
Pukul delapan pagi, Arin dan Yoshie akhirnya tiba di pasar tradisional Kuromon, yang terletak di Osaka.
Pasar itu tampak cukup ramai dipadati para pedagang dan pembeli.
Proses jual beli bisa dilihat di hampir setiap kios.
Tak jauh berbeda dengan pasar pada umumnya.
"Di pasar ini menjual bahan makanan yang masih segar Rin. Dan yang paling terkenal disini, adalah olahan ikan buntalnya."
Yoshie memberi penjelasan.
"Tapi, setahu Arin ikan buntal itu beracun kak."
Ucap Arin tampak heran.
"Memang benar, tapi penyaji ikan buntal di pasar ini sudah sangat terlatih. Sebelum menjadi seorang mualaf, dulu aku juga suka menikmati sajian ikan buntal di pasar ini, tapi memang sangat jarang."
Jawab Yoshie.
"Kak, boleh Arin tanya sesuatu?"
Arin tampak sedikit ragu.
"Boleh, tanyakan saja."
Jawab Yoshie sambil tersenyum.
"Sebelumnya Arin minta maaf, kalau pertanyaan Arin agak pribadi. Arin hanya ingin tahu bagaimana awal mula kakak tertarik dengan islam, hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang mualaf."
Arin merasa sangat sungkan, dan takut jika pertanyaannya justru menyinggung Yoshie. Namun tanpa diduga, wanita itu justru tersenyum dengan tulus.
"Aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak disini. Nanti aku akan membawamu ke salah satu masjid yang terletak di pusat kota Osaka, disanalah semuanya bermula. Kamu gak keberatan kan?"
Jawab Yoshie.
"Tentu aja gak kak, aku malah senang. Aku juga penasaran sih, gimana kehidupan umat muslim di Jepang."
Jawab Arin dengan mantap.
Setelah selesai belanja kebutuhan dapur, Arin dan Yoshie bergegas kembali ke apartemen.
-------
Arin dan Yoshie sudah tiba di pusat kota Osaka, dan saat ini mereka sedang berada di masjid Osaka.
Bangunan masjid tampak berdiri kokoh. Tak ada kubah ataupun simbol bulan sabit dan bintang seperti yang umumnya dijumpai di Indonesia, dengan dominan warna hijau dan putih juga kaligrafi di beberapa bagian sebagai penanda.
__ADS_1
"Kalau Arin ingin tahu, di tempat inilah awal mulanya aku merasa terpanggil untuk mengenal dan mendalami islam. Di masjid ini juga, pertama kalinya aku bertemu dengan abang Ardan."
Yoshie memulai ceritanya setelah mereka selesai melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.
"Di masjid ini?"
Tanya Arin memastikan.
"Benar. Lima tahun yang lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku mendengarkan lantunan suara adzan yang sangat menggetarkan. Disini, tepat didepan masjid ini. Waktu itu aku sedang liburan bersama teman-temanku. Bahkan saat itu aku tidak tahu, jika itu adalah penanda memasuki waktu sholat untuk umat muslim.
Aku hanya merasakan ketenangan, saat suara merdu itu bergaung.
Kemudian aku melihat beberapa orang pria dan wanita memasuki masjid ini, saat melihat penampilan wanita-wanita muslim dengan kerudung mereka barulah aku menyadarinya. Tapi, apa yang aku lihat justru membuatku semakin tertarik."
"Apakah sejak itu kakak memutuskan untuk mendalami islam?"
Tanya Arin.
"Masih belum, aku bahkan belum menyadarinya sampai ketika aku pergi ke kuil untuk sembahyang. Arin, sebelumnya aku adalah umat buddha yang taat begitu juga dengan keluargaku. Tapi hari itu, disaat aku akan memasuki kuil entah kenapa tiba-tiba lantunan suara adzan bergema di telingaku. Tubuhku bergetar hebat, dan mendadak aku merasa takut. Sangat takut, bahkan aku tidak berani menginjakkan kaki kedalam kuil. Keluargaku sangat panik, dan awalnya menduga aku sedang dirasuki roh jahat.
Mendadak aku berlari menjauhi kuil dan kembali ke dalam mobil. Tapi setelah itu, aku baik-baik saja."
"Masyaa Allah.. Kak, Arin yakin itu adalah hidayah yang sudah Allah berikan untuk kakak. Bahkan sejak awal, saat kakak mendengarkan suara adzan berkumandang."
Ucap Arin.
"Saat itu aku benar-benar bingung Rin. Setelah tiba di rumah, aku langsung di interogasi oleh keluargaku. Mereka ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi padaku, kenapa aku berlari seperti orang tidak waras saat berada didepan kuil."
Tanya Arin tampak antusias.
Kemudian Yoshie menceritakan segala liku-liku perjalanan hidupnya hingga akhirnya dia secara resmi memeluk islam dan menikah dengan Ardan setelah perkenalan singkat di Masjid Osaka.
"Masyaa Allah.. Aku benar-benar kagum sama kakak. Bahkan meskipun sampai ditentang oleh keluarga, kakak tetap teguh dengan keputusan kakak."
Ucap Arin dengan takzim.
"Rin, setiap keputusan yang kita ambil, kita harus siap dengan resikonya. Meski sampai saat ini keluargaku masih memusuhiku, tapi doaku tidak pernah putus untuk mereka. Aku berharap semoga kelak Allah juga membuka pintu hati mereka dan menerimaku kembali."
"Kakak gak merasa dendam, atau benci dengan keluarga kakak?"
Tanya Arin.
"Aku tidak punya alasan untuk membenci mereka Rin. Aku yakin mereka juga tidak membenciku. Mereka hanya sangat kecewa, karena aku memilih jalan yang bertentangan dengan mereka. Itu saja. Bagaimanpun juga, mereka adalah keluargaku. Terutama mommy dan daddy. Bukankah dalam islam kita juga diajarkan untuk berbakti kepada kedua orangtua?"
"Kakak pasti sangat merindukan orangtua kakak ya.."
"Sangat rindu Rin. Setiap waktu, doaku untuk mereka. Aku menerima dengan ikhlas semua yang terjadi, karena aku yakin dengan janji Allah.
__ADS_1
Harapku tak pernah padam Rin. Jika kelak Allah berikan surga untukku, aku ingin mommy dan daddy juga ada didalamnya."
Arin mengusap pundak Yoshie, untuk memberikannya ketenangan.
"Insyaa Allah kak, semoga Allah mengijabah doa-doa kakak.
Allah tidak pernah mengabaikan doa dari hambanya yang bertaqwa. Jika tidak sekarang, kelak Allah akan makbulkan doa kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Yang terpenting kita tetap yakin, dan percaya dengan kuasa Allah."
"Aamiin.. Insyaa Allah Rin."
Saat Arin dan Yoshie masih berbincang, seorang wanita menghampiri mereka.
"Assalamualaikum, Yoshie."
"Waalaikumsalam.."
Jawab Yoshie yang kemudian merangkul wanita itu.
Untuk sesaat Yoshie berbincang dengan wanita itu, kemudian memperkenalkan Arin kepadanya, begitu pula sebaliknya.
"Arin, ini kak Sakura. Beliaulah yang telah banyak berjasa membantuku dalam masa-masa tersulitku.
Sakura-chan, arindesu. Watashi no gikei wa Indoneshia shusshindesu."
(Kak Sakura, Ini Arin. Dia adik iparku dari Indonesia)
"Assalamualaikum Arin.."
Sakura mengulurkan tangannya sambil tersenyum kepada Arin.
"Waalaikumsalam kak Sakura.."
Jawab Arin yang juga tersenyum sambil menjabat tangan Sakura dan memeluknya.
"Sepertinya sudah hampir waktunya, ayo kita masuk."
Yoshie berkata pada Arin.
"Waktu apa kak? Bukannya kita baru selesai sholat dzuhur?"
Tanya Arin tak mengerti.
"Maaf, aku lupa memberitahu kamu. Biasanya setiap minggu usai dzuhur di masjid ini mengadakan perkumpulan. Tujuannya adalah untuk menjaga silaturahmi antar sesama muslim. Alhamdulillah, semakin lama islam di Jepang semakin berkembang. Tak sedikit juga orang yang mendapatkan hidayah, dan akhirnya memutuskan untuk mendalami islam."
"Oh, iya Arin paham. Kalau di Indonesia, perkumpulan seperti ini biasanya disebut pengajian. Arin jadi gak sabar, ingin mengetahui lebih banyak perkembangan islam di negara ini."
Ucap Arin dengan antusias.
__ADS_1
"Kamu akan segera melihatnya."
Jawab Yoshie sambil tersenyum.