
"Wulan, tak bisakah satu kali saja kamu tunjukkan dukungan kamu sebagai seorang Ibu? Apakah karirmu itu lebih penting dari segalanya? Sudah bertahun-tahun lamanya, dan kamu masih bersikap egois. Aku sudah tidak lagi perduli apapun yang kamu lakukan, toh kita memang bukan lagi pasangan suami istri. Tapi Ariana adalah putrimu. Dan kamu juga harus ingat, anak-anak tidak tahu apapun soal kita."
Siang itu Malik menemui mantan istrinya di kediamannya.
"Anak-anak? Astaga Malik, jangan konyol. Arin anakku satu-satunya. Jadi, kamu ingin aku pergi ke acara konyol itu?"
Tanya Wulan dengan angkuh.
"Ya, Setidaknya lakukan itu untuk Arin. Sekali saja, tunjukkan padanya kalau kamu perduli."
Malik mengiba.
"Baiklah, aku akan pergi ke acara itu. Tapi dengan suamiku, Ayah kandung Ariana."
Ucap Wulan dengan tegas.
"Wulan, apa maksud kamu?"
Malik tampak sangat terkejut.
"Malik, apa kamu sudah lupa? Aku dan Fahrul menikah tak lama setelah kita berpisah, kamu pun tahu itu kan. Secara siri, tentu saja. Karena saat itu Fahrul belum berpisah dari istrinya. Aku harap kamu juga tidak lupa, Fahrul adalah ayah kandung Ariana."
Malik tercengang mendengarnya.
"Ayolah Malik, kamu gak berpikir kami akan terus-terusan menjalani hubungan gelap kan? Dan aku harap kamu juga gak melupakan, apa yang kamu lakukan dulu.
Kamu pasti masih ingat kan, bagaimana kerasnya kamu melarangku bertemu Arin. Bahkan kamu pernah menyita ponselnya agar aku tidak bisa berhubungan dengan putriku. Tentu saja saat itu dengan sangat terpaksa aku harus mengalah, karena aku belum bisa membawanya bersamaku. Tapi sekarang tidak lagi Malik. Aku akan membawa Arin bersamaku."
"Kamu benar-benar picik Wulan. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Arin? Apa kamu kira dia akan menyambut kalian dan menerima begitu saja? Lalu bagaimana dengan pandangan orang. Apa kamu gak memikirkan resikonya terhadap putrimu, Arin akan menjadi bulan-bulanan media. Ibu macam apa kamu ini??"
Malik menghardik Wulan.
"Jangan sekali-kali meninggikan suara di hadapanku, Malik. Karena kamu tidak punya hak untuk itu. Ngomong-ngomong, acara wisuda itu sepertinya menjadi kesempatan yang bagus untukku tampil bersama suami dan anakku satu-satunya. Benar kan Malik? Oh ya, tentu saja kami akan menjadi keluarga yang bahagia. Arin akan melanjutkan kuliah S2 di luar negeri, dan dia akan hidup lebih layak. Karena dia tidak akan pernah kekurangan uang sepeserpun hingga harus meminjam uang daei orang lain. Kamu tahu siapa Fahrul kan.."
__ADS_1
Ucap Wulan dengan senyum menghina.
"Kamu benar-benar wanita yang kejam Wulan. Aku menyesal datang kemari. Dan satu lagi, jangan harap kamu bisa datang di acara wisuda itu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Malik, kamu tidak berhak melarangku. Kamu juga tahu itu. Lusa aku dan suamiku akan menjemput Arin. Dia akan tinggal bersama kami. Dan kamu, tidak punya hak untuk melarang kami."
Ucap Wulan dengan tatapan sinisnya.
"Oh ya, lalu apa kamu pikir pria brengsek itu akan menerima Arin begitu saja? Bukankah dulu kamu justru berniat untuk membuang putrimu sendiri karena ayahnya tidak menginginkan dia?"
Malik mencela.
"Tentu saja dia akan menerimanya. Sebenarnya Malik, akulah yang berbohong. Aku tidak ingin menghancurkan karirku yang saat itu sedang mulai stabil, maka ku katakan pada Fahrul kalau aku menggugurkan kandunganku. Dia sangat marah saat mendengarnya. Dan aku juga baru tahu, kalau ternyata bukan dia yang membayar orang untuk mengancamku. Tapi itu adalah ulah mantan istri sahnya. Tapi baguslah, Fahrul sudah berpisah dengannya. Apa gunanya menikah dengan orang yang tidak bisa memberikan keturunan. Aku benar kan, Malik?"
"Wulan..!"
"Kenapa, kamu marah? Itu faktanya Malik.. Apa yang aku dapatkan setelah menikah denganmu? Tidak ada.. Sama sekali tak ada Malik.. Sekarang lihat aku, dengan bantuan Fahrul aku bisa mencapai semua mimpiku. Termasuk menjadi seorang istri seutuhnya dan menjadi seorang ibu. Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu. Lusa aku akan membawa Arin bersamaku. Dan kalau kamu mencoba menghalangiku, aku tidak akan segan membawa kasus ini ke jalur hukum."
Malik yang sangat marah pergi begitu saja, dengan wajah merah menahan amarah.
Tanya Arin yang siang itu baru saja sampai di bengkel dan kini ada di ruangan Ayahnya.
"Tadi pagi sih pamitnya ke luar kota ada urusan sama klient. Gak tau kemana."
Jawab Ardan enteng.
Tentu saja mereka tak menaruh curiga pada Ayahnya, karena sebelumnya memang Ayahnya sering bepergian. Bengkel yang sekarang mereka kelola bisa menjadi besar bahkan sampai membuka beberapa cabang, itu berkat usaha keras ayahnya meyakinkan investor untuk menanamkan modalnya dengan sistem bagi hasil.
"Brosur apa itu Rin?"
Tanya Yoshie yang saat itu melihat Arin duduk di sofa sambil membaca sebuah brosur.
"Oh, ini brosur tawaran kuliah di Standford. Tadi Irfan yang kasih ke Arin."
__ADS_1
Jawab Arin.
"Kamu mau kuliah di luar negeri Dek?"
Tanya Ardan yang tampak antusias.
"Entahlah Bang, Arin masih bingung. Sejujurnya, Arin belum membuat keputusan apapun soal itu."
Jawab Arin sambil meletakkan brosurnya di atas meja.
"Dek, harusnya kamu tuh bersyukur. Karena Ayah mendukung kamu kuliah. Kalau Abang jadi kamu, Abang gak akan berpikir dua kali. Tentu Abang akan mengambil kesempatan."
"Iya Bang, Arin paham."
Jawab Arin.
Setelah dari bengkel Ayahnya, Arin pergi ke sebuah butik untuk membeli pakaian kebaya yang akan dia gunakan di acara wisuda yang kurang dari seminggu lagi akan digelar.
Waktu menjelang wisuda semakin dekat. Hanya dua hari lagi, dan Arin semakin frustasi. Sehari sebelumnya, Ibunya sudah mengatakan akan datang dan membawanya. Namun Arin belum mengatakan apapun pada Ayahnya soal itu. Bahkan Ayahnya juga belum kembali sejak dua hari lalu. Dia tahu persis bagaimana Ayahnya, dan dia tak ingin mengambil resiko kembali dibenci oleh Ayahnya. Bagaimanapun juga, selama ini justru Ayahnya lah yang lebih perduli padanya. Ya, meskipun dia menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda.
Malam itu Malik kembali ke kantornya, setelah dua hari dia tak pulang.
Malik menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Sangat lelah rasanya, bukan hanya fisik tapi juga hatinya. Pikirannya hanya tertuju pada Arin. Kenyataan bahwa Arin bukanlah putri kandungnya, dia sudah bisa menerimanya. Tapi bagaimana dengan Arin, akankah dia bisa menerima kenyataan bahwa Malik bukanlah Ayah kandungnya?
Saat tengah berpikir, tanpa sengaja Malik melihat sebuah brosur di atas meja. Malik meraih brosur itu, kemudian membacanya.
"Tawaran kuliah S2 di Standford? Apakah Arin akan kuliah disana? Atau mungkin Wulan sudah bicara pada Arin? Kenapa Arin tidak mengatakan apapun padaku?"
Gumam Malik.
Dia meletakkan brosur itu kembali di atas meja, kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan sekarang.."
Malik menghela napas panjang, kemudian memejamkan matanya.