
Pukul 13.10, tepatnya setelah Angel selesai makan di kantin tadi, Arabella, Angel, Feny, dan Rachel segera pergi ke rumah kediaman Vino menggunakan taxi.
Mereka membatalkan untuk pergi ke kantor polisi.
Tentu saja. Mereka baru saja mendapatkan kabar kematian seorang detektif kantor polisi utama New York yang awalnya Arabella duga adalah Nael. Ternyata bukan.
Tapi walaupun begitu, Arabella ikut merasa sedih karena melihat tangis Vino langsung pecah setelah mendengar berita itu.
Padahal rencananya, setelah Angel selesai makan, mereka akan pergi mewawancarai Vano. Tapi siapa sangka lelaki itu baru saja tewas?
"Vino, tolong jangan menangis lagi", ujar Angel sambil mengelus bahu lelaki itu. Di dalam taxi, Vino juga masih terisak. Dia memeluk kedua lututnya dan menundukkan wajahnya.
Arabella hanya bisa diam, sejujurnya dia kurang mengerti cara membujuk orang menangis, apalagi ketika doang itu menangis karena merasa kehilangan.
Arabella duduk di sebelah supir, teman temannya yang lain berada di belakang. Arabella hanya bisa memandangi lelaki itu dengan sendu. Arabella dengar, Vino adalah anak terakhir, sedangkan Vano adalah anak pertama. Vano pasti menjadi satu satunya teman Vino di rumah. Vino pasti merasa sangat kehilangan kakak lelakinya itu. Arabella bisa merasakannya...
Setelah perjalanan empat menit, akhirnya mereka sampai di kediaman Vino.
Vino segera menghapus air matanya cepat cepat setelah turun dari taxi. Tapi Arabella masih bisa melihat matanya yang sembab.
Arabella dan yang lainnya juga ikut turun dari taxi.
"Katanya, jasad kakak lelakimu sudah dipulangkan, kan?", tanya Angel pada Vino.
"Iya", jawab Vino dengan suara serak.
Arabella dan mereka berempat pun berjalan menuju rumah Vino yang berjarak sekitar 25 meter lagi. Rumah Vino berada tak jauh setelah gerbang masuk komplek. Tapi karena tak mungkin menyuruh supir taxi untuk masuk komplek, jadi mereka turun di pinggir jalan besar, tepatnya didepan gerbang masuk komplek.
__ADS_1
Setelah berjalan kaki selama satu menit, akhirnya mereka semua sampai di kediaman Vino.
Di halaman depan rumah lelaki itu, terlihat ada beberapa orang dewasa yang langsung menoleh ke arah mereka semua. Wajah para orang orang itu juga terlihat sembap. Arabella rasa mereka semua adalah keluarga dan orang tua Vino.
"Ayah.. ibu..", ujar Vino pelan, dan langsung berlari memeluk kedua orang tuanya. Tangis Vino langsung pecah ketika memeluk kedua lelaki dan wanita parubaya itu.
Arabella jadi teringat ketika ayahnya meninggal. Saat ia mendengar kabar ayahnya meninggal, saat itu Arabella masih sedang di luar kota untuk mencari pekerjaan. Ketika sampai di rumah , ia tak lagi bisa melihat jasad ayahnya karena telah di makamkan. Ia hanya bisa memeluk ibunya dengan tangisan pecah, seperti itu.
"Arabella, ayo", ujar Feny yang menyadari bahwa Arabella sedang melamun.
Arabella mengangguk. Lalu Arabella, Angel, Rachel dan Feny pun segera berjalan pelan menuju rumah lelaki itu . Setelah memperkenalkan diri kepada orang tua Vino, orang tua Vino pun mengizinkan mereka semua untuk ikut masuk ke dalam rumahnya.
*
Nael dan tuan Hans segera pergi ke rumah kediaman Vano, untuk melihat proses pemakaman lelaki itu. Bukan hanya Nael dan tuan Vano, tuan Steve dan beberapa anggota kepolisian lainnya juga ikut pergi ke kediaman lelaki itu.
"Saya rasa Arabella dan teman temannya akan ikut mengunjungi rumah itu. Saya rasa saya harus menyamar", ujar Nael saat di mobil.
"Hm.. baiklah. Tapi, menyamar dengan apa?", tanya Tuan Hans.
"Saya sudah memikirkannya"
*
Sekitar 5 menit kemudian, Nael dan tuan Hans telah sampai di kediaman rumah Vano. Mereka memarkirkan mobil di halaman depan, lalu tuan Hans dan Nael pun segera keluar dari mobil.
Nael mengenakan dua lapis jaket tebal, ia juga mengenakan rambut palsu hitam keriting, dan jenggot hitam panjang, keriting juga. Kaca mata hitam dan topi hitam. Jangan lupa kumis palsu yang juga keriting. Ia menggunakan semua itu tentunya untuk menyamar. Ia adalah detektif rahasia, tak boleh seorang pun yang tak ia kenal yang boleh mengetahui identitas nya.
__ADS_1
Setelah keluar dari mobil, Nael menyusul tuan Hans yang sudah berjalan memasuki pintu rumah kediaman Vano.
Ketika memasuki rumah, mereka langsung menemukan orang tua Vano yang langsung memasang senyum kepada mereka berdua. Orang tua Vano tentu tau bahwa tuan Hans dan Nael adalah temannya Vano. Nael dan tuan Hans pun diizinkan untuk ikut mendoakan jasad Vano yang akan dikuburkan hari ini.
Di ujung dinding berwarna putih bersih, sudah terlihat sebuah peti berwarna coklat mewah yang diletakkan di sebuah kayu penyangga. Ternyata jasad Vano sudah dimasukkan ke dalam peti.
Di dalam ruangan juga tidak terlalu ramai. Hanya ada orang tua Vano, seorang pendeta, dan beberapa mahasiswa.
Nael melihat satu persatu mahasiswa tersebut. Ada Vino yang tengah menahan tangisnya. Nael tau bahwa lelaki itu ialah adik Vino, tapi tentunya Vino tidak tau kalau Nael mengenalnya. Mata Vino terlihat sangat sembap, ia pasti sudah menangis sejak tadi.
Sedangkan di belakang Vino, berdiri 5 orang mahasiswi yang sedang menunduk kan kepala mereka. Nael memicingkan mata ketika menyadari bahwa salah satu dari mahasiswi itu adalah sosok yang ia kenal. Arabella. Gadis itu juga terlihat sedang menahan tangis.
Sudah kuduga dia pasti ikut kesini. Untungnya aku cukup pintar untuk menyamar dulu, gumam Nael dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Arabella menoleh ke arah sosok lelaki bertubuh tinggi besar yang berada tak jauh di belakangnya. Tuan Hans. Dan disebelah tuan Hans..
Arabella awalnya kebingungan melihat bertubuh tinggi besar di sebelah tuan Hans itu. Lelaki itu terlihat gemuk dengan jaket hitam yang dipakainya, ia memiliki janggut hitam keriting yang panjang, dan juga kumis tebal agak keriting. Tak lupa dengan sebuah topi berwarna merah.
Yang terlihat darinya hanya area mata, alis, dan area hidung.
Lelaki itu terlihat seperti Santa Claus versi janggut hitam.
Arabella memperhatikan mata lelaki itu. Beberapa saat kemudian, barulah Arabella sadar ternyata lelaki yang seperti badut itu adalah Nael.
Sedetik kemudian, Arabella mengerjapkan mata karena Nael ternyata menoleh ke arahnya. Lelaki itu bahkan mengedipkan sebelah matanya.
Astaga, dia kenapa?, tanya Arabella dalam hati, lalu Arabella membalikan wajahnya untuk kembali fokus mendoakan jasad yang telah diletakkan dalam peti itu.
__ADS_1