
Awalnya aku tak berniat untuk membunuh lelaki itu. Dia tidak termasuk list orang yang akan kubunuh. Tapi dia sangat menyebalkan! Dia tidak mau berhenti mengejarku! Maafkan aku, aku terpaksa membunuhnya
Tangan Arabella bergetar hebat dan efleks menjatuhkan kertas itu dari tangannya.
"Pembunuh itu..", Arabella menjeda kalimatnya.
"Pasti ia masih di sekitar sini!", lanjut Arabella. Kemudian ia segera berlari masuk ke dalam untuk menemui Vino.
"Vino, apa kau ada sepeda motor? Kalau ada boleh aku pinjam?", tanya Arabella cepat.
Vino, Angel, Rachel dan Feny yang tadinya masih tertawa tawa didepan tv segera menoleh ke arah Arabella.
"Kenapa kau terlihat panik? Ada apa?", Vino malah menanyakan hal lain.
"Vino, cepatlah, aku buru buru, ini sangat penting!"
"Baiklah, keretaku ada di depan garasi. Kuncinya ambil di situ", jawab Vino sambil menunjuk ke arah tempat menggantung kunci yang ditempelkan di dinding.
Ada satu kunci yang digantung disitu, jadi tanpa basa basi Arabella langsung mengambil nya lalu berlari keluar rumah. Setelah melihat sebuah motor di depan pintu garasi, Arabella segera memasukkan kunci motor yang diambilnya tadi lalu menyalakan motornya.
Tapi sebelum pergi, Arabella teringat sesuatu.
"Hm.. sebaiknya aku tanyakan dulu kepada orang orang disini", ujar Arabella.
Ia melihat kedua rumah yang ada didepan rumah Vino sedang kosong. Jadi ia melajukan motornya perlahan ke rumah besar yang tepat bersebelahan dengan rumah Vino. Ada seorang wanita parubaya yang sedang menyapu area pintu masuk gerbang rumahnya. Arabella segera menghampiri wanita itu.
"Nyonya, apakah tadi anda ada melihat seseorang berjalan ke arah rumah ini? Entah menggunakan mobil, entah motor, intinya apakah anda ada melihat seseorang menghampiri rumah ini?", tanya Arabella sambil menunjuk ke arah rumah Vino.
"Ohh, barusan saja saya lihat seorang lelaki naik motor ninja hitam berhenti didepan pagar rumah itu. Dia berhenti sebentar, masuk ke dalam pagar rumah sebentar, lalu pergi.", jawab wanita parubaya itu dengan raut wajah serius.
__ADS_1
"Terkahir kali anda melihat dia pergi ke arah mana?", tanya Arabella.
"Kesana, nona", wanita itu menunjuk ke arah kiri.
Arabella langsung terfikir bahwa si pembunuh itu pasti langsung keluar dari gerbang masuk komplek. Karena jalan yang ditunjuk oleh wanita tadi adalah jalan menuju gerbang masuk komplek.
Walaupun di area jalan yang ditunjuk wanita tadi ada banyak rumah, tapi rasanya tidak mungkin kalau si pembunuh itu tinggal di komplek ini. Tidak mungkin.
Arabella kembali naik ke atas motornya dan melakukannya secepat mungkin. Ketika sudah sampai di gerbang masuk komplek, langkahnya terhenti sebentar. Ada dua arah jalan.
Ia melihat ke arah kanan dan kiri. Dia tidak melihat adanya motor ninja hitam. Arabella langsung bertanya pada petugas penjaga gerbang.
"Permisi tuan, apakah anda ada melihat sebuah motor ninja hitam masuk ke komplek ini tadi?", tanya Arabella.
"Oh, iya, ada nona", jawab si petugas itu.
"Kemana dia keluar, tuan? Apakah anda melihat dia pergi ke arah mana?", tanya Arabella.
"Baiklah, terimakasih tuan", ucap Arabella cepat. Lalu ia segera melajukan motornya dengan cepat ke arah jalan kanan. Selama di atas motor, matanya juga melihat kesana kemari untuk melihat motor ninja hitam.
Tidak ada.
Hingga setelah melaju selama satu menit, Arabella terhenti karena ia menemukan perempatan jalan. Dan ada ramai sekali kendaraan lewat disini, tentu membuat Arabella makin kesulitan untuk mencarinya.
Ia menghela nafas panjang.
Dan tanpa berfikir panjang lagi, ia langsung menanyai satu persatu kedai yang ada di sudut setiap jalan. Menanyai apakah mereka memiliki cctv yang berhadapan langsung dengan jalan raya atau tidak.
Ternyata semua kedai di daerah sini tidak memiliki CCTV. Arabella berdecak kesal. Seandainya salah satu kedai disini ada CCTV, dan ia melihat sebuah motor ninja hitam di rekaman CCTV itu, tentu Arabella akan terus melanjutkan pencariannya.
__ADS_1
Kini dia bingung harus berbuat apa.
"Lelaki itu cepat sekali.", ujar Arabella seorang diri.
Karena tak ada pilihan lain, jadi Arabella memilih untuk kembali ke rumah Vino. Tapi saat ia baru saja sampai di gerbang masuk komplek, ia menemukan Nael baru saja turun dari sebuah taxi.
Arabella langsung menghampiri lelaki itu dengan motornya.
"Nael? Ada apa kesini?"
"Aku ingin mengambil tas milik Vano di rumahnya. Kau? Sedang apa kesini?"
"Hanya untuk mengunjungi Vino", jawab Arabella.
Lalu mereka berdua terdiam sejenak.
"Oh, maaf, aku sedang buru buru. Setelah ini aku harus langsung ke kantor polisi. Boleh aku menumpang di atas motormu?", tanya Nael to the point.
"Eh..ta-tapi.."
"Tapi apa?"
"Oh, aku mau bertanya, memangnya apa yang mau dicari dari tas tuan Vano? Apa ada sebuah rekaman atau sesuatu?"
"Iya, tentang sosok di balik tewasnya Vano", jawab Nael yang membuat Arabella mengernyitkan dahinya.
"Maksudmu?"
"Vano diduga tewas bukan karena tabrak lari biasa", Nael menjeda.
__ADS_1
"Dia dibunuh"