Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Sebuah Telepon


__ADS_3

Ketika sore tiba, Arabella baru pulang ke rumah kosnya. Sekitar pukul 4 sore. Setelah selesai mandi dan memakai skincare ala ala nya, ia seperti biasa, merebahkan dirinya ke atas tempat tidur dan membaca buku novel detektif nya.


[ Ding! ]


Tiba tiba terdengar notifikasi dari Queen System.


[ Nona, kami hanya ingin mengingatkan tentang misi kelima dan keenam anda ]


"Tenang lah, tuan sistem. Aku sangat mengingat tentang misi itu, karena misi itu ialah misi yang paling mengerikan bagiku. Aku takkan melupakan nya", ujar Arabella.


[ Baiklah nona ]


Setelah itu tak ada jawaban lagi dari Queen System. Arabella pun kembali melanjutkan baca bukunya.


Drrtt.. drrtt..


Telepon yang ia letakkan di atas meja belajar berbunyi. Nael menelepon lagi.


Arabella teringat kalau telepon nya dengan lelaki tadi terhenti. Arabella pun segera mengangkat telepon itu.


"Halo?", Arabella memulai percakapan.


"Arabella, bagaimana selanjutnya pencarian kalian tadi?", tanya lelaki itu.


"Kami terhenti di jalan raya besar, Nael. Kami hanya mengecek cctv di perpisahan jalan yang tak jauh dari gerbang komplek rumah Vino itu"


"Hm.. baiklah. Kapan kapan kalau kau bisa, aku ingin kau melanjutkan pencarian CCTV sampai ke area jalan raya.", ujar Nael tanpa basa basi.


Arabella menguk salivanya.


Nampaknya pekerjaan ini akan semakin berat, gumam Arabella dalam hati.


"Aku akan mencoba nya", ujar Arabella.


"Bagus", ujar Nael.


"Oh, ya. Tadi saat telepon yang kau matikan tiba tiba, kau ingin menanyakan apa?", tanya Nael.


Arabella menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Eh? Kau belum mendengarnya pertanyaan nya?", tanya Arabella.


"Belum, aku hanya mendengar suaramu samar samar, setelah itu kau tiba tiba menutup telepon ", jelas lelaki itu.


"Ng.. aku.. tadi aku bertanya tentang perempuan ", ujar Arabella pelan. Nael terdiam beberapa detik di ujung sana.


"Perempuan?", tanya Nael heran.


"Iya. Maksudku.. perempuan seperti apa yang kau sukai?", tanya Arabella cepat.


Tapi sebelum Nael menjawab, Arabella menyambung lagi.


"Oh, omong omong, itu pertanyaan bukan dari ku, tapi dari orang lain", ujar Arabella cepat.


"Dari siapa?"


"Ng.. tentu saja aku tidak bisa mengatakannya", ujar Arabella.


Nael terdiam selama beberapa detik. Karena lelaki itu diam, Arabella pun hanya diam menunggu jawabannya.


"Kau"


Hah?


Tuut..


Tiba tiba telepon ditutup oleh Nael. Arabella mengernyitkan dahi heran, lalu mencoba mengartikan maksud dari ucapan lelaki itu tadi.


"Tadi dia bilang apa ya?", tanya Arabella seorang diri. Tapi karena tidak terlalu penasaran, ia hanya menaruh hp nya kembali ke atas meja, dan melanjutkan baca bukunya.


*


Malam pukul 12..


Arabella sudah tertidur di kamarnya dengan sebuah buku novel tergeletak asal di sebelah bantalnya.


Drrtt... Drrtt..


Arabella refleks membuka matanya.

__ADS_1


Drrtt... Drrtt..


"Ya ampun, siapa pula yang menelepon ku tengah malam begini?", tanya Arabella seorang diri.


Dengan mata yang masih terkantuk kantuk, ia segera bangkit dari tempat tidur, lalu dengan terkantuk kantuk juga, ia berjalan menuju meja belajar dimana ia menaruh hp nya.


Tertera sebuah nomor tak dikenal.


Drrtt.. drrtt..


Telepon masih menyala.


Arabella ragu untuk mengangkatnya, karena ia merasa ini aneh sekali. Untuk apa ada orang menelepon saat tengah malam begini?


Tapi ujungnya, Arabella mengangkat telepon itu. Ia mendekatkan telepon ke telinganya.


Yang pertama terdengar adalah suara desah nafas baraton seorang lelaki.


Selama beberapa detik, tidak muncul suara.


"Pasti orang usil", ujar Arabella kuat, dia sengaja menguatkan suaranya supaya si penelepon mendengarnya.


"Kau..."


Arabella membeku sejenak mendengar suara dari seberang sana. Suara baraton lelaki yang terdengar mengerikan.


Jantungnya tiba tiba berdegup cepat. Ia langsung teringat sesuatu.


Apa ini si pembunuh?, astaga, kenapa otakku malah terfikir kesana?, tanya Arabella dalam hati.


Ia cepat cepat membuka rekam layar untuk merekam suara itu selanjutnya.


"Kau datanglah besok ke kampus pukul 06.45. Akan ada sebuah kejutan"


Tuut..


Telepon langsung dimatikan oleh si penelepon.


Arabella refleks menjatuhkan hp nya ke atas meja. Tangannya gemetar.

__ADS_1


"Apa itu tadi..", Arabella mencoba untuk tidak berfikiran buruk. Tapi..


"Tidak salah lagi. Itu pasti si pembunuh"


__ADS_2