
"Arin, kenapa Arin hanya diam aaja? Abang butuh jawaban Arin, abang butuh kepastian."
Donny menatap dengan penuh harap.
Donny sudah menyukai Arin, bahkan sejak kecil. Bertahun-tahun dia kehilangan jejak Arin, namun dia tak menyerah begitu saja. Perlahan dia mencari informasi keberadaan Arin, dan akhirnya dia tahu bahwa Arin dibawa pulang ke kampung halaman ayahnya, ke rumah kakek dan neneknya di kota Pematangsiantar.
Setelah kuliahnya selesai, berbekal gelar MSc dari universitas Manchester Donny memasukkan berkas lamaran kerja ke beberapa Sekolah Menengah Atas di kota Pematangsiantar sebagai guru bidang studi akuntansi. Tentu saja itu hanyalah alibi, karena tujuannya adalah mencari keberadaan Arin. Dan dia pasti akan berusaha menemukan gadis itu.
Beberapa bulan setelah mencari dan nyaris putus harapan, ternyata keberuntungan berpihak padanya ketika suatu malam tanpa sengaja dia menolong seorang gadis yang sedang di begal di jalanan sepi.
Gadis itulah yang dia cari selama ini, Ariana Dahlia.
Setelah berhasil menemukan Arin, Donny mengundurkan diri dari pekerjaannya dan kembali ke Jakarta untuk membantu usaha butik milik ibunya, dan berusaha untuk mengambil hati kedua orangtuanya agar dia mendapatkan restu atas pilihannya.
"Abang, sekarang belum jam dua belas malam kan?"
Tanya Arin.
"Kenapa?"
Tanya Donny sambil mengernyitkan kening.
"Abang kan udah janji, abang akan memenuhi apapun yang Arin minta sebelum jam dua belas malam."
Ucap Arin dengan nada lirih.
"Arin ingin sesuatu? Oke, katakanlah. Abang akan memenuhinya."
Balas Donny.
"Apapun itu?"
Arin menatap Donny seolah meminta keyakinan.
Donny mengangguk, sambil tersenyum tulus.
"Baiklah, sebelum jam dua belas malam. Dan ini permintaan terakhir Arin. Setelah ini Arin janji, Arin gak akan meminta apapun dari abang. Arin mohon.."
"Arin, jangan buat abang penasaran gini deh. Memangnya apa yang Arin inginkan sekarang? Arin ingin segera dilamar? Atau apa? Katakan aja."
Donny tampak penasaran.
"Abang, Arin ingin kita putus."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arin.
__ADS_1
Donny tampak terkejut, dan raut wajahnya berubah pias namun dia menutupinya sambil tertawa hambar.
"Arin, kali ini abang benar-benar serius. Abang berniat melamar kamu.. Kamu gak serius kan? Kamu cuma becanda kan? Oke kali ini kita bicara serius ya. Gak ada prank atau ide-ide usil."
"Arin serius bang, Arin ingin kita putus. Kita akhiri saja hubungan kita. Arin yakin itu yang terbaik."
Jawab Arin sambil menunduk.
"Yang terbaik? Arin, coba cerita sama abang.. Ada apa sebenarnya? Selama ini abang rasa hubungan kita baik-baik aja. Gak pernah sekalipun ada masalah yang berarti. Apa ini karena kamu memang belum siap untuk menikah? Kalau memang itu alasannya abang bisa mengerti, dan abang akan menunggu sampai Arin benar-benar siap. Setidaknya kita bisa bertunangan dulu kan.."
Ucap Donny.
Arin menggeleng perlahan.
"Arin minta maaf bang, tapi Arin benar-benar gak bisa melanjutkan hubungan ini."
Donny menghela napas dalam sambil memejamkan mata sejenak.
"Apa alasannya?"
Tanya Donny.
"Karena.. Ada orang lain di hati Arin, dan itu bukan abang."
"Apa? Gak, abang gak percaya. Arin, lihat abang. Jawab dengan jujur kenapa kamu seperti ini? Abang gak percaya kalau ada orang lain di hati kamu."
"Itu benar bang, awalnya Arin emang merasa nyaman dengan abang, dengan semua kebaikan abang dan Arin menganggap itu sebagai cinta. Ternyata Arin salah. Arin hanya mengagumi abang, karena kebaikan yang ada pada diri abang. Tapi itu bukan cinta. Arin menyayangi abang, seperti Arin menyayangi bang Ardan. Tak lebih dari itu."
Donny memundurkan langkah, tampak frustasi.
"Siapa dia? Siapa orang yang ada di hati kamu? Apakah dia bisa membuat kamu bahagia? Apakah dia bisa mencintai kamu melebihi abang? Apakah dia siap berkorban demi kamu? Dan apakah dia tidak akan meninggalkan kamu dan akan tetap ada di sampingmu dalam keadaan apapun?"
Arin menunduk dalam.
"Setidaknya, dia lebih sepadan dengan Arin."
"Jadi, apakah ini alasannya belakangan ini kamu mulai berubah? Kamu sengaja menghindar dari abang?"
"Ya, Arin sengaja menghindar dari abang. Arin minta maaf, Arin berharap abang bisa mengerti. Arin yakin, kelak abang akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dari Arin. Yang sepadan dengan abang, dan layak untuk berdiri di samping abang."
Arin beranjak, kemudian pergi meninggalkan Donny yang masih terpaku.
"Yang jauh lebih baik dari kamu, abang yakin banyak.. Tapi yang abang cintai sepenuh hati, itu cuma kamu Ariana Dahlia."
Gumam Donny lirih sambil menatap sendu punggung Arin yang sudah melangkah jauh.
__ADS_1
Arin kembali ke hotel tempatnya menginap. Tubuh dan jiwanya terasa lelah, dengan segera dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
Dadanya terasa sesak, dan dia mulai menangis.
"Abang, Arin minta maaf.. Arin terpaksa membohongi abang. Arin gak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Kalau abang tahu keluarga abanglah yang menentang hubungan kita, Arin gak ingin abang juga menentang keluarga abang hanya demi Arin. Arin mencintai abang, tapi Arin sadar siapa diri Arin. Sangat gak layak untuk berada di sisi abang. Diluar sana, banyak wanita yang jauh lebih layak dan sepadan untuk abang."
Gumamnya lirih.
Lelah menangis, akhirnya Arin tertidur.
-------------
Sementara itu di tempat lain..
"Rangga, mama rasa sudah waktunya kamu memikirkan masa depan kamu."
Ucap Bu Riana, mama Rangga di sela makan malam keluarga mereka.
"Ma, Kita udah pernah bahas ini sebelumnya kan. Rangga masih muda. Rangga masih ingin fokus dengan karir Rangga."
"Rangga, mama kamu benar. Dulu waktu seusia kamu, papa sudah menggendong Ranty kakakmu. Meskipun tak lama, karena Allah telah menakdirkan usianya tak panjang."
Timpal Pak Bayu, papa Rangga.
Rangga menghela napas dalam.
"Yasudah, terserah mama. Kalau memang mama sudah menemukan wanita yang tepat, Rangga akan mengikuti keinginan mama."
Jawab Rangga.
Bu Riana merogoh saku dasternya, kemudian mengeluarkan sebuah foto.
"Namanya Amelia. Dia cantik, dan yang pasti dia soleha. Mama gak sengaja ketemu dia di rumah sakit kemarin, waktu mama mau anterin bekal makan siang papamu."
Pak Bayu meraih foto yang disodorkan istrinya.
"Oh, papa kenal dia. Malang sekali nasibnya. Beberapa hari yang lalu keluarganya mengalami kecelakaan. Kedua orangtuanya meninggal, sedangkan adiknya masih kritis. Dia wanita yang baik, papa sih setuju kalau dia yang jadi menantu di rumah ini."
"Kalau memang papa dan mama sudah merasa yakin, Rangga gak ada keluhan."
Rangga beranjak, kemudian pergi ke kamarnya.
"Mungkin memang sudah waktunya aku melupakan dia. Dia juga pasti sudah melupakanku. Lagipula, apa artinya pertemuan sesaat yang tidak disengaja."
Gumam Rangga sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1