
Pukul satu dini hari, Rangga baru saja kembali dari Rumah Sakit. Sudah tiga hari dia tak pulang karena banyak pasien yang harus dia tangani, belum lagi operasi yang harus dia lakukan. Terlebih lagi Dokter Arum yang juga spesialis penyakit jantung baru mengambil cuti bersalin. Semakin bertambah pula pasien yang harus ditangani olehnya karena pasien yang seharusnya ditangani oleh Dokter Arum kini menjadi tanggung jawabnya.
Rangga baru saja akan naik ke lantai dua ketika tiba-tiba lampu ruang tamu menyala.
"Rangga, kita perlu bicara."
Mama berdiri tepat di belakang Rangga.
"Ma, Rangga capek. Tidak bisakah kita bicara besok?"
"Rangga, apa kamu sengaja menghindari mama?"
Mama bertanya dengan tegas.
"Ma, Rangga capek. Tiga hari Rangga kurang tidur karena menangani banyak pasien. Kalau mama mau bicara soal pertunangan itu, silahkan lakukan semau mama. Rangga gak punya waktu untuk mengurus semuanya."
Jawab Rangga dengan nada dingin.
"Lusa kamu harus mengambil cuti. Kita akan menemui Amelia."
"Ma, apakah Rangga harus ikut? Ini cuma lamaran aja kan, rasanya Rangga gak harus ada disana. Rangga baru akan mengajukan pertukaran shift saat akad nikah nanti."
"Rangga, setidaknya kamu dengarkan mama dulu. Ini juga untuk kepentingan kamu. Kenapa kamu begitu tidak perduli? Setidaknya, tak bisakah kamu meluangkan sedikit saja waktumu untuk menemui Amelia? Apakah kamu akan tetap seperti ini jika kalian menikah nanti?"
Mama tampak mulai geram dengan sikap acuh yang ditunjukkan Rangga.
"Ma, tolong sampaikan pada Amelia. Rangga adalah seorang Dokter dan prioritas Rangga adalah pasien. Suka tidak suka dia harus menerimanya. Jika tidak, Rangga tak bisa bersama dengannya."
Jawab Rangga enteng.
"Rangga, jawab mama dengan jujur. Apa ini karena kamu tidak mencintai Amelia? Apakah ini cara kamu menunjukkan ketidak setujuanmu atas perjodohan ini?"
"Rangga yakin mama tahu jawabannya."
Kemudian Rangga melengos pergi ke kamarnya, meninggalkan mama yang masih terdiam mematung.
"Apa sikap Rangga ini masih kurang jelas Ma?"
Papa yang sejak tadi mengawasi istri dan anaknya dari ujung tangga akhirnya membuka suara sambil berjalan menghampiri istrinya itu.
"Pa.. Setidaknya Rangga harus mencoba mengenal Amelia lebih jauh kan. Mama yakin setelah dia mengenal Amelia, dia juga pasti setuju. Amelia itu gadis yang baik Pa.."
"Kalau begitu biarkan mereka saling mengenal lebih dulu, jangan memaksakan kehendak mama. Mama juga harus memikirkan perasaan Rangga dan Amelia. Papa tahu Amelia gadis yang baik, Papa juga tidak keberatan jika dia menjadi menantu di rumah ini. Tapi kalau Rangga tidak bahagia, Papa orang pertama yang akan menolak perjodohan ini. Sebaiknya Mama pikirkan lagi rencana mama, sebelum semuanya terlambat. Papa sudah mengingatkan Mama sebelumnya. Jangan sampai Rangga membenci Mama karena Mama tidak pernah bisa memahami anak mama sendiri."
Papa berbalik, kembali ke kamar.
__ADS_1
Keesokan harinya, Rangga baru saja selesai melaksanakan sholat dzuhur di mushola rumah sakit.
Rangga akan kembali keruangannya, dan tanpa sengaja dia berpapasan dengan Amelia.
"Dokter Rangga, boleh kita bicara sebentar?"
Tanya Amelia.
"Maaf, aku sedang bekerja. Kalau kamu ingin membahas soal lamaran, kamu bisa bicara dengan mama saja."
Jawab Rangga.
Rangga baru saja akan beranjak pergi, ketika Amelia menarik jas putihnya.
"Tunggu Dokter, setidaknya bicaralah denganku sebentar saja. Ada hal yang harus aku pastikan langsung pada Dokter."
Rangga menghela napas dalam, kemudian berbalik.
"Baik, bicaralah. Aku hanya punya waktu sepuluh menit sebelum menangani pasien berikutnya."
Ucap Rangga.
"Dokter, sebelumnya aku minta maaf kalau mungkin aku terdengar lancang. Tapi aku harus menanyakannya langsung pada Dokter, apakah Dokter sudah menyetujui perjodohan ini? Tolong jawab dengan jujur Dok."
"Bukankah besok acara lamaran akan digelar? Sudahlah, kamu tak perlu pikirkan itu. Mama sudah menyiapkan semuanya dengan baik."
"Tapi aku sedang menanyakan pendapat Dokter."
Amelia menyela.
"Amelia, aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi hal-hal seperti ini. Kamu tidak perlu khawatir, mama sudah menyiapkan semuanya. Aku akan izin untuk tukar shift saat akad nikah nanti."
"Baik Dokter, aku mengerti. Setidaknya aku sudah mendapatkan jawabannya. Aku permisi Dokter, Assalamualaikum."
Amelia berlalu pergi, bahkan sebelum Rangga membalas salamnya.
Rangga, Apakah kamu terpaksa menerimaku? Bahkan tatapanmu seolah mengatakan, aku hanya orang asing bagimu. Tak adakah sedikit saja perasaan di hatimu untukku?
Batin Amelia sambil menahan airmatanya.
"Dokter Rangga, sudah ditunggu pasien di ruangan."
Seorang Suster mengingatkan Rangga yang masih berdiam memandang punggung gadis yang sudah berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
"Oh, Iya Sus. Saya segera kesana."
Rangga bergegas kembali ke ruangannya.
"Tante, Amel minta maaf. Amel tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. Amel mohon, tolong di batalkan saja Tante."
Sore itu Amelia menemui Mama Rangga di rumahnya.
"Loh, Amelia.. Tapi kenapa? Coba kamu jelaskan baik-baik sama tante kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Amelia, besok adalah hari pertunangan kamu dengan Rangga.. Bahkan semua persiapannya sudah selesai."
"Tante, Amel tidak ingin menjadi beban untuk Dokter Rangga. Lagipula, sepertinya Dokter Rangga tidak menginginkan perjodohan ini. Amel tidak ingin menjadi penghalang untuk Dokter Rangga."
"Amelia, kamu salah paham Nak. Rangga bukannya tidak menginginkannya. Hanya saja, kamu tahu sendiri kan. Di seorang Dokter dan baginya pasien tetap menjadi prioritas."
"Amel mengerti Tante, tapi Amel sudah memutuskan. Amel tidak bisa menerima pertunangan ini. Kecuali jika Dokter Rangga sendiri yang memintanya. Amel tidak ingin seperti seorang pengemis, yang hanya menerima belas kasihan dari orang lain. Tante adalah wanita yang sangat baik, dan Amel sangat bahagia bisa mengenal Tante. Bagi Amel, Tante sudah seperti ibu Amel sendiri. Tapi sebagai seorang Ibu, Amel yakin pasti Tante ingin Dokter Rangga bahagia kan. Karena itu, Amel memilih untuk mundur. Amel minta maaf Tante.."
"Amelia.."
"Tante, percaya deh sama Amel. Dokter Rangga akan lebih bahagia jika Tante bisa mengerti dirinya. Tante adalah Ibunya, Amel yakin Tante pasti lebih tahu bagaimana perasaan Dokter Rangga."
Setelah Amelia berpamitan pulang, Mama Rangga berdiam di dalam kamarnya.
"Ya Allah.. Apa yang sudah aku lakukan. Aku sudah mengecewakan Amelia, bahkan aku juga tidak bisa mengerti keinginan anakku sendiri. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Bagaimana aku bisa memperbaiki kesalahanku ini.."
"Mama kenapa? Sejak Papa pulang tadi, sepertinya Mama lebih banyak diam. Bagaimana persiapan untuk acara pertunangan Rangga dan Amelia besok?"
Pak Bayu membuka pembicaraan usai makan malam.
"Pa, sepertinya Papa benar. Rangga tidak menginginkan perjodohan ini."
Jawab Mama Rangga.
"Maksud mama?"
Pak Bayu membuka kacamata yang masih melekat di wajahnya.
"Sore tadi sebelum Papa pulang, Amelia menemui Mama. Dan dia membatalkan pertunangan."
Ucap Mama Rangga.
"Apa sekarang Mama mengerti? Sudahlah Ma, Rangga sudah dewasa. Papa yakin dia tahu apa yang terbaik untuknya, biarkan dia menentukan pilihannya sendiri. Percayalah, Rangga akan sangat bahagia jika dia bisa menentukan pilihannya tanpa campur tangan kita."
__ADS_1
"Hem.. Iya, Mama mengerti Pa."
Jawab Mama Rangga.