
Di sebuah ruangan minimalis, tepatnya di ruangan pribadi Andrew Darian, terlihat lelaki muda itu tengah sibuk menyusun nyusun berkas yang ada di mejanya.
"Kapan kunjungan tuan Darren kesiniĀ lagi?", tanya lelaki itu pada Handry, asistennya.
"Besok pukul 8 malam, tuan"
Andrew mengangguk angguk, "Sebelum pukul 7 malam, aku harap kau sudah mempersiapkan semuanya"
"Tentu, tuan"
Andrew lalu meletakkan berkas itu ke atas mejanya. Ia menghela nafas panjang. Ketika melihat jam tangannya sendiri, ia teringat dengan seorang gadis yang saat ini masih memenuhi pikirannya.
Jam tangan yang sama dengan yang dimiliki gadis itu, gadis lugu bertubuh gemuk itu. Arabella.
"Aku tak menyangka dia memiliki jam tangan yang sama"
Gumaman Andrew barusan didengar oleh Handry, ia fikir tuannya itu sedang memerlukan teman curhat, "Maaf, tuan?"
Andrew menoleh, ia terdiam sejenak sambil memandangi jam tangan hitamnya yang berkilauan itu. "Aku dan gadis itu memiliki jam tangan yang sama. Apa kau sudah tau itu?"
Handry menggeleng, "Belum, tuan. Tapi.. itu sungguh?"
"Benar. Haha, lucu sekali bukan? Yang lebih membuat ku terkejut, adalah ternyata jam kami berdua sama sama hadiah tanpa nama pengirim di sebuah kotak pos"
Handry menaikkan sebelah alisnya, "Wow, aku rasa memang ada seseorang yang.. ingin mendekatkan kalian berdua. Entahlah tuan, tapi itu hanya firasatku saja"
Andrew terkekeh kecil, "Aku tidak sampai berfikir kesitu, tapi kalau difikir fikir, ini adalah suatu kebetulan rasanya tidak mungkin"
"Benar, tuan"
__ADS_1
Krieekk..
Tiba tiba pintu dibuka dari luar. Tampaklah seorang wanita cantik bertubuh langsing memasuki ruangan . Ada sebuah bekal makanan di tangan kanannya. Ketika matanya bertemu dengan mata Andrew, wanita itu tersenyum lebar.
"Sophia, lain kali ketuklah pintu sebelum kau masuk"
Wanita itu langsung memasang wajah masam karena teguran dari lelaki yang dicintainya itu, "Ah, Andrew, perkara seperti itu pun kau permasalahkan.."
Andrew tidak menjawab.
Wanita itu berjalan mendekat, lalu menaruh bekal makanan yang dibawanya ke atas meja yang ada didepan lelaki itu, "Aku membawa makanan kesukaan mu", ujar wanita itu sambil tersenyum lagi.
Andrew tidak menjawab, ia juga tidak memberikan senyum sedikitpun pada wanita itu.
"Andrew..", wanita itu berjalan mendekat, "Tersenyum lah padaku sedikit saja. Kau ini selalu memasang wajah malas saat melihatku. Aku tidak mengerti"
"Tidak ada yang perlu kau mengerti", lelaki itu bangkit dari kursinya, hendak berjalan pergi keluar dari ruangan itu.
"Andrew, aku sudah membawakan mu makanan!", pekik wanita itu kesal.
"Sudah kubilang padamu jangan lakukan itu lagi. Aku tak mau menerima makanan itu, atau apapun darimu!", Andrew kembali membalikkan badannya, "Dan satu lagi, kalau kau bertemu dengan wanita yang kau tegur di restoran waktu itu, aku minta kau meminta maaf padanya, karena waktu itu kau tidak meminta maaf padanya sedikitpun!", lanjut lelaki itu, meninggalkan Sophia yang tengah menatapnya dengan wajah kesal.
*
Keesokan harinya, di kampus..
Tepat saat waktu istirahat tiba, Arabella keluar dari kelasnya menuju koperasi untuk membeli buku tulis.
Tapi sebelum gadis itu mencapai koperasi, tiba tiba seorang pemuda bertubuh besar menghampiri nya dengan berlari cepat.
__ADS_1
"Arabella..!", Panggil pemuda itu.
Arabella menoleh. Ia melihat seorang pemuda besar tinggi tengah ngos ngosan didepannya. Brandon, pemuda itu mengeluarkan sebuah jam tangan hitam dari sakunya, lalu menyodorkan nya pada Arabella.
"Aku sudah dapat", ujar Brandon sambil berusaha mengatur nafas.
Arabella mengambil jam itu dengan raut wajah polos dan keheranan, "Ini maksudnya apa kak?"
Brandon menepuk jidatnya sendiri mendengar pertanyaan gadis itu, "Astaga Arabella, kau bukan hanya polos, tapi kau juga pelupa tingkat akut. Bukankah kau yang menyuruhku untuk mencuri jam ini dari Richard semalam?"
"Ooo..", Arabella membentuk huruf o dibibirnya, ia baru ingat tentang itu, "Aku ingat, terimakasih ya kak!"
"Iya sama sama. Sebaiknya kau pergi cari tempat bersembunyi. Richard tengah mengejarku sekarang!"
Arabella langsung tergopoh-gopoh untuk mencari tempat bersembunyi. Tapi ia tampaknya tak punya pilihan lain selain pergi ke kelasnya sendiri.
Sementara itu, Richard baru saja berhasil mengejar Brandon. Lelaki itu juga tampak terengah engah, karena dari tadi mereka bermain kejar kejaran.
"Brandon..", Richard berusaha mengatur nafasnya, "Kembalikan jam ku"
"Tidak ada, sudah pergi", jawab Brandon asal sambil memamerkan kedua tangannya yang sudah kosong.
Richard langsung memasang raut wajah kesal, "Hei, kemana jam nya?"
"Entah, tidak tau"
"Aku membelinya seharga 2.900 dollar!"
"Besok aku akan berikan uangnya padamu, janji, hehe"
__ADS_1
Wajah Richard tampak semakin kesal. Sebenarnya ia menebak bahwa temannya yang menyebalkan itu baru saja menjual jam nya kepada Arabella, tapi itu hanya firasatnya, tidak tau salah atau benar.
"Aku mau saja menjual jam itu..", ujar Richard, "Tapi tidak kepada Arabella!"