Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Delapan


__ADS_3

Seorang pria tua berpakaian necis menunggu didepan pintu sambil memainkan ponselnya.


"Cari siapa om?"


Tanya Arin begitu pintu dibuka.


"Siapa kamu?"


Tanya pria tersebut yang tampak terkejut melihat keberadaan Arin di rumah itu.


"Harusnya saya yang tanya, om siapa? Dan ada perlu apa sampai bertamu kerumah orang selarut ini?"


Jawab Arin dengan nada ketus.


Pria itu menatap Arin dari ujung kepala hingga ujung kaki, namun Arin mulai merasa tidak nyaman.


"Apa kamu pembantu baru dirumah ini?"


Tanya pria itu.


Hah? Pembantu? Emangnya mukaku ada tampang-tampang pembantu gitu.


Arin merutuk dalam hati.


"Kalaupun benar saya pembantu, ada keperluan apa om datang kesini?"


Tanya Arin.


"Dimana majikan kamu?"


Tanya pria itu dengan sinis.


"Ibu gak ada."


Jawab Arin juga dengan nada sinis.


Pria itu menatap Arin dengan seksama.


"Siapa kamu sebenarnya?"


Tanya pria itu yang tampak sangat ingin tahu.


Bahaya nih, bahaya. Sepertinya dia bukan pria baik-baik. Tenang Arin, tenang..


Arin yang mulai merasa gusar merogoh kantongnya untuk mengambil botol spray yang sudah dia siapkan.


"Siapa kamu sebenarnya?"


Pria itu kembali bertanya.


"Siapapun aku, pembantu atau bukan apa urusannya dengan om? Sebenarnya apa tujuan om datang kemari? Kalau om mau cari ibu, udah jelas kan aku bilang ibu gak ada. Jadi kalau om punya keperluan dengan ibu, silahkan datang lain kali."


Ucap Arin dengan lantang.


Arin hendak menutup pintu, namun pria itu menahannya.


Arin langsung menyemprotkan spray ke arah wajah pria tersebut dan mengenai matanya, hingga dia mengerang kesakitan. Tak membuang kesempatan, Arin langsung menutup pintu dan menguncinya. Arin berlari kembali ke kamar, kemudian mengunci pintu kamarnya.


Dengan tangan gemetar dan napas yang masih tersengal Arin meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


"Ia Rin?"

__ADS_1


Sapa Donny.


"Bang, tolongin Arin bang.. Arin takut.."


Arin mulai terisak ketakutan.


"Arin, kamu kenapa?"


Donny terdengar panik.


"Didepan, ada orang jahat didepan.."


Jawab Arin dengan napas yang tersengal.


"Arin buka pintunya?"


Tanya Donny.


"Tadinya Arin pikir dia teman ibu dan memang ada hal yang sangat penting, soalnya dia menunggu lebih dari setengah jam diluar sana. Karena gak tega jadi Arin bukain pintu."


"Yaudah, kamu tetap di kamar, kunci pintu dan tunggu sampai abang datang. Abang udah dijalan dan sebentar lagi sampai dirumah kamu."


Ucap Donny.


"Buruan ya bang, Arin benar-benar takut.."


"Iya, ini juga abang udah mau sampe.. Arin tenang dulu ya."


Beberapa saat kemudian Arin mendengar suara ribut-ribut dari luar, namun dia terlalu takut untuk melihatnya.


Akhirnya dia memutuskan untuk tetap berdiam didalam kamar sampai keributan itu mereda.


"Ya Allah.. orang itu masih tetap menunggu diluar.."


Gumam Arin yang mulai ketakutan.


Berkali-kali bel pintu ditekan, Arin tak bergeming dari tempatnya. Dia terlalu takut bahkan meski untuk melangkah keluar dari pintu kamarnya.


Tiba-tiba ponsel Arin berdering, dari Donny.


"Arin, gak perlu takut lagi. Sekarang abang ada didepan. Orang itu baru aja pergi."


Ucap Donny.


Arin bernapas dengan lega.


"Jadi yang menekan bel pintu barusan itu abang?"


Tanya Arin.


"Iya, tadi ponsel abang tertinggal di mobil makanya abang tekan bel. Tapi karena Arin gak bukain pintu, abang balik lagi ke mobil."


"Maaf abang, Arin gak tahu. Arin kirain orang jahat itu.."


Arin merasa bersalah.


"Gak apa Arin.. oh iya, tadi abang bawain makanan untuk Arin, abang udah letakin di depan pintu. Sebenarnya waktu Arin telepon abang tadi juga memang udah dijalan kerumah Arin, karena abang tahu Arin pasti belum makan."


"Abang datang jauh-jauh kesini cuma mau nganterin makanan buat Arin?"


Arin merasa trenyuh dengan perhatian Donny.

__ADS_1


"Iya, yaudah buruan diambil ya. Ntar keburu dingin. Arin gak perlu takut, abang akan disini jagain Arin sampai besok pagi."


"Thank you so much abang.. Yaudah, abang balik gih. Udah malam juga."


"Gak apa, kamu ambil dulu makanannya."


Arin keluar dari kamar, kemudian mengambil kantongan berisi kotak makanan yang sengaja digantungkan Donny di pegangan pintu.


Donny menekan klakson, kemudian melambaikan tangan dari mobilnya yang masih terparkir di depan rumah ibu Arin.


Setelah membalas lambaian Donny, Arin bergegas masuk kedalam rumah dan langsung mengunci pintunya, takut kalau-kalau pria tadi kembali lagi dan mengganggunya.


Malam berganti, mentari mulai menampakkan diri.


Pagi itu Arin berencana akan menemui ibunya di salon kecantikan milik ibunya. Karena malam tadi ibunya tak pulang, dia menduga ibunya masih di salon.


Setelah selesai bersiap Arin bergegas keluar. Dan disaat itulah dia menyadari, sebuah mobil minivan berwarna putih terparkir didepan rumahnya. Dia ingat betul, malam tadi mobil itulah yang digunakan oleh Donny.


"Ini, bukannya ini mobil yang dipake bang Donny tadi malam? Ah, tapi kayaknya gak mungkin.."


Arin memberanikan diri mendekati mobil tersebut, mengintip melalui jendela yang berwarna gelap.


Dan benar saja, Donny masih terlelap didalam mobil tersebut.


Arin mengetuk kaca mobil untuk membangunkan Donny.


Mendengar bunyi ketukan keras didekat telinganya, Donny refleks terbangun dan melihat Arin yang sedang berdiri disamping mobilnya.


Donny langsung membuka pintu dan turun dari mobil.


"Arin, kamu gak apa kan? Gak ada yang ganggu lagi kan?"


Donny tampak masih setengah sadar karena baru saja tersentak bangun, namun dia sangat mencemaskan Arin.


"Ya Allah.. Jadi semalaman abang tidur didalam mobil?"


Arin tampak syok.


Donny tersenyum sumringah, menunjukkan deretan giginya yang putih.


"Abang ngapain nunggu disini semalaman? Kan tadi malam Arin udah bilang, abang pulang aja. Arin gak apa kok, yang penting Arin kan udah kunci pintunya."


"Arin, kamu pikir cuma dengan mengunci pintu itu benar-benar aman? Kalau memang dengan mengunci pintu aja bisa membuat kita aman dari bahaya, gak bakal ada yang namanya maling dan rampok Arin.."


"Tapi kan..."


"Arin, abang baik-baik aja. Buat abang, yang terpenting keselamatan Arin. Abang takut kalau orang itu balik lagi, apalagi Arin perempuan dan sendirian dirumah abang ngerasa gak tenang."


"Abang, makasih ya karena udah jagain Arin.."


Arin tampak tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh Donny.


"Of course lah abang akan jagain Arin, karena abang gak mau orang yang abang sayang sampai terluka."


"Abang, Arin benar-benar bersyukur karena dipertemukan dengan abang."


Ucap Arin dengan takjub.


"Abang juga sama. Abang bersyukur karena setelah sekian lama abang mencari, akhirnya abang ketemu Arin. Mulai sekarang, jangan pernah hilang lagi dari abang. Janji ya.."


Donny menyodorkan jari kelingkingnya, yang disambut oleh Arin sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2