Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Duapuluh Empat


__ADS_3

Keesokan harinya setelah selesai kuliah, Arin pergi bersama Irfan dan Hadi untuk menyusul Bimo.


Om Darma baru saja dirujuk ke salah satu rumah sakit di kota Medan.


Dengan mengendarai sepeda motor, mereka menempuh perjalanan selama tiga jam untuk sampai di kota Medan. Dan karena memang tujuannya searah, Arin tidak membawa sepeda motor sendiri melainkan bersama Irfan.


Pukul tiga sore akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


"Udah bilang Bimo kan kalo kita udah di parkiran?"


Tanya Irfan.


"Udah, aku baru aja whatsapp dia kok. Kita tunggu aja sebentar."


Jawab Arin sambil turun dari motor gede milik Irfan.


Di saat yang bersamaan, sebuah motor gede lain yang dikendarai oleh seorang pria dengan setelan kemeja baru tiba langsung parkir tepat disamping motor milik Irfan.


Pria itu bergegas masuk tanpa memperhatikan sekitar, dia bahkan tanpa sengaja menjatuhkan kunci motor yang tadinya akan dia simpan di saku celananya.


"Itu kayaknya kunci motor abang yang barusan deh.."


Ucap Arin sambil memungut kunci tersebut.


Namun saat ingin mengejar, pria itu sudah tak lagi terlihat.


"Gimana nih, kasihan kan pemiliknya kalau nanti dia tahu kuncinya hilang."


Ucap Arin.


"Yaudah, titipin di satpam rumah sakit aja. Biar nanti satpam yang mengurusnya."


Usul Irfan.


Kemudian Arin menghampiri satpam rumah sakit yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Permisi pak, maaf.. Tadi saya menemukan kunci ini terjatuh, sepertinya ini kunci pemilik sepeda motor itu."


Ucap Arin sambil menyerahkan kunci sepeda motor pada satpam dan menunjuk sebuah sepeda motor gede yang terparkir tepat di samping sepeda motor milik Irfan.


"Oh, yaudah mbak biar nanti saya kasih ke pemiliknya. Kebetulan motor itu milik salah satu dokter magang disini, saya kenal kok."


Jawab Satpam tersebut.


"Iya pak, makasih ya pak."


Setelah menyerahkan kunci motor tersebut kepada satpam rumah sakit, Arin kembali pada teman-temannya. Bimo juga sudah mengirimkan pesan padanya, saat ini Om Darma sedang ditangani oleh tim dokter di ruang ICCU dan setelah prosedurnya selesai Om Darma akan segera di operasi.


"Kita langsung ke ICCU aja, om Darma lagi ditangani sama Dokter. Mudah-mudahan aja bisa segera dilakukan operasi pemasangan cincin."


Ucap Arin saat menghampiri Irfan dan Hadi.


"Yaudah, ayo."


Ucap Hadi.


Ketiga orang itu memasuki gedung rumah sakit. Irfan menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan lokasi ruang ICCU tempat om Darma dirawat. Setelah mendapatkan petunjuk arah, Irfan mengajak kedua temannya untuk menuju ke ruang ICCU.


"Gimana dengan om Darma Bim?"


Tanya Arin saat mereka sudah tiba di depan ruangan ICCU.


"Masih ditangani dokter didalam."


Jawab Bimo yang tampak frustasi sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Apa ada masalah Bim?"


Tanya Irfan yang melihat Bimo tampak sangat cemas dan frustasi.

__ADS_1


"Entahlah. Aku bingung. Biaya operasi pemasangan cincin itu gak murah. Aku udah jual sepeda motor, laptop bahkan menggadaikan rumah. Tapi hasilnya masih belum cukup untuk menutupi biaya operasi."


Jawab Bimo yang tampak sangat putus asa.


"Kamu gak perlu pusing soal itu bro, Insyaa Allah kami akan berusaha membantu. Berapa banyak biaya yang kamu butuhkan?"


Tanya Hadi.


"Total biayanya seratus tiga puluh juta, dan aku baru punya setengahnya. Itupun setelah dibantu oleh beberapa kerabat terdekat papa."


Jawab Bimo.


Arin yang mendengar hal tersebut merasa iba. Bagaimanapun juga, om Darma sudah seperti ayah mereka juga. Selama ini mereka juga sangat dekat dengan om Darma, terutama Arin.


Om Darma selalu menganggap Arin seperti anak kesayangannya. Menurut Bimo, itu karena sejak dulu papanya sangat ingin memiliki anak perempuan.


"Guys, aku ke toilet sebentar ya."


Setelah mengatakan itu Arin bergegas pergi meninggalkan Bimo, Hadi dan Irfan yang masih menunggu kabar kondisi Om Darma yang masih ditangani oleh Dokter.


Salah seorang Dokter muda keluar dari Ruangan bersama perawat.


"Apakah kalian keluarga dari bapak Darma?"


Tanya Dokter tersebut saat menghampiri Bimo dan kawan-kawan.


"Iya Dok, saya anaknya. Gimana kondisi papa saya Dok?"


Tanya Bimo dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


"Setelah kami lakukan pemeriksaan memang ditemukan adanya penyempitan pembuluh darah di area jantung dan harus segera dilakukan operasi pemasangan ring jantung. Kami juga sudah melakukan test dan tidak ada masalah lainnya dan pasien bisa langsung di operasi, mungkin akan memakan waktu tiga sampai empat jam."


Jawab Dokter tersebut.


"Lakukan Dok, tolong selamatkan papa saya. Saya akan berusaha untuk mengurus administrasi secepatnya."


Jawab Bimo tergesa.


Jawab Dokter tersebut sambil tersenyum tulus.


"Baik Dok, terimakasih."


Jawab Bimo sambil menarik napas dalam.


---


Berkali-kali Arin mencoba menghubungi ibunya, dan akhirnya tersambung.


"Arin, ibu masih ada pekerjaan penting. Nanti ibu telepon kamu lagi ya."


"Tunggu bu jangan ditutup dulu, Arin butuh uang."


Arin langsung bicara pada intinya dengan terburu takut kalau ibunya akan menutup telepon yang sudah susah payah dia mencoba menghubunginya.


"Butuh uang? Tumben? Memangnya kamu butuh berapa?"


Tanya ibunya.


"Arin butuh tujuh puluh juta."


Jawab Arin.


"tujuh puluh juta?"


Dari nada bicaranya, ibu Arin sangat terkejut.


"Arin, untuk apa uang sebanyak itu?"


Tanya ibunya.

__ADS_1


"Nanti Arin akan jelaskan, tapi ibu tolong transferin dulu ya. Arin akan ganti kok, Arin akan mencicilnya. Arin mohon bu, Arin benar-benar sangat butuh uang itu."


Arin memohon.


Ibunya terdiam sejenak, seolah sedang berpikir.


"Baiklah, akan ibu transfer ke rekening kamu. Tapi nanti kamu harus jelaskan kamu gunakan untuk apa uang sebanyak itu."


Jawab ibunya.


"Iya bu, makasih ya bu. Arin janji Arin pasti akan ganti uang ibu."


Setelah mengakhiri obrolannya dengan ibunya, Arin kembali menghampiri teman-temannya.


Tak lama kemudian, ibunya mengirimkan pesan bahwa uang yang Arin minta sudah di transfer.


Arin segera membuka m-banking dan memang benar, ibunya sudah mengirimkan sejumlah uang yang tadi dia minta.


Alhamdulillah.. Semoga ini cukup untuk menutupi biaya operasi Om Darma.


Batin Arin.


"Fan, Di.. Aku mau bicara sebentar."


Bisik Arin pada Irfan dan Hadi.


"Kenapa Rin?"


Tanya Irfan setelah mereka sedikit menjauh dari Bimo.


"Soal biaya administrasi, aku rasa kalau kita patungan hasilnya cukup untuk menutupi kekurangannya."


Ucap Arin.


"Rin, aku juga berpikir untuk patungan. Tapi masalahnya kamu tahu kan, setengah dari biayanya itu gak sedikit. Aku cuma punya sepuluh juta."


Ucap Hadi.


"Aku juga gak bisa bantu banyak Rin, aku cuma ada tabungan dua belas juta."


Sambung Irfan dengan nada getir.


"Insyaa Allah itu cukup. Aku udah dapat pinjaman tujuh puluh juta dari ibuku."


Jawab Arin.


"Oke, berarti kita patungan nih. Ayo kita samperin Bimo dulu, ajak dia untuk mengurus administrasinya."


Ucap Irfan.


"Bim, ayo kita urus administrasinya."


Ucap Arin sambil menepuk pundak Bimo.


Bimo menatap bingung. Bagaimana bisa mengurus administrasi, sedangkan dia hanya punya dana setengah dari yang diminta oleh pihak rumah sakit.


begitu pikirnya.


Seolah mengerti dengan tatapan bingung Bimo, Arin tersenyum tulus.


"Insyaa Allah kami bertiga bisa bantu."


Ucapnya.


Bimo masih tertegun tak percaya.


"Udah jangan kebanyakan mikir. Ayo.."


Timpal Hadi sambil menarik Bimo.

__ADS_1


Akhirnya operasi pemasangan ring dilakukan dan berjalan dengan lancar, hanya saja Om Darma masih harus di rawat intensif selama beberapa hari sampai kondisinya stabil sebelum di pindahkan ke ruang rawat inap..


__ADS_2