
"Arin, tante benar-benar minta maaf. Mungkin kamu berpikir tante egois, tapi kalau saja situasinya tidak seperti ini, tante pasti sangat bahagia menyambut kamu dan menerima kamu di keluarga tante. Tante benar-benar memohon sama kamu, tolong tinggalkan Donny. Tante tahu kalian saling mencintai, bahkan Donny sanggup membela kamu didepan om dan tante. Tapi ini bukan hanya tentang cinta kalian. Arin, kamu masih sangat muda. Suatu saat nanti kamu pasti mengerti kenapa tante melakukan ini. Tante mohon, tolong bantu Tante ya."
Ucap Tante Retno dengan wajah sendu penuh harap.
Arin terdiam sambil berpikir. Tentu sangat berat baginya, meninggalkan orang yang dia cintai. Meski dia selalu berkilah dan mengelak, namun dalam lubuk hatinya tentu dia juga berharap. Bahkan sangat berharap, jika kelak Donny lah sosok lelaki akan melamarnya dan menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya. Dia tak pernah berpikir jika situasi seperti ini akan terjadi. Dia nyaris lupa bahwa, dunia ini bukan hanya milik mereka berdua.
Dan bahwa cinta saja tidaklah cukup, untuk membuat mereka bisa bersatu.
"Arin.. Tante mohon.. Tante tahu ini sangat berat untuk kamu, tapi tante benar-benar memohon. Arin.. Lagipula kalian masih sangat muda, perasaan yang kalian punya, itu hanyalah cinta semu yang akan terkikis seiring waktu berjalan. Tante percaya, kamu akan temukan lelaki yang jauh lebih baik dari anak tante. Karena kamu adalah gadis yang baik."
Tante Retno tampak sangat memohon, bahkan dia menggenggam tangan Arin dengan lembut.
Arin menatap dalam tante Retno, terlihat jelas guratan wajah lelah seorang ibu di wajah itu. Jika saja dia egois, ingin sekali rasanya dia menolak permohonan wanita yang ada di hadapannya ini. Namun Arin, hatinya terlalu tulus. Bahkan wajah tante Retno, seolah mengingatkan pada sosok ibunya.
Meski tak pernah benar-benar merasakan kasih sayang ibu dan ayahnya, namun Arin sangat mengerti. Yang dilakukan Tante Retno adalah untuk melindungi keluarganya, anak dan suaminya. Hal yang mungkin akan dia lakukan juga jika dia ada di posisi yang sama.
"Tante gak perlu minta maaf, tante sama sekali gak salah. Dan soal bang Donny, memang benar Arin mencintainya. Bahkan meski Arin tak pernah mengatakannya. Tapi Arin sadar, siapa diri Arin. Sangat gak layak jika disandingkan dengan anak tante. Dia adalah lelaki yang baik, bahkan terlalu baik dan terlalu sempurna untuk Arin. Harusnya sejak awal Arin bercermin diri, Arin bukan yang terbaik untuk anak tante. Arin yang akan mundur. Arin akan melepaskan bang Donny."
Tante Retno memeluk Arin sambil menangis.
"Terimakasih Arin.. Tante tahu kamu adalah gadis yang baik, dan kamu pasti mengerti dengan keadaan ini. Tante doakan, semoga kelak Arin menemukan lelaki yang jauh lebih baik dari Donny. Yang bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan Arin. Lagipula, Arin juga masih muda kan. Masih kuliah juga, fokuslah mengejar cita-cita kamu. Kelak, jika kamu sudah menjadi wanita yang sukses, kamu layak untuk lelaki yang jauh lebih baik dari Donny."
"Tante, boleh Arin minta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Tolong izinkan Arin bertemu bang Donny, untuk yang terakhir kali. Setidaknya, Arin harus mengakhiri ini. Arin gak ingin dihantui rasa bersalah terhadap bang Donny. Arin ingin melepaskannya dengan cara yang baik agar tak ada dendam dan perasaan bersalah di kemudian hari."
"Iya, boleh. Nanti tante akan minta Donny menemui kamu. Sekali lagi terimakasih banyak Arin, sudah mengerti situasi tante. Dan tante minta maaf untuk semuanya."
"Iya tante, Arin paham."
__ADS_1
Jawab Arin sambil tersenyum tulus.
"Kalau begitu, tante pamit dulu Arin. Semoga kelak jika kita bertemu lagi, kamu sudah hidup bahagia."
Tante Retno pergi setelah berpamitan dengan Arin.
Gadis itu tampak nelangsa, wajahnya sendu menahan perih.
Tak ada luka di tubuhnya, namun hatinya terasa disayat. Dan akhirnya, tangisannya tumpah.
dia terisak, dan menangis mengeluarkan semua sesak yang telah tertahan. Lelah menangis, akhirnya Arin tertidur di sofa.
Entah berapa lama dia terlelap, hingga dia sadar seseorang sedang mengusap wajahnya dengan lembut.
Arin membuka mata, dan melihat ibunya yang sudah berlutut didekatnya.
"Ibu? Kapan ibu pulang?"
Tanya Arin yang sedikit kaget karena tiba-tiba ibunya ada didepan mata.
"Sejak sore tadi? Memangnya sekarang jam berapa bu?"
Tanya Arin sambil mengernyitkan kening.
"Jam delapan malam sayang.."
Jawab ibunya sambil mengusap kepala Arin.
"Astaghfirullah bu... Arin kebablasan.. Padahal harusnya Arin balik ke Siantar jam empat sore tadi.."
Arin tampak panik karena menyadari dia telah sangat terlambat.
__ADS_1
"Tenanglah, lagipula kalaupun kamu gak pulang toh ini juga rumah kamu kan.."
Ucap ibu Arin sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih.
"Tapi bu, itu uang tabungan terakhir Arin.. Hangus kan.."
Arin merengek.
"Astaga Arin, ibu ada disini. Kalau kamu mau kamu bisa minta pada ibu, kenapa kamu harus sepanik itu? Lagipula, sudah lama kan kita tidak bertemu. Sudah dua tahun kamu tak pulang, dan sekarang kamu malah sudah mau pergi bahkan sebelum bertemu ibu?"
Protes Ibu Arin.
"Ehm, oke deh. Janji ya ibu beliin tiket untuk Arin. Dan satu lagi, Arin pengen pergi ke Ancol besok sama ibu. Pokoknya Arin gak mau dengar alasan apapun, besok ibu harus temani Arin ke Ancol."
Pinta Arin.
"Arin, kita udah pernah bahas ini sebelumnya kan. Kamu tahu situasinya sekarang seperti apa. Ibu tidak ingin mengambil resiko. Kalau sampai ada orang yang melihat kamu bersama ibu, itu tidak akan baik untuk kamu."
Arin menghela napas dalam.
"Kalau orang lain bertanya, ibu bisa bilang Arin anak dari kerabat ibu kan, atau ibu bisa bilang Arin adalah asisten rumah tangga ibu.."
"Arin, ada apa dengan kamu? Sudahlah, ibu tidak ingin membahas ini lagi. Ibu akan memesan tiket pesawat untuk kamu, jadwal penerbangan besok pagi."
"Baiklah, itu jauh lebih baik ibu. Ngomong-ngomong, Selamat Ulang Tahun."
"Arin, percayalah. Ibu melakukan ini semua untuk kebaikan kamu."
Arin melengos dan langsung mengunci diri di kamarnya.
Arin.. Ibu hanya tidak ingin kamu menjadi korban atas kesalahan ibu. Kenapa kamu tidak bisa mengerti itu..
__ADS_1
Ibu Arin menitikkan airmata, sambil menatap sendu ke arah pintu kamar Arin yang tertutup.
Pada akhirnya, memang tak seorangpun bisa mengerti. Tak seorangpun bisa memahami. Mungkin memang akulah yang terlalu sulit untuk dimengerti, atau mungkin memang mereka yang tidak ingin mengerti.