
Sudah dua jam Arin menunggu, namun ibunya tak juga datang. Menurut informasi salah satu karyawannya, ibu Arin sejak kemarin memang tidak datang ke salon seperti biasanya dan tak ada kabar sama sekali.
Arin sengaja tidak mengatakan jati dirinya yang sebenarnya bahwa adalah putri dari Wulan Ayu Ningsih, karena saat ini ibunya sedang menjadi sorotan media. Banyak kabar miring yang beredar tentang ibunya, dia tak ingin dengan keberadaannya justru membuat situasi semakin kacau. Apalagi dengan berita tentang kehidupan pribadi ibunya yang belakangan ini membuat media penasaran. Karena itu, dia hanya mengaku sebagai salah satu pelanggan yang ingin ditangani langsung oleh Wulan Ayu Ningsih.
Beberapa saat yang lalu tanpa sengaja dia melihat tayangan infotaiment yang ditonton oleh karyawan ibunya. Saat ini media sedang menyoroti tentang kehidupan pribadi ibunya, dan juga putri yang tidak jelas asal usul dan keberadaannya.
Dia tak pernah tahu siapa sebenarnya anak ibunya, orang yang paling dicari media saat ini. Dia sempat merasa mungkin dialah anak yang di isukan terlahir dari hubungan gelap ibunya dengan seorang pengusaha kaya dari negeri tetangga.
Kabar itu sudah sejak lama berhembus, namun kakek dan neneknya selalu menutupinya dan mengatakan itu hanya gossip yang tidak jelas sumbernya. Bahkan beberapa waktu sebelumnya, ayahnya sengaja merusak tv dirumah dan mencabut akses jaringan internet berbayar. Dia ingat betul, di awal berita ini muncul bahkan ayahnya menyita ponselnya, dan dia tidak di izinkan untuk keluar dari rumah meskipun hanya untuk kuliah.
Meski terkesan tak pernah peduli, sebenarnya ayahnya juga masih punya hati. Dia hanya tak ingin Arin mendengar semua berita miring tentang ibunya dan membuatnya tertekan.
Arin menyeruput secangkir teh yang sudah disiapkan oleh salah satu karyawan salon, dan berusaha untuk bersikap sewajar mungkin.
Meskipun tak bisa dipungkiri, hatinya terasa terbakar saat melihat tayangan infotaiment yang sedang menyoroti kehidupan pribadi ibunya.
"Seorang penata rias ternama, Wulan Ayu Ningsih lagi-lagi tertangkap kamera tengah bersama dengan seorang pria pengusaha kaya asal negeri Jiran Malaysia. Benarkah keduanya terlibat skandal?"
Begitu isi kalimat pembuka yang diucapkan oleh host acara gosip yang sedang tayang di salah satu stasiun tv.
Arin melirik sekilas, dia ingat persis. Pria itulah yang malam tadi mencari ibunya.
"Din, menurut kamu gosip itu beneran gak sih?"
Salah seorang karyawan salon mulai membuka suara, bertanya pada temannya.
"Ya, bisa jadi sih.. Coba deh kamu pikir, sebelumnya kan Bu Wulan gak setenar sekarang. Tapi mendadak dia dapat tawaran menjadi kepala tim make up di acara Miss Asia, belum lagi tawaran dari salah satu PH untuk menjadi tim make up artis dibawah naungan BiBi Entertaint. Itu kan PH yang paling banyak mendebutkan artis-artis dan model ternama seperti May Luna dan Anarchie. tambah lagi tawaran endorse brand-brand make up ternama. Rasanya mustahil kalau itu semua bisa diraih hanya dengan modal talenta. Coba deh kamu pikir, berapa banyak beauty influencer yang jauh lebih bertalenta tapi gak pernah mendapatkan kesempatan seperti ini."
"Iya juga sih Din.. dan kalau dipikir-pikir, karir Bu Wulan melejit gak lama setelah issue tentang hubungannya dengan pengusaha itu terendus media."
__ADS_1
"Hush.. Kalian nih, gak baik loh gosipin orang apalagi dia itu atasan kita. Biar gimanapun juga kan kalian makan gaji dari bu Wulan. Biarlah kehidupan pribadi bu Wulan menjadi urusannya sendiri, kita gak perlu ikut campur."
Seorang karyawan yang baru saja muncul mengingatkan.
"Sena, kami cuma lagi bahas berita tentang Bu Wulan. Itu loh, baru aja ditayangin. Katanya bu Wulan tertangkap kamera lagi bareng pengusaha itu."
"Ya itu sama aja namanya gosip Dina Mariana Binti Maulana.."
Balas Sena sambil mengusapkan kuas make up ke wajah Dina.
"Udah jangan ngobrol aja, ayo kerja. Pelanggan udah pada nunggu tuh."
Karyawan bernama Sena menghampiri Arin sambil tersenyum ramah.
"Mbak, maaf ya. Saya gak bisa menghubungi Bu Wulan, ponselnya diluar jangkauan. Dan saya juga gak yakin Bu Wulan akan datang hari ini. Begini aja, mbak tinggalkan nomor ponsel mbak dan nanti kalau Bu Wulan datang saya akan sampaikan ke beliau."
"Iya, sekali lagi saya minta maaf ya mbak."
"Yaudah, kalo gitu aku pamit ya mbak. Makasih untuk tehnya."
"Iya, sama-sama mbak."
Arin melangkah dengan gontai, keluar dari salon ibunya.
Dia menghela napas dalam, rasanya sangat menyesakkan. Ingin rasanya dia berteriak, untuk melepaskan sebah didada. Dia berjalan seolah tak tentu arah, mengabaikan orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya.
Akhirnya Arin tiba dirumah ibunya, dan tentu saja tanpa kehadiran ibunya disana.
Arin masuk ke kamarnya, kemudian mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper.
__ADS_1
Dirogohnya tas kecil yang tadi dia bawa untuk mengambil ponselnya, kemudian dia memesan tiket pesawat melalui jasa travel agent. Dia sudah berniat untuk pulang kerumah nenek dan kakeknya di Siantar.
Arin merebahkan tubuhnya di ranjang. Jadwal penerbangan pukul empat sore, sedangkan sekarang masih pukul dua belas siang. Banyak waktu untuk meregangkan otot sejenak, begitu pikirnya.
Namun baru saja dia menikmati posisi ternyamannya, terdengar bunyi bel pintu. Arin terlonjak kaget, kemudian bergegas melihat siapa yang datang.
"Tante Retno?"
Arin tampak terkejut saat melihat mama Donny sudah berdiri menunggunya didepan pintu, tentu saja dengan penampilannya yang elegan.
"Arin, maaf kalau kedatangan tante mengganggu waktu kamu. Boleh kita bicara?"
"Gak, sama sekali gak ganggu kok tante. Ayo, silahkan masuk tante."
Arin mempersilahkan Tante Retno untuk masuk, kemudian menyuguhkan secangkir teh hangat.
"Arin, tante minta maaf ya. Kalau mungkin sebelumnya sikap tante menyinggung kamu. Tante hanya tidak menduga kalau gadis yang selama ini dicintai oleh anak tante adalah kamu. Sebenarnya.."
"Arin paham kok tante."
Sela Arin.
"Lagipula ini bukan kesalahan tante. Memang beginilah keadaan Arin yang sebenarnya tante. Tapi biar bagaimanapun, ibu tetaplah orang terpenting dalam hidup Arin. Karena ibu yang sudah melahirkan Arin, memberikan Arin kesempatan untuk hidup."
"Arin.. sebagai sesama wanita, tante juga prihatin dengan keadaan keluarga kamu. Tapi tante juga gak bisa berbuat apa-apa.. Arin tahu kan, Om Dana adalah tokoh yang dikenal masyarakat. Tante hanya takut masalah ini justru mencoreng nama baik suami tante. Jika saja ibu kamu hanya wanita biasa, akan lebih mudah bagi keluarga tante untuk menerima kamu bahkan meskipun ibu kamu hanya seorang petani itu lebih masuk akal."
"Arin paham tante.."
Ucap Arin sambil mengangguk.
__ADS_1