Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Jam Tangan Yang Terjual


__ADS_3

"Arabella?", Andrew bertanya seorang diri dengan nada terbata.


Ketika matanya melihat gadis itu keluar dari ruangan, ia segera bangkit dan melesat pergi untuk mengejar gadis itu.


"Tuan Andrew, kau mau kemana?!", tanya salah satu wanita cantik yang ada di sebelah nya tadi. Tapi Andrew tidak menjawab apapun, ataupun menoleh kebelakang.


Ia berlari mengejar Arabella, sampai akhirnya ia berada didepan pintu ruangan olahraga khusus anak anak, langkahnya terhenti. Ia terhenti melihat gadis yang hendak ia kejar tadi ternyata sedang bermain hulahup di depan banyak anak kecil.


Menyadari ada seseorang didepan pintu, Arabella menoleh.


"Eh?", tanya Arabella terkejut, hulahup yang berputar putar di pinggangnya tadi langsung jatuh ke lantai.


"Arabella.. kau.."


"Tuan! Stop! Jangan melewati batas itu!", pekik Arabella sambil menunjuk ke arah batas lantai luar dengan dalam ruangan.


"Memangnya kenapa?", tanya Andrew heran.


"Tuan, di luar pintu ada tulisan 'Lelaki di larang masuk' ", jelas Arabella, membuat lelaki itu langsung mundur selangkah.


"Tapi, aku ingin bicara padamu"


Arabella menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bicara apa, om?"


Andrew menghela nafas pelan, ia bingung bagaimana harus berbicara pada gadis itu karena jarak mereka saat ini bisa terbilang cukup jauh, apalagi dia tidak diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan. "Baiklah, pertama, jangan panggil aku om, panggil aku tuan Andrew"


Arabella mengangguk mantap. Sebenarnya lelaki itu sudah pernah mengatak itu padanya, tapi kadang Arabella suka lupa, "Baik tuan Andrew!"


"Yang kedua, ng.. aku.. hanya ingin mengatakan bahwa apa yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau fikirkan", lanjut Andrew.


Arabella mengernyitkan dahinya karena tak mudeng dengan kalimat itu, "Boleh di ulangi, om? Oh.. maksud saya, tuan Andrew?"


Andrew menarik nafas panjang, "Yang kau lihat tadi, tidak seperti yang kau fikirkan. Aku bukanlah lelaki playboy seperti yang kau ucapkan tadi"


"Eh? Tuan mendengar nya?", tanya Arabella malu. Tadi ia sempat mengucapkan kalimat 'Lelaki playboy' dengan suara pelan. Ia tak menyangka kalau Lelaki itu akan mendengarnya.


"Iya, aku mendengarnya. Dan maksudku, aku tak ingin kalau kau berfikir kalau aku adalah lelaki playboy. Tadi aku dikelilingi para wanita karena mereka memintaku untuk mengajari mereka bagaimana cara mengangkat barbel"


Arabella menggaruk kepalanya lagi karena keheranan, "Bukannya itu sama saja ya?", tanyanya polos.


"Tidak Arabella, itu tidak sama. Percayalah padaku"


Arabella bisa melihat raut serius di wajah lelaki yang berada tak jauh darinya itu, tapi ia bertanya tanya tentang apa alasan lelaki itu yang tiba tiba membicarakan tentang hal tadi padanya. Padahal Arabella tak menanyakan apapun, dan tidak ingin tau apapun.


Tuan Andrew berkata seakan aku adalah pacarnya. Hm.. , gumam Arabella dalam hati.


"Baiklah tuan, saya mengerti"


"Baguslah", ujar lelaki itu. Setelah lelaki itu pergi, Arabella kembali menoleh ke arah anak anak yang ternyata dari tadi menatap ke arahnya dan menonton percakapan mereka.

__ADS_1


"Laki laki tampan tadi pacar kakak ya?", tanya salah seorang anak lelaki dengan polos. Arabella terkejut batin dan menggeleng cepat, "Tidak kok, bukan"


Anak kecil tadi mengangguk angguk.


Arabella mengalihkan perhatiannya dari anak anak kecil tadi sesaat karena mereka semua langsung sibuk bermain.


Ia tadi sempat melihat ke arah jam tangan hitam di pergelangan tangan lelaki tadi. Jam yang sama dengannya. Jam mereka yang sama itu disadari oleh wanita cantik yang ia temui di restoran semalam, dan terjadi perdebatan kecil.


Arabella melirik ke arah jam tangannya, "Apa aku harus jual jam tangan ini saja ya?", gumamnya seorang diri. Ia terdiam beberapa saat menatapi jam tangan indah pemberian dari Queen System itu. Ada rasa tidak tega dalam hatinya untuk menjual benda cantik itu, tapi ia juga merasa kalau jam itu bisa membuat kesalahfahaman.


"Hm.. sebaiknya begitu", lanjut nya dengan nada mantap.


*


Arabella baru saja sampai di sebuah toko jual beli jam tangan. Toko yang cukup ramai. Setelah memasuki pintu toko, ia segera mencari pelayan toko untuk menjual jam tangannya tersebut.


"Halo, tuan, saya ingin menjual jam tangan saya", ujar Arabella pada salah seorang pelayan toko yang sedang duduk di dekat lemari kaca tempat penyimpanan jam tangan.


"Oh baiklah, nona, bisa kami lihat barangnya?", tanya pria itu.


Arabella segera melepaskan jam tangannya dan menyodorkan nya pada pria itu, "Ini tuan"


Pria itu mengambil jam tersebut dan melihat lihat nya sejenak, "Sebentar ya nona, saya akan mengecek barang ini di dalam"


Arabella mengangguk. Lelaki tadi pun pergi menuju ruangan tempat penjualan jam. Beberapa saat kemudian, lelaki itu kembali lagi dengan jam tangan tadi yang masih ada di genggamannya.


"Nona, menurut perkiraan kami, jam ini bisa dijual seharga 3000 dollar ( 44 juta rupiah ) ", ujar pria itu.


"Benar, nyonya", jawab lelaki itu. Arabella tersenyum lebar, ia tak menyangka kalau harga jam tangan pemberian tuan sistemnya akan semahal itu. Harga setinggi itu sudah bisa membiayai uang makannya selama satu tahun.


"Baiklah, saya terima", ujar Arabella mantap.


*


Sesampai nya di rumah sewanya, Arabella memasuki pintu kamarnya. Ia berniat untuk memberi tau kabar ini kepada tuan sistemnya, kabar bahwa ia telah menjual jam tangannya. Ia membuka laptop nya, dan membuka aplikasi bertuliskan 'Queen System' yang ada disitu. Sebenarnya meskipun tanpa membuka aplikasi tersebut, Arabella tetap bisa berkomunikasi dengan tuan sistem.


"Halo, tuan sistem! Aku.. ingin.."


[ Ding! ]


Arabella menghentikan kata katanya karena tiba tiba muncul suara notifikasi dari tuan sistem yang baru saja hendak ia panggil.


[ Kami baru saja mendengar kabar bahwa anda telah menjual jam tangan pemberian dari kami. Benar? ]


"Eh? Kamu kok bisa tau, tuan sistem?", tanya Arabella heran.


[ Tentu saja kami tau, nona ]


Arabella mengerutkan dahinya, "Bagaimana caranya, tuan sistem? Wah.. tuan sistem memata mataiku ya? Apa saat aku tengah mandi, kau bisa melihatku juga, tuan?", tanya Arabella penasaran.

__ADS_1


[ Nona, kembali ke topik ]


[ Apa alasan anda menjual jam tangan tersebut? ]


Arabella berfikir sejenak. Apa ia harus menceritakan tentang wanita itu? Wanita yang menotice jam tangannya dengan jam tangan tuan Andrew saat di restoran satu hari lalu?


"Ng.. maaf tuan sistem, aku menjual jam ini karena takut akan terlibat masalah dengan seorang wanita. Wanita itu sepertinya orang yang dekat dengan om Andrew Darian. Aku takut terlibat masalah dengannya karena ia melihat jam tanganku dan jam tangan tuan Andrew sama", jelas Arabella.


"Eh, omong omong.. jam tangan tuan Andrew itu juga pemberian mu kan, tuan sistem?", tanya Arabella. Ia sempat hendak menanyakan hal ini sejak agak lama, tapi entah kenapa ia baru ingat sekarang.


[ Kami tidak terima bahwa hadiah pemberian dari kami dijual begitu saja! ]


Eh, ditanya lain, dijawab lain, gumam Arabella kesal dalam hatinya.


Tapi Arabella tetap terkejut karena tuan sistemnya tiba tiba berucap galak, "Ng.. m-maaf, tuan sistem. Aku janji aku tidak akan makan uang hasil penjualan nya kok, aku akan memberikannya padamu. Sekarang tuan sistem bisa beri tau nomor rekening pada saya", ujar Arabella polos.


[ Kami tidak menerima hadiah atau pengembalian uang dari anda kecuali atas kegagalan misi. Sebaiknya anda kembali mengambil jam tangan itu, atau jika tidak, kami akan segera memutuskan hubungan kerja sama dengan anda! ]


Arabella membulatkan matanya. Kalau tuan sistemnya sudah berbicara panjang lebar begitu, artinya akan segera kiamat.


"Baik lah tuan sistem, baik!", ujar Arabella cepat. Sedetik kemudian, gadis itu melesat pergi dari kamarnya menuju tempat dimana ia menjual jam tangannya tadi.


*


Sekitar perjalanan selama 4 menit dengan sepeda, akhirnya Arabella sampai di tempat jual beli jam tadi. Dengan nafas terengah engah, ia memasuki pintu toko dan masih menemukan pria yang melayani nya tadi.


"Tuan, saya tadi baru saja menjual jam tangan saya disini", ujar Arabella.


Pria itu mengangguk angguk, "Iya, nona, saya mengingat anda"


Arabella tersenyum lebar, "Tuan, saya ingin mengembalikan uang ini dan mengambil kembali jam saya tadi. Apa bisa?", tanyanya dengan raut wajah memohon.


"Maaf nona, jam itu baru saja terjual"


Senyum Arabella memudar seketika. Terjual?


"T-terjual?", Arabella terbata.


"Benar, nona"


"Siapa yang beli?", tanya Arabella polos.


"Orang, nona"


Arabella mengerutkan keningnya sebal, "Tuan, maksud saya, ciri ciri nya, atau nama orangnyaaa"


"Ng.. dia seorang lelaki muda, bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut cepak. Tadi ia mengenakan jaket hijau dan celana hitam. Ia tampak seumuran dengan anda", jelas pria itu.


Kini Arabella merasa otaknya terbebani satu hal baru. Ia membayang bayangkan sosok yang ciri cirinya disebutkan pria itu.

__ADS_1


Bertubuh tinggi, berkulit putih, berambut cepak, siapa ya?, tanya Arabella dalam hatinya.


__ADS_2