
Rangga sedang menunggu penerbangannya di Bandara Internasional San Fransisco setelah sebelumnya dia transit dari Palo Alto Airport.
Dia harus melakukan perjalanan panjang untuk kembali ke kota Medan. Tapi ini usaha terakhir yang bisa dia lakukan. Dia harus menemui gadis itu, setidaknya untuk menyampaikan perasaannya. Meski dia sadar, mungkin gadis itu telah lama melupakannya. Dia hanya ingin membebaskan hatinya dari gadis yang namanya masih tersimpan sampai saat ini. Dan dia tahu, dia tak punya kesempatan untuk meraihnya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 40 jam akhirnya Rangga tiba di Bandara Internasional Kuala Namu, Medan.
Selanjutnya dia bergegas menuju ke Rumah Sakit, setelah memesan taksi online.
"Dokter Rangga, senang melihat anda disini."
Dokter Nisa yang pertama kali berpapasan dengan Rangga di Parkiran.
"Apa kabar Dokter Nisa? lama tidak berjumpa sepertinya anda akan kedatangan anggota keluarga baru.."
Sapa Rangga sambil tersenyum.
"Alhamdulillah Dokter, Insyaa Allah anak ke dua."
Jawab Dokter Nisa.
"Alhamdulillah, waktu gak terasa berlalu. Sebelum aku pergi yang aku ingat Dokter Nisa baru menikah."
Ucap Rangga.
"Ngomong-ngomong, apa yang membuat Dokter pulang? Saya dengar dari Bu Riana katanya Dokter tidak akan pulang liburan kali ini.."
"Soal itu, kebetulan ada keperluan penting.."
Jawab Rangga berbohong.
"Arin, Kakek minta maaf. Gara-gara kakek, Kamu jadi melewatkan satu momen yang sangat penting. Hari wisuda kamu, Kakek benar-benar minta maaf.."
"Kakek jangan ngomong gitu.. Bahkan jika Arin harus melewatkan seratus momen wisuda, Arin akan tetap lebih memilih menemani kakek. Lagipula, acara itu hanya simbolis. Sekedar ceremony. Yang terpenting, Arin sudah lulus dengan hasil yang sangat baik."
Jawab Arin.
__ADS_1
"Kamu benar.. Ngomong-ngomong, dimana Ardan dan Ayahmu? Kakek belum melihat mereka.."
"Abang sama Ayah ada kok Kek, lagi sholat ashar di mushola. Kak Yoshie sama nenek ada diluar. Apa Kakek mau bicara dengan mereka?"
Kakek mengangguk setuju. Arin baru saja akan keluar, ketika seorang wanita mwmasuki ruangan tersebut dengan dress hitamnya.
"Untuk aoa Ibu kesini. Tolong,jangan bikin keributan lagi. Kakek sedang sakit. Kita bicara diluar."
Ucap Arin dengan nada dingin.
"Tentu saja untuk menjemput kamu. Kalau kamu menolak, Ibu akan menggunakan cara paksa. Bahkan Ibu siap untuk membawa kasus ke pengadilan."
Kakek yang mendengar hal itu semakin syok, Napasnya kembali tersengal dan semakin tidak stabil.
"Kakek.. Kakek baik-baik aja? Suster.. Dokter.. Tolong.."
Arin yang tampak panik langsung berteriak memanggil perawat dan Dokter yang sedang bertugas.
Kondisi kakek semakin kritis, bahkan kini harus dipindahkan ke ruang ICCU. Jadwal operasi yang seharusnya di lakukan besok, mau tak mau harus segera dilakukan secepat mungkin. Tapi masalahnya, Dokter spesialis jantung yang seharusnya melakukan operasi kini sedang berada sangat jauh, di Jerman.
Karena situasinya sangat mendadak, tak ada Dokter lain yang sedang bebas tugas. Arin dan keluarganya kini hanya bisa pasrah, berharap keajaiban.
Arin yang sudah sangat murka dengan kelakuan Ibunya tak lagi bisa menahan sabar.
"Arin, dengarkan Ibu. Suka atau tidak, Kamu harus tetap ikut dengan Ibu. Atau ibu akan bawa permasalahan ini ke ranah hukum. Ibu juga tidak ingin hal seperti ini terjadi, tapi Ibu tidak punya cara lain. Kamu harus ikut dengan Ibu."
"Pergii...!!!"
Pekik Arin sambil mendorong tubuh wanita yang ada dihadapannya hingga nyaris terjungkal.
Tangis dan amarahnya tak lagi bisa dia tahan.
"Arin, beraninya kamu bersikap kurang ajar pada ibumu sendiri?
beginikah cara mereka mendidik kamu selama ini?"
"Arin, tenangkan diri kamu.."
Yoshie mencoba merangkul Arin yang kini sepertj orang yang kalap.
__ADS_1
"Arin,Yoshie, ada apa?"
Ayah dan Ardan baru saja kembali dari mushola dan tampak sangat terkejut melihat Wulan ada disana.
"Mau apa kamu disini? Apa tidak puas kamu sudah membuat ayahku seperti ini? Pergi sekarang, atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar!"
Hardik Malik.
Merasa terancam, akhirnya mau tak mau Wulan pergi dan lagi-lagi dengan tangan kosong.
"Ayah.. Kakek.. Kakek harus segera di operasi tapi.. Tapi tak ada Dokter disini.."
Arin sesegukan bicara pada Ayahnya.
Malik menyandarkan tubuhnya di tembok, sambil menghela napas dalam. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Sedangkan Ardan, pria itu langsung berlari menuju meja administrasi untuk mencari Dokter yang lain.
"Mohon maaf pak, karena situasi ini terjadi begitu mendadak saat ini Dokter Spesialis Kardiovaskular juga sedang menangani pasien yang lain. Kami juga sedang berusaha untuk mengkonfirmasi ke beberapa rumah sakit lain."
Jawaban petugas administrasi membuat Ardan semakin merasa buruk. Kini tak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali menunggu dan berharap.
dengan langkah gontai Ardan kembali ke mushola untuk menenangkan dirinya.
"Dokter Rangga, kebetulan sekali Dokter ada disini. Bisakah Dokter membantu kami melakukan operasi pemasangan ring pada salah satu pasien? Sebenarnya, Operasi ini dijadwalkan dengan Dokter Ilham besok dan seharusnya Dokter Ilham sedang dalam perjalanan kembali dari Konferensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular yang diadakan di Jerman. Tapi Dokter Ilham baru saja memberi kabar, Dokter Ilham ketinggalan pesawat dan itu adalah penerbangan terakhir untuk hari ini. Kita tidak mungkin mengundurkan atau membatalkan jadwal operasi karena semua prosedur sudah dipersiapkan. Lagipula, kondisi pasien semakin kritis dan kalau tidak segera ditangani.."
Dokter Indra yang saat itu tanpa sengaja melihat Rangga langsung menghampirinya.
Rangga terdiam. Dia tengah berperang dengan hatinya. Di satu sisi, dia ingin segera mencari Arin. Dia yakin melihat gadis itu di rumah sakit ini. Tapi, bagaimana dengan pasien?
Dia tahu, dia tak akan mati meski dia tak bertemu dengan Arin. Namun pasien itu, kini nasibnya tengah diujung tanduk antara hidup dan mati. Jika sampai satu nyawa melayang karena keegoisannya, itu akan menjadi penyesalannya seumur hidup.
Rangga menghela napas dalam.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Tapi sebelumnya aku akan sholat ashar ke mushola terlebih dulu. Tolong persiapkan semuanya dengan segera, dan kita akan langsung memulai operasinya."
Akhirnya Rangga mengalah. Meski dia tahu mungkin inilah satu-satunya kesempatan untuknya bertemu dengan gadis itu, namun dia tak ingin mengabaikan tanggung jawabnya hanya karena keegoisannya.
__ADS_1