Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Empat Puluh Enam


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya Kakek bisa beristirahat dengan nyaman sekarang."


Ucap Arin dengan lega setelah Kakek dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Alhamdulillah Rin, Kakek bosan diruangan itu. Dipasangin banyak alat, susah gerak, dan cuma ada satu orang yang jadi teman bicara Kakek. Sekarang kakek baru sadar kalau Ardan orang yang membosankan. Bahkan Dokter Rangga masih lebih baik darinya."


Ucap Kakek dengan suara yang masih sedikit lemah.


"Badan sakit, tapi selera humor masih normal ya kek."


Balas Ardan dan dibalas tawa lemah Kakek.


"Tapi, Kakek juga senang. Malam tadi juga Dokter Rangga memeriksa kondisi Kakek. Kami banyak bicara."


"Sepertinya Ayah menyukai Dokter muda itu."


Ucap Pak Malik.


"Ya, siapapun pasti akan kagum dengan Dokter muda berbakat seperti Dokter Rangga. Dia tampan, dia juga sangat sopan. Cara dia berbicara dengan orang lain, benar-benar khas orang yang beretika. Pasti keluarganya sudah mendidik dia dengan sangat baik."


Jawab Kakek.


"Kakek pengen gak sih Dokter Rangga jadi cucu menantu kakek?"


Tanya Ardan tiba-tiba, dengan senyum jahilnya.


"Abang.."


Arin melirik tajam.


"Hahaha.."


Kakek tertawa lepas.


"Tentu saja, siapa yang bisa menolak pesona Dokter setampan dia. Kakek rasa hanya gadis bodoh atau gadis buta saja yang tidak ingin menjadi istrinya. Arin, kalau mau mencari suami carilah yang seperti Dokter Rangga. Kakek yakin dia pria yang baik."


Sambung Kakek.


"Tidak!"


Ayah Arin tampak pias, spontan semua orang yang ada di ruangan itu menoleh padanya termasuk Arin.


"Ehm, maksudnya Ayah juga tidak akan menolak kalau dia menjadi menantu Ayah."


Ucap Pak Malik sambil mengusap hidungnya.


"Nah Rin, udah dapat lampu hijau tuh dari Kakek dan Ayah."


Ucap Ardan sambil tertawa jahil.


"Abang..."


Arin mencawel perut Ardan karena malu.


Pak Malik keluar dari ruang pasien dengan wajah yang masih tampak pias,entah keluarganya menyadari atau tidak reaksinya beberapa saat lalu.


Pak Malik berjalan menyusuri lorong rumah sakit, hingga akhirnya dia memilih untuk duduk di salah satu kursi taman.


"Maaf, boleh saya duduk disini?"


Seorang lelaki muda menghampiri Pak Malik.


"Silahkan, lagipula ini tempat umum."


Jawab Pak Malik tanpa melihat siapa yang menyapanya.


"Sepertinya Bapak sedang banyak pikiran?"


Pak Malik menoleh untuk melihat orang disampingnya.


Seorang pemuda berusia dua puluhan dengan penampilan casual tersenyum memamerkan gigi putihnya.


"Dokter Rangga.."

__ADS_1


"Gimana kondisi Kakek Jailani Pak?"


Tanya Rangga.


"Alhamdulillah, Ayah sudah dipindahkan ke ruang rawat inap sekarang. Ngomong-ngomong, terimakasih karena tadi malam Dokter menyempatkan diri mengunjunginya."


"Cukup panggil Rangga aja Pak, saya masih cuti panjang karena sedang melanjutkan S3. Tapi karena sejak awal Kakek Jailani adalah pasien saya, Insyaa Allah saya akan tetap bertanggung jawab sampai Kakek pulih. Lagipula saya juga masih libur semester, dan saya sudah meminta izin pada kepala Rumah Sakit untuk menangani Kakek Jailani."


Jawab Rangga.


"Baiklah, Nak Rangga. Saya benar-benar berterimakasih untuk itu."


Ucap Pak Malik.


"Pak Malik, bisa kita bicara?"


Tanya Rangga dengan raut wajah serius.


"Bukankah sejak tadi kita sudah bicara?"


Jawab Pak Malik dengan enteng.


"Maksud saya, pembicaraan yang sangat serius."


Pak malik mengerutkan dahi.


"Pembicaraan serius apa? Apakah ini ada kaitannya dengan penyakit ayahku?"


Pak Malik tampak sangat ingin tahu.


"Tidak, sama sekali bukan soal itu. Tapi, ini berkaitan dengan masa depan saya."


Jawab Rangga.


"Kenapa dengan masa depan kamu?"


Pak Malik tampak bingung.


Air muka Pak Malik tampak semakin pias.


"Saya tahu ini lancang, dan saya benar-benar minta maaf karena mengatakannya di saat yang gak tepat, tapi saya benar-benar berharap Bapak mengizinkan saya untuk mendekati Arin."


"Tidak!"


Jawab Pak Malik. Kini wajahnya semakin pias.


"Saya mohon Pak.."


Rangga mengatupkan kedua tangan, dengan wajah sangat memohon.


"Dokter Rangga, saya rasa pembicaraan kita sudah selesai sampai disini."


Pak Malik beranjak dari tempatnya, meninggalkan Rangga yang tampak bingung.


 


"Ayahku menolak? Wah, sepertinya kamu harus berjuang keras untuk meluluhkan hatinya."


Ucap Ardan saat bertemu dengan Rangga di kantin Rumah sakit.


"Ya, memang salahku juga sih Mas. Pak Malik baru mengenalku, wajar saja dia menolak. Tak ada satupun ayah yang mau melepaskan putri kesayangannya untuk lelaki sembarangan."


Jawab Rangga.


"Tapi tenang aja, aku akan membantu kamu."


Ardan tampak sumringah.


"Makasih Mas."


"Oh iya, tapi kamu memang benar-benar masih single kan?"


Tanya Ardan dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Single Mas, demi Allah. Kalo mas gak percaya mas boleh tanyakan kepada siapapun orang yang mengenalku di rumah sakit ini. Bila perlu aku akan membawa Mas bertemu keluargaku."


Jawab Rangga dengan yakin.


"Baiklah, aku percaya padamu."


Jawab Ardan sambil tersenyum kecil.


----------------------- 


"Saya tahu ini lancang, dan saya benar-benar minta maaf karena mengatakannya di saat yang gak tepat, tapi saya benar-benar berharap Bapak mengizinkan saya untuk mendekati Arin."


Kata-kata Rangga terekam jelas dalam pikiran Pak Malik.


Tentu saja, dia sangat berharap kelak Arin akan menemukan sosok pria terbaik untuk menjadi pendamping hidupnya.


Namun dia belum bisa lupa peristiwa beberapa tahun silam, saat Arin harus merasakan perihnya kecewa karena hubungan yang tak direstui.


Didepan banyak orang, dia tampak seperti ayah yang tak peduli pada anak-anaknya. Namun sebenarnya, dia tahu persis apa yang terjadi pada anak-anaknya.


Tak ada ayah yang akan tega melihat putrinya terluka.


"Malik, apa yang sedang kamu pikirkan?"


Tanya Ibunya saat melihat Pak Malik duduk di sofa dengan wajah ditekuk.


"Gak ada apa-apa bu."


Jawab Pak Malik berbohong.


"Dimana Arin?"


"Dia sedang ke mushola dengan Yoshie."


Balas Ibunya.


"Malik, ayah mau bicara sebentar."


Ayahnya tampak masih sedikit lemah namun terdengar nada ketegasan dari suaranya.


Ibunya keluar untuk memberikan Pak Malik bicara empat mata dengan ayahnya.


"Ada apa Yah?"


Tanya Malik sambil berpindah ke bangku di samping ranjang pasien.


"Malik, Ayah ingin mendengar pendapatmu. Tentang Dokter Rangga."


"Kenapa dengan Dokter Rangga?"


Tanya Pak Malik yang tampak mengerutkan dahi.


"Menurutmu, apakah dia layak untuk menjadi pendamping Arin?"


Pak Malik sangat terkejut dengan pertanyaan Ayahnya.


Lama dia terdiam, tampak sedang memikirkan sesuatu."


"Malik, apa jawabanmu?"


Tanya Ayahnya.


Pak Malik menarik napas dalam.


"Begini Ayah, aku akui Dokter Rangga lelaki yang baik. Tapi kita harus menilainya dengan jeli. Dia seorang Dokter muda, dia tampan dan kaya. Mungkin saja banyak gadis di sekelilingnya. Ditambah lagi dengan keluarganya, kita baru mengenalnya dan kita tidak tahu bagaimana latar belakang kehidupannya."


Jawab Pak Malik.


"Tapi Ayah menyukai dia, Ayah yakin dia lelaki yang baik dan jujur. Ayah sangat ingin memiliki cucu menantu seperti dia."


Ucap Ayahnya.


Pak Malik hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2