Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

"Arin, Kamu gak apa-apa? Ada yang luka gak?"


Rangga tampak sangat cemas.


"Mas Rangga, kok bisa ada disini?"


Arin dengan sigap mengusap wajahnya yang sembab.


"Maaf ya Mas, aku gak fokus lihat jalan. Mas gak apa-apa kan?"


Rangga menggeleng sambil tersenyum.


"Syukurlah kamu baik-baik aja, kalau tadi aku terlambat mungkin.."


Arin dan Rangga mencoba bangkit, namun tampaknya Rangga kesulitan. Sikunya terasa sakit karena terbentur aspal saat mencoba menyelamatkan Arin tadi.


Arin membantu Rangga berdiri.


"Mas Rangga beneran gak apa?"


Tanya Arin.


"Gak apa-apa kok. Cuma sedikit lecet."


Jawab Rangga berbohong.


"Kamu ngapain malam-malam begini jalan sendirian, kan bahaya."


Arin mencoba mencari alasan.


"Ehm, aku mau ketemu sama temanku Mas. Kami memang udah janjian mau ketemu di sekitar sini."


Jawab Arin berbohong.


Namun tentu saja, wajah sembabnya tak bisa berdusta.


Rangga menyipitkan mata, menatap Arin dengan rasa curiga. Sebelumnya dia melihat Arin berlari terburu dari rumah sakit dan dengan wajah sembabnya, Rangga seolah tahu Arin sedang berbohong.


"Yasudah, biar aku antar."


Tawar Rangga.


"Gak usah Mas, gak apa kok. Lagian aku yakin mas Rangga juga sibuk kan."


Arin menunjuk jas putih Rangga. Tentu saja, dia lupa melepasnya ketika mengejar Arin tadi.


"Disini bahaya, kamu gak lihat jalanan ini sepi? Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Keluargamu juga pasti akan khawatir. Ayo, biar aku antarkan."


Arin hanya bisa pasrah. Percuma saja menolak keinginan pria yang ada didepannya ini.


Arin merogoh sakunya, meraih ponsel dan mencoba menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Re, kamu dimana?"


Tanya Arin saat panggilan sudah terhubung.


"Oh, yaudah aku ketempatmu sekarang."


Kemudian Arin mengakhiri panggilan.


"Temanku ada dirumah, sepertinya dia sedang kurang sehat."


Arin mencoba mencari alasan lain agar Rangga tidak semakin curiga.


"Kamu mau kerumahnya?"


Tanya Rangga.


Arin mengangguk.


"Yasudah, ayo biar aku antar kamu kesana."


Arin menggeleng dengan cepat.


"Gak usah Mas, aku bisa pergi sendiri dengan ojek. Lagipula rumahnya tak jauh dari sini."


Tolak Arin.


"Maaf Arin, tapi aku tidak suka dibantah. Lagipula aku sudah berjanji pada Kakek akan menjaga kamu."


"Arin, kok kamu ngomongnya men.."


Arin langsung menutup mulut Rere agar temannya itu tidak keceplosan bicara, karena sebenarnya mereka tak ada janji sebelumnya.


"Karena tadi kamu bilang lagi kurang sehat, jadi aku pikir sebaiknya aku kesini."


Ucap Arin sambil memberi isyarat mata pada Rere.


Seolah mengerti dengan maksud Arin, Rere hanya mengangguk.


"Iya, maaf. Memang sepertinya hari ini aku sangat lelah. Banyak kerjaan di kantor. Ngomong-ngomong, makasih loh Dok udah nemenin Arin sampai sini. Padahal tadinya aku yang mau menjemputnya."


"Gak apa, kalau begitu aku pamit dulu. Rin, kabari aku kalau kamu akan kembali ke rumah sakit nanti."


Rangga memberikan kartu namanya pada Arin.


"Gak apa Dok, nanti aku yang akan mengantarkan Arin kesana. Lagipula mungkin malam ini Arin akan menginap disini."


Balas Rere.


 


"Apa yang terjadi Rin?"

__ADS_1


Tanya Rere begitu Rangga pergi.


"Bukan apa-apa, tadi aku cuma kebetulan bertemu dengan Dokter Rangga di jalan."


Jawab Arin berbohong.


"Tidak, bukan soal itu. Aku bertanya karena wajahmu yang sembab, apa kamu menangis? Rin.. Aku mohon setidaknya berbagilah sedikit masalahmu, jangan menyimpannya sendiri."


Bujuk Rere.


"Aku baik-baik aja Re, aku cuma sedikit lelah karena beberapa hari ini kurang istirahat sejak Kakek dirawat."


Rere menghela napas dalam.


"Yasudah, kalau begitu kamu istirahatlah dulu disini. Ini kunci rumahku, besok sebelum subuh aku harus berangkat ke Bandung. Kamu boleh gunakan rumah ini sambil menunggu sampai Kakek diizinkan untuk pulang."


Rere menyerahkan kunci rumahnya kepada Arin.


-------------------------


"Assalamualaikum Bang Ardan, maaf aku mengganggu malam-malam begini. Aku hanya mau memberitahu kalau saat ini Arin sedang ada dirumahku. Tadi Dokter muda itu yang mengantarkan Arin kesini. Aku gak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya Arin sedang ada masalah. Aku sengaja menghubungi Abang, agar Abang dan Om Malik gak khawatir terhadap Arin. Insyaa Allah dia aman dirumahku."


Malam itu secara diam-diam Rere menghubungi Ardan untuk memberitahu keberadaan Arin, mengingat sebelumnya Arin juga sempat pergi dari rumah sakit dan membuat keluarganya cemas.


"Waalaikumsalam. Iya, makasih banyak ya Re. Abang titip Arin, tolong jaga dia."


"Insyaa Allah Bang, tapi besok pagi aku harus pergi ke Bandung. Mungkin untuk sementra Arin akan tetap disini."


"Iya Re, Abang mengerti. Mungkin Arin butuh waktu untuk menenangkan diri. Nanti Abang akan coba bicara dengan Ayah, mungkin memang sudah terjadi sesuatu."


"Siapa Bang?"


Tanya Yoshie saat Ardan mengakhiri panggilan.


Rere, temannya Arin. Dia bilang Arin ada dirumahnya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, besok Abang akan coba bertanya pada Ayah."


Jawab Ardan.


--------------------------


"Jadi, Arin sudah tahu yang sebenarnya?"


Ardan tampak terkejut setelah mendengar semua dari Ayahnya.


"Ardan, Ayah tahu kalian kecewa pada Ayah. Ayah benar-benar minta maaf untuk itu. Ayah terlalu menyayangi kalian, sampai ayah tidak sanggup untuk mengatakan kebenarannya. Selama ini ayah mengira lembaran hitam itu telah tertutup rapat dan tidak akan pernah terbuka lagi. Ayah berusaha untuk menjauhkan Ibu kalian, agar rahasia ini tidak terbongkar. Tapi ternyata Ayah salah. Ayah benar-benar tidak menyangka jika pada akhirnya Ibu kalian berkeras untuk membawa Arin, setelah selama ini dia mengabaikannya."


"Mengabaikannya? Apa maksud Ayah?"


"Ardan, dua puluh tiga tahun lalu begitu Ayah tahu Ibumu mengandung Ayah benar-benar sangat marah dan kecewa. Kamu mau tahu kenapa? Karena sebenarnya, Dokter sudah menyatakan Ayah mandul. Itulah sebabnya kami mengadopsi kamu dari panti asuhan. Tapi ketika itu Ibu kalian, dia terlihat sangat menyesali perbuatannya. Dia berniat untuk menggugurkan kandungannya karena awalnya dia mengira pria yang tidak bertanggung jawab itu tidak menginginkan anaknya. Apakah kamu pikir Ayah akan setega itu, membiarkan nyawa yang tak berdosa menjadi korban dari dosa orangtuanya? Akhirnya Ayah mengalah, Ayah berikan Ibu kalian kesempatan dan menerima bayi yang sedang dia kandung. Dengan syarat dia harus benar-benar berubah dan meninggalkan segala kehidupannya yang dulu. Perlahan Ayah dan Ibu kembali hidup bahagia, kami menutup lembaran lama dan memulai kehidupan yang baru. Setelah kelahiran Arin, kami merasa hidup kami semakin terlengkapi dengan kehadiran kalian. Tapi itu tak berlangsung lama. Ibu kalian kembali menjalin hubungan dengan Fahrul secara diam-diam. Ayah sudah mulai curiga saat Ibu kalian sering pulang larut malam bahkan beberapa kali dia tidak pulang dengan alasan pekerjaan. Hingga akhirnya semuanya benar-benar terbongkar, dan ayah merasa tak ada lagi kesempatan yang bisa ayah berikan padanya. Hari dimana ayah membawa kalian pergi, di hari yang sama Ayah melihat dengan mata kepala Ayah sendiri Ibu kalian sedang bersama dengan Fahrul di sebuah kamar hotel. Dan dihari itu juga, Ayah benar-benar berpisah dari Ibu kalian. Ayah menjatuhkan talak kepadanya."


Ardan tertegun. Dia tak menyangka jika ternyata selama ini justru Ibunya lah yang menjadi penyebab kehancuran keluarga mereka. Meski dia pernah mendengar pertengkaran Ayah dan Ibunya dulu dan berharap apa yang dia dengar bukanlah sebuah kebenaran, namun akhirnya dia benar-benar mengetahuinya dengan sangat jelas sekarang.

__ADS_1


__ADS_2