
Adzan maghrib berkumandang, saat Arin kebetulan melintasi sebuah mesjid di tepi jalan. Dia berbelok arah, kemudian memasuki mesjid tersebut dengan langkah terseok.
Setelah melaksanakan sholat maghrib dan merasa hatinya lebih tenang, Arin merogoh sling bagnya dan meraih ponsel yang sejak pagi dia padamkan.
Untunglah hanya kopernya yang tertinggal, sedangkan dompet dan ponselnya dia simpan didalam sling bag yang masih terselempang di pundaknya.
Sangat banyak pesan masuk dari Ardan dan Donny, namun Arin mengabaikan semuanya.
Dia membuka aplikasi ojek online dan memesannya. Tak lama kemudian ojek yang dipesan tiba, Arin meminta driver ojek mengantarnya ke salah satu hotel terdekat.
Sesampainya di hotel karena tidak memiliki uang tunai akhirnya Arin memutuskan untuk menggunakan ATM yang pernah diberikan oleh kakeknya. Sebenarnya, dia nyaris tak pernah menggunakannya kecuali dalam keadaan terdesak, seperti saat ini. Diam-diam dia merasa bersyukur untuk itu.
"Mohon maaf mbak, untuk single room dan twin room kebetulan sedang penuh. Yang tersisa hanya double room."
Ucap resepsionis hotel saat Arin akan memesan satu kamar untuk dirinya.
Arin berpikir sejenak, mempertimbangkan.
"Yaudah deh, saya ambil yang double room mbak. Bisa bayar pakai ini kan?"
Arin menyodorkan kartu ATM miliknya.
Setelah proses administrasi selesai, salah seorang bellboy mengantarkan Arin menuju kamar yang sudah dia pesan.
Arin menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Tak hanya tubuhnya yang lelah, jiwanya pun ikut terguncang atas swmua yang terjadi. Sulit baginya untuk percaya dengan kebenaran yang baru dia dengar beberapa jam yang lalu.
"Kenapa ibu tega melakukan itu.. Mengkhianati ayah dan menjalin hubungan dengan pria lain, dibelakang ayah bahkan ibu sampai mengandung anaknya. Sekarang aku mengerti, inilah alasannya kenapa sikap ayah berubah drastis. Ayah yang dulu hangat dan penuh kasih pada istri dan anak-anaknya, namun ibu benar-benar sudah menyakiti ayah hingga membuat ayah menjadi seperti ini. Kasihan ayah, selama ini aku pikir ayahlah yang bersikap egois dan meninggalkan ibu demi dirinya sendiri. Tapi memangnya siapa yang sanggup, di khianati oleh orang yang dicintai?
Ibu... Dulu keluarga kita sangat bahagia, tapi kenapa ibu menghancurkan semuanya? Hanya demi pria itu, ibu sanggup mengabaikan kami semua. Apakah kami tak ada artinya bagi ibu? Apakah pria itu yang bahkan tak ada hubungan darah dengan ibu, lebih penting daripada anak-anak yang terlahir dari rahim ibu?"
Arin menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Lelah menangis malam itu, akhirnya Arin tertidur.
-------
"Ayah, ayah mau pergi kemana? Kenapa ayah bawa abang pergi? Ayah, Arin ikut ayah.. Jangan tinggal Arin.. Arin mau ikut sama ayah dan abang Ardan.."
Bocah perempuan kecil berusia sekitar sepuluh tahun menangis menarik lengan pria dewasa yang dia panggil Ayah.
Pria itu menenteng dua buah koper dan menggenggam tangan anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dari si bocah.
Kedua anak itu menangis saling berpelukan, tak ingin dipisahkan.
halaman rumah sederhana bercat hijau daun menjadi saksi bisu kepiluan keluarga ini.
Sang ayah terlebih dulu memasukkan dua buah koper ke dalam bagasi mobil Kijang kapsul berwarna maroon, kemudian dia menarik tangan anak lelakinya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ayah, abang gak mau ikut ayah kalau adek gak ikut. Abang mau sama adek, jangan tinggalin adek yah, kasihan adek.."
Anak lelakinya memelas sambil menangis menarik-narik lengan baju ayahnya yang sudah duduk di samping driver.
"Ayah, Arin mau ikut ayah.. Jangan tinggal Arin.. Arin mau sama abang Ardan.."
----
"Ayaaahhhh..."
Arin terpekik dan langsung tersadar.
Dia hanya mimpi.
Kilasan peristiwa delapan tahun lalu masih tergambar jelas di ingatan Arin. Saat ayahnya nyaris saja meninggalkannya dan hanya membawa Ardan. Namun karena merasa tak tega pada kedua anaknya yang sudah menangis meratap-ratap, akhirnya Arin juga ikut dibawa serta.
Entah apa yang saat itu sedang terjadi. Tapi sejauh yang Arin ingat, sejak saat itu sikap ayahnya benar-benar berubah drastis. Sosok Malik yang sebelumnya penuh kasih sayang, mendadak jadi sosok pria yang egois dan tidak peduli kepada kedua anaknya.
__ADS_1
Setelah menitipkan Ardan dan Arin dirumah kakek dan nenek, Malik pergi entah kemana.
Tiga tahun menghilang tanpa kabar, akhirnya Malik kembali ke kampung halamannya.
Kedua anak yang dia tinggalkan mulai beranjak dewasa.
Ardan si sulung, sudah duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Sedangkan Arin si bungsu, kini sudah duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama.
Melihat kepulangan ayahnya setelah tiga tahun terpisah tentu saja kedua anak yang sudah remaja itu merasa sangat bahagia. Terlebih saat neneknya mengatakan, ayahnya akan menetap dan memulai usaha bengkel kecil-kecilan.
Namun kebahagiaan itu hanya sesaat, Malik membuyarkan semuanya saat dia menghardik Arin hanya karena anak perempuannya itu merengek ingin bertemu ibunya.
Sejak Malik meninggalkan Jakarta bersama kedua anaknya, tak sekalipun Wulan mencoba menemui mereka. Apalagi saat itu karir Wulan Ayu Ningsih mulai menanjak, ketika ditunjuk sebagai salah satu juri ajang pencarian model majalah sampul untuk produk kosmetik lokal. Namun itu tak berlangsung lama, dan perlahan karirnya meredup.
Hingga akhirnya, Wulan Ayu Ningsih membuat geger dengan gossip yang muncul di media. Tentang hubungannya dengan salah seorang pengusaha kaya asal Malaysia. Tak lama berselang, karirnya melejit kembali setelah dia dipercaya menjadi ketua tim penata rias untuk ajang Miss Asia. Tawaran pekerjaan dari brand dan manajemen artis bergengsi pun mulai berdatangan, dan membuat nama Wulan Ayu Ningsih semakin berkibar.
Saat Arin merayakan ulangtahun yang ke 15, Wulan Ayu Ningsih datang secara pribadi untuk menjemputnya. Namun tentu saja, ditentang keras oleh Malik. Akhirnya Wulan pulang dengan tangan hampa.
Dia tak menyerah, dan mencoba lagi-dan lagi.
Hingga akhirnya orangtua Malik yang adalah kakek dan nenek Arin merasa luluh, kemudian membiarkan Wulan membawa Arin tepat di ulangtahunnya yang ke enam belas.
Hanya beberapa hari tentu saja, karena Malik keburu menyusul mereka dan membawa Arin kembali kerumah orangtuanya.
Tak tanggung-tanggung, saat itu Malik mengurung Arin sampai berhari-hari didalam kamar sebagai hukuman karena tidak mematuhinya.
"Jangan pernah menemui perempuan itu lagi!"
Begitulah ancaman yang diberikan oleh Malik.
Saat itu wajahnya tampak murka, seolah Arin sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Delapan tahun berlalu sejak mereka pergi meninggalkan Jakarta, kenangan indah masa kecil Arin bersama ayah dan ibunya juga pergi, menguap begitu saja.
__ADS_1
Yang tersisa, hanya puing tak berharga.