Arabella Dan Sistem Kecantikan

Arabella Dan Sistem Kecantikan
Bunga Yang Di Buang


__ADS_3

Sebelum bersiap siap keluar dari rumah nya, Arabella kembali mengecek chat nya dengan seseorang. Arabella telah mengirim potret surat itu pada Nael semalam, tapi lelaki itu sudah membacanya, tapi belum ada balasan apapun.


"Ya sudahlah,", ujar Arabella lalu membuka pintu rumah.


Ia langsung melihat sebuah mobil Lamborghini putih yang ia kenal ialah milik Andrew. Setelah Arabella naik ke dalam mobil, ia baru menyadari bahwa hari ini Andrew tidak membawa Sophia, atau wanita cantik lain. Baguslah , fikir Arabella.


Ketika Andrew sudah menyalakan mobilnya, tiba tiba..


Drrtt.. drrtt..


Handphone yang Arabella pegang berbunyi. Di layar nya terpampang jelas nama Nael. Andrew langsung menoleh cepat, tapi Arabella cepat cepat menutup nama yang terpampang tersebut.


"Untuk apa lelaki detektif itu menelepon mu di pagi pagi begini?", tanya Andrew agak galak.


Ternyata tangan Arabella kalah cepat dengan mata lelaki itu.


Arabella tidak menjawab pertanyaan Andrew. Ia hanya menutup telepon, lalu membuka chatnya dengan lelaki yang barusan menelepon nya itu.


Arabella


Maaf aku mematikan telepon mu. Chat saja


Tapi tak ada balasan setelah Arabella mengirim pesan itu. Di baca juga tidak. Arabella hanya menghela nafas, lalu menutup handphone nya.


*


"Arabella, kau sudah menanyakannya pada lelaki itu?"


Rachel lagi lagi menanyakan pertanyaan yang sama. Bahkan Arabella baru saja masuk ke dalam kelas dan menaruh tas nya, tapi gadis itu sudah tidak sabaran mempertanyakan tentang Nael.


"Aku belum menanyakannya sama sekali. Aku.. jujur saja, aku agak takut untuk melakukan nya", ujar Arabella.


"Astaga, Arabella. Padahal aku sudah sangat ingin tau.", Rachel memasang wajah cemberut,"Kalau kau segan menanyakannya, coba kau tanyakan saja pada salah satu temannya", lanjut Rachel.


Arabella mengernyit heran.


"Teman? Kau tau sendiri kan lelaki itu hampir tidak punya teman?", tanya Arabella.


"Oh, benar, aku hampir lupa", Rachel menepuk dahinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, coba kita tanyakan saja pada teman teman sekelasnya. Walaupun Nael jarang berbicara, tapi mereka setidaknya pasti tau wanita mana yang sering dilirik lelaki itu", ujar Rachel.


"Kau saja yang menanyakannya, kenapa harus kita?", tanya Arabella, Rachel langsung merengek kesal.


"Baiklah, aku akan coba menanyakan nya sekarang!", ujar Rachel, lalu wanita itu pergi keluar kelas.


Arabella berlari keluar kelas untuk melihat kemana wanita itu pergi. Arabella melihat Rachel pergi ke kelas Hukum 3 yang terletak di gedung yang bersebrangan dengan mereka. Kelas tempat Nael berada.


"Waw, Rachel benar benar berani", Arabella terkikik sendiri, lalu kembali masuk ke dalam kelasnya.


*


Saat istirahat tiba, Arabella menyusun bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah dosen keluar dari kelas, Rachel langsung menghampiri nya.


"Arabella, kita pergi ke roof top yuk!", ajak wanita itu yang membuat Arabella mengernyit heran.


"Eh? Untuk apa?"


"Sudahlah, ayo. Kita cerita cerita disana, tempatnya dingin", ujar Rachel sambil menarik tangan Arabella.


Arabella mau tak mau mengikuti gadis itu.


"Dia bilang, Nael tidak pernah melirik perempuan, lebih sering melirik ke arah laki laki!", ujar Rachel sambil menggoyang goyangkan bahu Arabella. Arabella membulatkan matanya.


"Jangan bercanda", ujar Arabella.


"Aku tak tau lelaki itu sedang bercanda atau tidak, intinya lelaki itu sudah duduk di bangku sebelah Nael selama satu tahun. Pasti dia tau banyak", ujar Rachel.


"Ah, dia pasti bercanda", ujar Arabella.


"Omong omong, waktu kau kesana tadi, Nael tidak ada?", tanya Arabella.


"Tidak, dia belum datang.", jawab Rachel.


Ketika langkah mereka berdua sampai di tangga menuju roof top, langkah Rachel tiba tiba terhenti. Arabella yang berjalan di belakang Rachel sontak ikut terhenti.


"Kenapa kau berhenti mendadak?", tanya Arabella agak kesal. Rachel tidak menjawabnya, gadis itu masih fokus melihat sosok yang berada di puncak roof top.


"Psst.. Arabella sini, tapi kau jangan bersuara ya", ujar Rachel dengan berbisik.

__ADS_1


Arabella mengernyit heran, lalu melangkah menaiki anak tangga sekali lagi untuk dapat melihat puncak roof top.


Saat ini mereka berdua sedang mengintip di anak tangga. Mereka sedang memperhatikan sosok seorang lelaki dan seorang perempuan yang berdiri saling berhadapan di tengah tengah roof top.


Arabella menyadari bahwa lelaki itu ialah Nael. Sedangkan mahasiswi cantik ber almamater coklat yang ada didepan lelaki itu, Arabella tidak mengenalnya.


Arabella tidak bisa mendengar percakapan mereka, tapi Arabella bisa menebak percaka mereka dari mimik yang diucapkan.


Gadis cantik berambut lurus hitam panjang itu mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan dari balik punggung nya.


Sebuah bunga mawar merah.


"Eh? Apa apaan itu?", bisik Rachel tak terima.


Arabella tetap fokus pada kedua sosok itu. Arabella melihat wanita tadi menarik tangan kanan Nael, lalu menaruh setangkai bunga mawar tadi di atasnya.


"Aku menyukaimu"


Arabella bisa melihat jelas mimik yang diucapkan wanita itu.


Aku menyukaimu, itu katanya.


Sedangkan ekspresi Nael, sangat datar, seakan akan tidak ada apapun yang ada didepannya.


"Astaga, jantungku berdetak sangat cepat", bisik Rachel ditelinga Arabella.


"Aku tidak menyukaimu"


Itu lah kalimat yang Arabella lihat dari bibir Nael.


Kemudian, Nael melemparkan bunga itu, jauh sehingga bunga itu jatuh dari rooftop.


"Apa kah itu sejenis budaya dalam penolakan cinta?", tanya Arabella pada Rachel dengan berbisik.


"Tidak tau, aku tak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya", jawab Rachel dengan berbisik juga.


Lalu mereka berdua kembali fokus memperhatikan Nael dan perempuan itu lagi. Tapi yang ada, Nael terlihat berjalan menuju ke arah mereka. Lebih tepatnya, Nael berjalan menuju anak tangga untuk turun dari rooftop.


Menyadari itu, Arabella dan Rachel cepat cepat berlari dan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2