Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Duapuluh Tujuh


__ADS_3

"Assalamualaikum.."


Arin membuka pintu gerbang dan masuk ke rumah.


"Arin, darimana saja kamu?"


Baru saja tiba dirumah, Arin sudah disambut oleh ayahnya.


"Ayah..? Arin, dari rumah sakit ayah. Orangtua teman Arin sakit dan harus di operasi."


Jawab Arin.


"Bohong! Kamu pikir ayah tidak tahu? Kamu meminta uang dari ibumu kan? Jawab jujur! Apa uang yang ayah transfer masih kurang sampai kamu meminta uang pada ibumu?"


Ayah Arin tampak sangat murka.


"Cukup Malik! Biarkan Arin menjelaskannya. Ayah yakin Arin punya alasan. Lagipula dia meminta pada ibunya, bukan pada oranglain. Apa masalahnya?"


Kakek membela Arin.


"Ayah selalu membelanya kan, bahkan dia salah juga ayah tetap pasang badan untuknya. Apa ayah tahu, dia meminta uang tujuh puluh juta dari ibunya? Sekarang coba ayah tanyakan pada cucu tersayang ayah itu, untuk apa dia meminta uang sebanyak itu?


Apakah untuk menyewa kamar vvip di hotel bintang lima bersama seorang pria?"


Ayah Arin tampak kalap.


"Astaghfirullah ayah, teganya ayah menuduh Arin seperti itu.."


Arin mulai terisak, bahkan kakek sangat terkejut dengan apa yang dikatakan putranya itu.


"MALIK!! Kalau kepulanganmu hanya untuk menyakiti putrimu, lebih baik kamu pergi sekarang. Selama ini ayah selalu diam, tapi kali ini tidak lagi. Jangan pernah pulang jika kepulanganmu hanya untuk membuat keributan dirumah ini."


"Kalau begitu katakan pada gadis badung ini, sebaiknya dia pergi saja bersama ibunya!"


Hardik Malik yang kemudian pergi dengan membawa amarahnya.


"Arin, jangan dipikirkan ya. Ayah kamu hanya sedang banyak pikiran.."

__ADS_1


Ucap Kakek untuk menenangkan Arin.


"Iya kek, Arin paham. Arin ke kamar dulu ya kek."


Apa salah Arin ayah.. Kenapa ayah selalu bersikap begitu. Arin bisa menerima jika ayah tidak peduli pada Arin, tapi haruskah sekejam itu menuduh Arin? Apa salah Arin ayah... Kenapa ayah membenci Arin?


"Arin, ayo makan malam dulu. Nenek udah siapkan makanan kesukaan kamu."


Nenek memanggil Arin dari balik pintu kamar.


"Ntar aja nek, Arin belum lapar."


Jawab Arin.


Nenek membuka pintu, kemudian menghampiri Arin yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


"Arin, nenek tahu kamu pasti sangat sedih dengan apa yang dilakukan ayah kamu. Tapi nenek harap, kamu jangan membenci ayahmu ya sayang. Nenek yakin dia juga sangat menyayangimu, hanya saja dia tidak tahu bagaimana cara menunjukkan sayangnya."


Nenek mengusap kepala Arin perlahan.


"Nek, apakah dulu kakek juga memperlakukan ayah seperti itu? Maksudku, sampai menuduh ayah melakukan hal-hal yang tidak benar."


"Tapi kenapa ayah bersikap begitu nek.. Kenapa ayah terlihat sangat membenci Arin?"


"Arin, tak ada orangtua yang membenci anaknya. Kalau memang dia membencimu, untuk apa dia membawamu kesini? Bisa saja dulu dia meninggalkanmu dan Ardan di panti asuhan, atau bahkan di jalanan. Untuk apa dia repot-repot membawa kamu dan Ardan kerumah ini? Dia menitipkan kalian pada kakek dan nenek, karena dia tahu disinilah tempat yang paling aman untuk kalian. Dan dia yakin meskipun dia meninggalkan kalian disini, kalian tidak akan terlantar."


Arin tertegun. Memang benar apa yang dikatakan neneknya. Kalau saja ayah tidak membawanya, mungkin dia akan sangat terlantar tinggal bersama ibunya yang bahkan nyaris tak pernah ada dirumah.


Dia ingat beberapa tahun lalu saat pertama kali dia kembali ke Jakarta. Saat itu ibunya baru saja pindah ke sebuah perumahan di kawasan elite. Dia harus rela menunggu ibunya seharian didepan rumah, seperti gelandangan. Bahkan ibunya hanya kembali tak sampai satu atau dua jam, kemudian pergi lagi dan baru pulang tiga hari kemudian. Meskipun ibunya selalu mengirimkan uang untuk keperluannya, namun Arin merasa hampa. Dia merasa seperti gelandangan, menghabiskan liburan selama beberapa hari di Jakarta dengan pergi ke tempat-tempat random sendirian. Taman, mall, pantai.


"Sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi. Arin, ayah kamu hanya takut terjadi apa-apa pada kamu. Apalagi kamu anak perempuan, banyak bahaya mengintai diluar sana."


"Iya nek, Arin paham."


Jawab Arin.


"Sekarang kamu matikan dulu laptopnya, kita makan sama-sama. Kakek sudah menunggu di ruang makan. Ayo.."

__ADS_1


Arin mematikan laptopnya, kemudian menyusul neneknya di ruang makan.


-------


"Besok mama akan menemui Amelia, untuk membahas pernikahan Rangga dan Amelia. Dan kalau semuanya berjalan dengan lancar, Insyaa Allah akhir minggu kita akan menemui wali Amelia untuk melamarnya."


Rangga dan Pak Bayu yang sedang menikmati makan malam terkesiap kaget.


"Ma, apa itu gak terlalu cepat? Setidaknya mama kasihlah kesempatan Rangga untuk mengenal Amelia begitu juga sebaliknya."


Ucap Pak Bayu.


"No... Papa, Amelia itu gadis yang langka. Jaman sekarang ini sangat sulit menemukan gadis sebaik dia. Mama yakin kok Amelia akan menjadi istri yang baik untuk Rangga."


"Lalu bagaimana dengan Rangga sendiri, apa mama yakin dia sudah siap untuk menjadi kepala rumah tangga? Rangga, ini adalah pernikahan kamu. Maka pandangan kamulah yang terpenting dalam hal ini."


"Udahlah pa, ma. Gak perlu diributkan. Rangga udah bilang dari awal kan, kalau memang papa dan mama menginginkannya, Rangga gak ada keluhan apapun."


Jawab Rangga yang sejak tadi hanya terdiam.


Rangga langsung berdiri, dan kembali ke kamarnya.


"Mama lihat sendiri kan, Rangga tidak menginginkannya. Kenapa mama selalu memaksakan kehendak mama pada Rangga? Ma, dia itu anak kita satu-satunya.."


"Justru karena Rangga anak kita satu-satunya pa, mama selalu menginginkan yang terbaik untuknya. Papa percaya aja sama mama, cepat atau lambat Rangga pasti akan menerimanya, dan dia akan hidup bahagia bersama Amelia."


Pak Bayu hanya bisa menghela napas dalam.


-------


"Kamu belum tidur?"


Papa menghampiri Rangga yang sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memandang langit.


Rangga menggeleng sesaat, kemudian kembali memandang langit yang malam itu bertabur bintang.


"Rangga, kamu sudah dewasa. Kamu berhak menentukan pilihan kamu sendiri. Papa yakin, kamu tahu apa yang terbaik untuk dirimu. Kalau memang pernikahan ini membebani kamu dan bukan hal yang kamu inginkan, maka jangan lakukan. Papa akan bicara pada mamamu."

__ADS_1


"Lalu setelah itu apa pa, seperti yang sudah-sudah kan. Rangga tidak ingin mendebat mama. Biarlah, Rangga serahkan semua pada mama. Sejak dulu juga begitu kan, selalu mama yang membuat keputusan ataupun pilihan untuk Rangga."


__ADS_2