
"Kok mendadak ma? Bukannya mama bilang udah kosongin jadwal mama hari ini?"
Tanya Donny yang tampak bingung.
"Mama lupa kalau hari ini mama ada pertemuan dengan teman-teman mama untuk membahas kegiatan bakti sosial."
Jawab mama Donny dengan nada sinis.
Papa Donny baru saja keluar, dan melihat putranya didepan bersama seorang gadis.
"Donny, akhirnya kamu sampai juga. Tapi gimana ini, papa harus segera kembali ke kantor. Nanti kita makan malam bersama ya, ajak gadis ini juga. Siapa namanya?"
Ucap Om Dana sambil tersenyum ke arah Arin.
"Arin Om.."
Jawab Ariana.
"Ya, Arin. Jangan sungkan-sungkan ya."
Ucap Om Dana.
"Papa lupa ya, malam nanti kan kita diundang bu Herlambang kerumahnya."
Ucap Tante Retno.
"Bukannya Acaranya udah dibatalin ya?"
Om Dana tampak bingung.
"Gak Pa, tadi Bu Herlambang telepon mama. Dia minta kita untuk ke rumahnya malam ini."
Jawab Tante Retno meyakinkan.
"Pa, ma.. Donny kan udah bawa Arin jauh-jauh dari kota Siantar untuk ketemu papa sama mama. Ayolah, batalin acaranya.. Please.. masak iya sih acara makan malam biasa dengan rekan mama lebih penting daripada calon menantu mama yang udah bela-belain datang dari jauh demi ketemu mama."
Bujuk Donny.
"Nah, benar itu ma. Ini kan pertama kalinya Arin bertamu kerumah kita, lagian dari kemarin mama kan yang sangat bersemangat ingin ketemu calon menantu mama. Untuk pertemuan dengan Bu Herlambang, masih bisa di tunda dulu kan."
Bela Om Dana.
"Pa, pertemuan ini jelas lebih penting. Karena Bu Herlambang berniat menjadi donatur kegiatan amal yang akan mama lakukan bersama teman-teman mama. Acaranya tinggal beberapa hari lagi loh Pa. Arin, kamu gak masalah dengan itu kan?"
Tante Retno menatap Arin memberi isyarat.
"Ehm.. Iya, gak apa kok tante. Arin mengerti."
Jawab Arin dengan canggung.
"Tuh, Arin aja gak masalah kok. Udah yuk berangkat. Papa anterin mama sekalian ya, Mama udah telat. Sore nanti minta Mang Sarip jemput mama di butik."
__ADS_1
Titah tante Retno.
Arin menatap sayu ke arah mobil minivan berwarna putih yang sudah menjauh sambil menghela napas dalam.
Sepertinya, tante Retno tidak menyukaiku.
Batin Arin.
"Arin, ayo masuk dulu."
"Gak usah bang, Arin mau langsung kerumah ibu aja."
Jawab Arin.
"Yaudah, abang anterin kamu ya."
Arin mengangguk.
"Arin, maaf ya.. situasinya ternyata gak memungkinkan. Biasanya mama orang yang sangat teliti menyusun jadwal, tapi entahlah. Mungkin mama lagi banyak pikiran, jadi lupa. Kamu gak marah kan?"
"Gak apa kok bang, setidaknya kan Arin udah bertemu keluarga abang walaupun hanya sebentar."
Jawab Arin sambil tersenyum.
Senyuman dusta, tentu saja. Dia tahu persis tante Retno tidak menyukainya. Dan bukan salah tante Retno juga, karena benar adanya. Wulan Ayu Ningsih, seorang beauty influencer yang belakangan ini semakin sering disorot media dan diterpa gosip miring tentang kehidupan pribadinya adalah ibu kandung Arin. Wajar saja jika tante Retno bersikap dingin padanya. Karena Pak Dana, suami tante Retno adalah salah seorang anggota DPR. Sedangkan tante Retno sendiri, bersama teman-teman sesama istri pejabat sering melakukan kegiatan amal untuk masyarakat. Selain itu Tante Retno juga memiliki usaha butik dan sudah membuka beberapa cabang di kota lain. Keluarga Donny jelas memiliki citra yang baik di mata masyarakat, tentu saja tante Retno tak ingin nama baik keluarganya ikut tercoreng karena menjalin hubungan dengan keluarganya.
"Kayaknya ibu kamu gak ada dirumah Rin.. Gimana, apa Arin mau balik ke rumah abang atau mau ke hotel aja?"
"Gak apa bang, Arin bisa tunggu didalam. Arin punya kunci cadangan kok, terakhir kali waktu Arin pulang ibu sengaja kasih kunci cadangan, karena waktu itu Arin menunggu ibu sampai tengah malam diluar."
Jawab Arin sambil tersenyum.
"Kamu udah telepon ibu kamu?"
Arin menggeleng.
"Besok ulangtahun ibu, Arin sengaja datang diam-diam karena Arin ingin kasih kejutan untuk ibu."
Jawab Arin.
"Yaudah, Arin masuk gih. Istirahat dulu, Arin pasti lelah kan..
Malam nanti abang mau ajak Arin ke tempat spesial."
"Tempat spesial?"
Arin tampak ingin tahu.
"Rahasia, tapi abang yakin Arin pasti suka."
"Yaudah deh, Arin masuk dulu ya bang.."
__ADS_1
Setelah memastikan Arin masuk kedalam rumah, Donny langsung meninggalkan pekarangan rumah ibu Arin.
Arin menatap sekeliling rumah, masih sama seperti saat terakhir kali dia pulang.
Dengan langkah gontai Arin menyeret koper menuju ke kamarnya. Meskipun Arin tidak tinggal dirumah ini dan hanya datang sesekali, namun ibu Arin sengaja menyiapkan kamar untuknya. Ibunya memang terlalu sibuk, tapi setidaknya masih peduli dengan dirinya.
Arin merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas kasur, sambil mengingat kembali kejadian di rumah Donny.
Arin menghela napas dalam.
"Sepertinya tante Retno tidak menyukaiku. Sangat jelas terasa, dari sikapnya setelah dia tahu siapa aku. Tapi aku bisa apa. Bahkan ayahku sendiri, entah sejak kapan dia juga membenciku. Ya Allah.. kenapa hidupku begitu berat.."
Setelah beberapa saat, akhirnya Arin tertidur.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, akhirnya Arin terbangun dari tidurnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat keluar jendela, hari sudah malam dan cuaca sedang hujan lebat.
Dia menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Aku ketiduran.. Bang Donny gimana ya, dia marah gak ya.. Ponselku dimana..? Ponselku dimana..?"
Arin tampak panik mencari ponselnya yang ternyata ada di atas ranjang.
Dan benar saja, sudah ada beberapa panggilan masuk dan pesan dari Donny.
Arin langsung menelepon Donny, untuk meminta maaf.
"Gak apa, abang tahu Arin masih lelah. Arin udah makan?"
Tanya Donny.
"Ini juga rencananya Arin mau pesan delivery.."
Jawab Arin.
Tiba-tiba seseorang dari luar menekan bel pintu.
"Abang, tunggu sebentar ya. Sepertinya ada tamu."
"Tamu, di jam segini? Arin.. Ini udah larut malam dan cuaca hujan deras. Coba kamu pikir, siapa yang akan menyempatkan diri untuk bertamu ke rumah orang lain dalam situasi begini?"
Lagi-lagi bel pintu berbunyi.
"Ehm, tapi siapa tahu aja itu teman ibu dan ada hal yang penting.."
Jawab Arin.
"Oke, gini aja. Coba kamu cek dari jendela siapa yang datang. Ingat, cuma mengecek. Jangan buka pintu untuk orang yang gak dikenal."
Donny mengingatkan.
"Yaudah, sebentar ya bang Arin cek dulu."
__ADS_1
Arin berjalan menuju ke ruang depan. Sebelumnya Arin memang sengaja membiarkan lampu tetap dalam keadaan padam, agar jika ibunya kembali tidak curiga kalau ada oranglain dirumah. Perlahan Arin mengintip dari balik jendela, untuk melihat siapa yang datang.