Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

"Malik, Arin sudah dewasa. Sudah waktunya untuk dia menata masa depannya. Lagipula apa yang salah dengan Dokter Rangga?


Kita hanya belum mengenalnya, tapi bukan berarti kita tidak bisa memberinya kesempatan kan? Setidaknya berikan dia kesempatan untuk membuktikan ketulusannya."


Malik menghela napas dalam.


"Apakah dia sudah bicara dengan Ayah?"


Tanya Malik.


"Ya, malam tadi kami banyak bercerita."


Jawab Kakek Arin.


Akhirnya Malik hanya bisa pasrah. Dia tahu Rangga adalah pemuda yang baik, namun dia takut dengan keluaega Rangga. Bagaimana reaksi mereka jika mengetahui latar belakang Arin yang sebenarnya?


"Malik, jadi bagaimana menurutmu?"


Pertanyaan Ayahnya menyadarkan Malik.


"Kalau begitu dia harus benar-benar membuktikannya."


Jawab Malik akhirnya.


 


Sudah dua hari kakek dirawat di ruang rawat inap, dan Rangga masih rutin mengunjungi kakek untuk memeriksa kondisi kesehatannya.


"Alhamdulillah, sepertinya kondisi kakek semakin membaik. Ingat pesanku ya Kek, jangan terlalu capek dan jangan terlalu banyak pikiran. Insyaa Allah kakek akan segera pulih."


Rangga memberi wejangan pada Kakek.


"Terimakasih Rangga, ini juga berkat kamu yang setiap hari rutin memeriksa kondisi kakek."


Jawab Kakek.


"Kalau begitu, aku tinggal dulu ya Kek. Insyaa Allah malam nanti aku kembali. Kalau Kakek ada keluhan, jangan sungkan untuk mengatakannya."


Ucap Rangga sambil tersenyum.


"Keluhan Kakek satu-satunya hanya soal Arin. Ngomong-ngomong, apakah malam itu kamu benar-benar serius mengatakannya? Kamu tidak sedang bercanda atau hanya mencoba menyenangkan hati kakek?"


Rangga tersenyum tulus.


"Aku serius Kek. Dan soal pembicaraan itu, aku harap hanya menjadi rahasia kita berdua."


Pinta Rangga.


"Baiklah, Kakek mengerti. Rangga, Kakek titip Arin ya. Tolong jaga dia."


Rangga tertegun mendengar permintaan Kakek.


"Insyaa Allah Kek, kita akan sama-sama menjaga Arin."


Jawab Rangga sambil tersenyum.


Flashback..


"Kakek harus perbanyak istirahat dan minum air putih, obatnya juga jangan lupa di minum ya kek. Aku akan keluar sekarang agar Kakek bisa beristirahat dengan tenang."

__ADS_1


Rangga hendak beranjak dari tempatnya, namun Kakek menahannya.


"Dokter Rangga, Aku yakin kita pernah bertemu sebelumnya? Maksud Kakek, sebelum di rumah sakit ini."


Rangga kembali duduk di bangku yang ada di samping ranjang pasien.


"Kalau Kakek masih ingat, beberapa tahun lalu akulah orang yang mengantarkan Arin pulang ke rumah waktu sepeda motornya mogok dijalan."


Jawab Rangga


"Oh, ternyata itu Kamu. Pantas saja rasanya kakek sangat familiar dengan wajahmu."


Ucap Kakek sambil tersenyum.


"Ternyata Ardan benar, Kakek punya daya ingat yang luar biasa."


Puji Rangga.


"Hei anak muda, jangan menganggap remeh. kakek tua ini dulunya adalah seorang Jenderal tentara."


Jawab Kakek sambil tertawa lepas.


"Kakek, boleh aku mengatakan sesuatu?"


Tanya Rangga.


"Bicaralah.."


"Ehm.. Begini Kek, ini soal.. Arin.."


Rangga berkata dengan sedikit canggung.


Kakek menatap Rangga dengan tatapan menyelidik, membuat Rangga semakin salah tingkah.


"Rangga, Kakek tahu kamu lelaki yang baik. Tapi apa kamu yakin dengan perasaan kamu terhadap Arin? Kamu baru mengenalnya, Kakek yakin tak banyak hal yang kamu ketahui tentangnya. Begitu juga sebaliknya. Kakek tidak ingin Arin terluka kedua kalinya."


Ucap Kakek.


"Aku mengerti Kek. Tapi aku benar-benar yakin dengan apa yang aku rasakan. Sebenarnya, aku sudah mencintai Arin sejak malam itu saat pertama kali kami bertemu."


Jawab Rangga dengan jujur.


Kakek tertawa sumringah meskipun masih dengan kondisi yang sedikit lemah.


"Jadi ini cerita cinta pada pandangan pertama?"


Ledek Kakek, membuat Rangga tersenyum canggung.


"Kalau kamu benar-benar mencintai cucuku, buktikan ucapanmu."


Tantang Kakek.


"Insyaa Allah Kek, aku akan membuktikannya."


Jawab Rangga mantap.


------------------------------------


"Dokter Rangga.."

__ADS_1


Pak Malik menghampiri Rangga ketika baru saja keluar dari ruangan Kakek.


"Ada apa Pak?"


Tanya Rangga.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Rangga menimbang sejenak.


"Baiklah, ayo kita ke ruanganku."


Pak Malik mengikuti Rangga menuju ruangannya.


"Sebelumnya Bapak minta maaf Nak Rangga, kalau sikap Bapak tempo hari mungkin membuat kamu salah paham."


Pak Malik membuka pembicaraan mereka siang itu.


"Aku mengerti Pak, wajar saja Bapak bersikap protektif epada Arin. Kalau aku ada di posisi Bapak, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama."


Jawab Rangga sambil tersenyum.


"Rangga, Bapak tahu kamu pemuda yang baik. Tapi untuk menjalin hubungan dengan Arin, kamu harus mengenal dia lebih dulu. Terutama latar belakang dan kehidupannya. Bapak hanya tidak ingin Arin kecewa untuk kedua kalinya. Karena pada akhirnya, sebuah hubungan terjalin bukan hanya mengikat dua hati tapi juga dua keluarga."


Rangga mengerutkan kening, seolah meminta penjelasan maksud dari ucapan Pak Malik.


"Bapak gak tahu apa kamu sudah mendengarnya atau belum, tapi sebelumnya dulu Arin juga pernah dekat dengan seorang pemuda, Donny namanya. Dia pemuda yang baik, dan Bapak dengar dia juga berniat untuk melamar Arin. Tapi pada akhirnya hubungan itu harus kandas, keluarga Donny menentang keras hubungan mereka. Dan itu semua terjadi, karena latar belakang putriku."


"Aku tahu Pak. Aku sudah mendengarnya dari Ardan."


Jawab Rangga.


"Tapi, ada satu hal yang tidak diketahui oleh mereka. Satu rahasia, yang hanya Bapak dan Ibunya Arin yang mengetahuinya. Tapi bagaimanapun juga, Bapak harus menyampaikan ini pada kamu. Bapak harap kamu bisa menyikapinya dengan bijak."


"Soal apa Pak?"


Tanya Rangga.


"Sebenarnya.. Arin bukan putri kandungku. Dia adalah anak yang terlahir dari hubungan gelap mantan istriku dengan selingkuhannya. Kamu tahu Wulan Ayu Ningsih? Dia adalah mantan istriku, Ibu kandungnya Arin. Dia juga yang tempo hari berbuat keributan di rumah sakit ini bersama dua orang suruhannya.


Rangga tertegun. Sebelumnya dia memang sudah mendengarnya dari Ardan, tapi dia tidak menyangka jika latar belakang Arin demikian rumit. Dan tentu dia juga tahu Wulan Ayu, pernah satu ketika saat dia dan Mamanya sedang menonton televisi dan saat itu tengah menyorot sosok Wulan, Mamanya mengatakan wanita itu adalah sala satu teman lamanya.


"Jika kamu benar-benar serius terhadap Arin, Bapak harap kamu bisa menerima dia dengan semua kekurangan dan sisi gelapnya. Dan jika kamu ingin mundur, Bapak harap kamu bersedia untuk menyimpan rahasia ini. Bapak menyampaikan ini agar kamu mengetahuinya dari awal, sebelum semuanya terlanjur jauh dan Arin akan lebih kecewa."


"Aku mengerti Pak, tapi aku tidak akan mundur."


Jawab Rangga.


"Nak Rangga, Bapak tahu kamu benar-benar serius dengan niatmu. Tapi bagaimana dengan keluargamu? Apa kamu yakin mereka akan menerima Arin seperti kamu? Kamu tahu kan, apa yang pernah terjadi pada Arin. Bapak tidak ingin itu terulang lagi."


"Kalau seandainya kedua orangtuaku bisa menerima Arin, apakah Bapak akan memberikanku izin untuk menikahinya?"


Tanya Rangga dengan sorot mata penuh harap.


Pak Malik tertegun. Dia sangat tak menduga jika pemuda dihadapannya ini benar-benar kekeuh dengan keputusannya.


"Baiklah, pertama-tama yakinkan dulu kedua orangtuamu. Setelah itu, baru kamu boleh mendekati putriku."


Jawab Pak Malik akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2