
Pukul 5 sore, Arabella baru saja pulang dari restoran tempat ia bekerja. Setelah memasuki pintu rumah, ia melemparkan tasnya asal, menyalakan tv, dan duduk santai.
Ketika membuka tv, kebetulan sekali langsung muncul siaran kesukaannya, Marsha and the Bear.
"Hm.. tampaknya jadi anak kecil kembali sangat menyenangkan", ujar Arabella melihat adegan anak kecil bernama Marsha itu tengah bermain salju dengan beruang hutan.
Drrtt... Drrtt..
Ponsel Arabella berbunyi. Ia segera mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas. Terlihat tulisan 'Mama' di layar ponsel itu.
"Halo, ma? Hai ma? Mama ini Arabella, anak mama. Mama masih ingat kan?", Arabella langsung menyembur dengan pertanyaan konyol.
Itu karena ibunya tidak pernah menelepon nya atau memberinya kabar selama satu tahun. Jadi selama satu tahun ia hanya mendapat kabar ibunya melalui tetangganya. Karena apa? Karena ibunya tak punya ponsel. Kehidupan ekonomi mereka memang sesusah itu hingga ibu Arabella pun tak sanggup untuk membeli ponsel.
"Iya, sayang. Ibu mengingatmu tentu saja. Mana ada seorang ibu yang bisa melupakan anaknya..", balas seorang wanita dari sana dengan suara hangat.
"Hehe, iya, ma. Omong omong, yang mama pakai ponsel siapa?"
"Oh.. ini ponsel yang baru mama beli. Mama terpaksa beli karena mama merasa, ponsel itu sangat penting. Penting supaya kita lebih cepat mendapat informasi. Iya kan?", jawab wanita itu.
"Wah, bagus kalau mama sudah ada uang untuk membeli ponsel. Arabella juga akan sering sering mengirimi mama uang karena Arabella sudah mendapat pekerjaan sampingan", ujar Arabella gembira.
"Oh iya ma, selain itu ponsel juga bisa digunakan untuk mencari suami baru, kalau mama mau. Nanti Arabella ajarkan cara-"
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Arabella menghentikan ucapannya karena tiba tiba ada ketukan pintu.
"Halo? Arabella?"
Terdengar suara seseorang dari luar. Arabella seperti mengenal suara itu, tapi ia lupa siapa.
Karena suara itu adalah suara seorang wanita, Arabella tanpa ragu segera membuka pintunya.
"Eh? Mama?", tanya Arabella terkejut.
Wanita parubaya itu malah tampak bingung bingung . Ia masih menggenggam ponsel di tangan kanannya. "Kamu Arabella kan?"
"Iya, maaaa..", jawab Arabella dengan memanjangkan kata akhirnya. Ia fikir ibunya akan langsung ingat padanya.
Wanita parubaya itu pun segera dipersilahkan masuk.
"Ah, ternyata tadi kita bertelepon, mama sedang didepan pintu rumahku ya?", tanya Arabella.
Wanita itu membalasnya dengan terkekeh kecil, "Oh, iya. Tadi kota membahas pekerjaan sampingan. Apa pekerjaan sampinganmu, nak? Tidak berbahaya kan?", tanya wanita parubaya itu dengan raut wajah khawatir.
Arabella meneguk salivanya. Pekerjaan sampingan nya tentu adalah menjadi pelayan restoran. Pekerjaan utama Arabella tentunya adalah menjadi detektif, walaupun masih permulaan, tapi Arabella beranggapan bahwa pekerjaannya menjadi pelayan restoran itu hanya sebagai samaran saja supaya orang orang tidak tau bahwa dirinya adalah seorang detektif rahasia.
__ADS_1
Ia berfikir keras apakah ia harus memberi tahu ibunya tentang pekerjaan nya sebagai detektif itu. Ia takut ibunya akan mengkhawatirkan nya. Karena.. ayahnya dulu yang seorang detektif, tewas akibat terbunuh saat hendak mengejar seorang pembunuh. Walaupun Arabella lugu dan tampak polos begitu, ia adalah anak seorang detektif yang pemberani. Tapi lelaki itu tewas saat usia Arabella baru lima tahun, jadi ia tentu tak pernah diceritakan oleh ayahnya tentang detektif.
"Ng.. tidak kok, ma. Tidak berbahaya. Pekerjaan sampinganku adalah menjadi pelayan restoran", Arabella menjawab lalu tersenyum lebar.
Ibunya tampak bernafas lega, "Oh.. baguslah. Itu cukup baik untuk mahasiswa sepertimu. Oh ya, setelah kau selesai kuliah nanti, kau akan mencari pekerjaan apa nak? Apa kau telah merencanakan nya?"
Arabella mengangguk percaya diri, "Aku sudah punya pekerjaan hebat dengan gaji tinggi, ma. Aku bekerja sebagai detek.. eh!", Arabella tidak sadar dirinya keceplosan. Ia refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Astaga, ceroboh sekali aku ini, batinnya dalam hati.
"Detek.. apa?"
"Ng.. itu ma.. detektor, hehe"
Mama Arabella mengerutkan dahi, "Detektor itu apa?"
Arabella berfikir lagi, ia sendiri juga tak tau apa itu detektor.
"Ng.. iya ya, detektor itu apa ya?", gumamnya polos.
Mama Arabella menghela nafas, "Jadi apa pekerjaan utamamu, nak? Jangan buat mama penasaran"
"Ng.. de..", Arabella menjeda kalimatnya. Ia semakin merasa kalau ia perlu memberi tahu ibunya tentang pekerjaan nya itu, karena ibunya lebih baik kaget saat sekarang dari pada kaget ketika Arabella tengah dikejar kejar penjahat nanti.
__ADS_1
"Detektif"
Wanita parubaya itu langsung menoleh cepat, "APA?!"