. Setelah vino mengambil kamera digital itu, Arabella, Feny, dan Rachel langsung mengambil posisi yang tepat agar mereka semua juga bisa ikut masuk kamera.
Saat Arabella, Feny, dan Rachel hendak mengambil posisi dekat tuan Steve, Nael segera pergi dari posisi nya tadi. Tapi saat baru saja melewati tuan Steve..
Jenggot palsunya jatuh!
Arabella langsung menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak kaget. Iya, terkadang Arabella memang selebay itu kalau terkejut.
Untungnya saat janggut palsunya jatuh, Nael langsung menundukkan kepala dan mengambil janggutnya itu tanpa membuat wajahnya terekspos sedikitpun. Setelah mengambil janggut palsunya itu, Nael langsung memakainya kembali lalu berjalan pergi melewati mereka semua dengan santai.
"Ng.. k-kenapa lelaki itu memakai janggut palsu , tuan?", Angel dengan beraninya bertanya hal tersebut pada tuan Steve.
"Oh, biarkan menjadi urusan dia. Mungkin dia sedang punya jerawat penuh di dagunya sehingga ia menutupinya dengan janggut palsu", jawab tuan Steve.
Arabella segera menahan tawanya. Dia bahkan heran melihat tuan Steve yang mengatakan kalimat tersebut dengan santai tanpa tertawa sedikit pun, malah wajahnya terlihat serius.
Angel lalu memberi kode kepada Vino untuk menyalakan kamera. Mereka pun segera melakukan wawancara.
*
"Terimakasih atas waktunya untuk wawancara, tuan", ujar Angel setelah mereka semua selesai melakukan wawancara.
"Sama sama", jawab tuan Steve.
Angel lalu menoleh ke arah Arabella, Vino dan yang lainnya.
"Oke, ayo kita pulang", ujar Angel. Vino dan yang lainnya mengangguk, lalu berjalan keluar dari gerbang kantor polisi.
__ADS_1
Saat Arabella baru saja melangkahkan kakinya keluar dari gerbang, tiba tiba handphone nya berdering.
Drtt.. drtt..
Ia segera mengangkat telepon nya lalu mendekatkan nya ke telinganya.
"Halo?"
"Arabella! Kau kemana saja?! Aku mencari mu dari tadi!"
Terdengar suara bentakan dari seberang sana, membuat Arabella langsung membulatkan matanya. Ia langsung teringat akan sesuatu.
"M-maaf, tuan Andrew. Tadi.. ada tugas kelompok, jadi aku langsung pergi tanpa mengabarkanmu"
"Baiklah, kau ada dimana sekarang?", tanya Andrew.
"Kantor polisi utama ", jawab Arabella agak takut. Tidak ada jawaban dari Andrew selama beberapa detik.
"Kau sedang kerja kelompok atau memang hendak bertemu dengan lelaki detektif itu?", tanya Andrew.
"Tidak, tuan, tidak. Aku memang sedang kerja kelompok untuk tugas wawancara disini", jawab Arabella berusaha meyakinkan lelaki itu.
"Baiklah, tunggu disana. Aku jemput "
Telepon lalu dimatikan.
Arabella menghela nafas pasrah.
__ADS_1