Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Duabelas


__ADS_3

Cuaca di kota Siantar pagi itu sedang tak bersahabat, hujan lebat dan angin kencang membuat banyak orang seolah enggan untuk memulai hari ini.


Namun tidak dengan Ariana Dahlia, gadis itu tetap terlihat bersemangat untuk pergi ke kampus meski harus menembus hujan.


Sudah dua hari sejak dia kembali ke kota ini, dan tentu saja sesaat setelah kepulangannya dia mendapatkan omelan bertubi-tubi dari ayahnya.


Entahlah, dia juga tak lagi ingat entah sejak kapan ayahnya menjadi seorang pemarah.


Dan yang paling membuat ayahnya marah adalah, jika dia tahu Arin pergi menemui ibunya. Entah dendam apa yang tersimpan di hati ayahnya kepada ibunya.


"Kek, Nek, Arin berangkat ya.."


"Hati-hati Arin, jangan ngebut-ngebut. Jalanan licin."


Kakek mengingatkan.


"Siap Jenderal.. Assalamualaikum."


Jawab Arin sambil memberikan dua jempolnya.


"Waalaikumsalam."


Balas kakek dan nenek.


Setelah berpamitan pada kakek dan neneknya, Arin segera berangkat ke kampus dengan sepeda motornya. Ini adalah pagi pertamanya kembali ke kampus setelah bolos selama beberapa hari sejak pulang ke Jakarta.


"Akhirnya, kanjeng ratu kita kembali setelah sekian lama menghilang dari peradaban.. Udah selesai semedinya?"


Bimo adalah orang yang pertama menyapa Arin pagi itu.


"Hehh Upik ungu, emang kamu kira aku makhluk apaan pake menghilang dari peradaban segala?"


Protes Arin.


"Makhluk astral sih, kayaknya."


Jawab Bimo sambil nyengir.


"Sialan.. Eh, yang lain mana?"


Tanya Arin mengalihkan candaan garing Bimo.


"belum ada yang datang loh wak, lagian ini masih jam berapa. Kau aja yang kerajinan datang jam segini."


Jawab Bimo dengan logat khas Siantarnya.


"Apa pulak aku yang kerajinan, ini udah jam delapan pagi bahlul."


Balas Ariana.


"Gak kau tengok rupanya informasi di grup chat? Hari ini jadwal pak Rojak diundur jam sepuluh."


"Ohh.."


Arin menepuk keningnya.


"Jadi kamu sendiri kenapa datang sepagi ini?"


Tanya Arin.


Bimo senyam senyum dengan wajah memerah.


"Biar bisa melihat calon bidadari dunia dan surgaku.."


Jawab Bimo dengan gaya lebay.


"Helehh.. Yaudah sih gebet aja gih."


Ucap Arin.

__ADS_1


"Masalahnya wak, dia gak mau pacaran."


Jawab Bimo sewot.


"Kalo dia gak mau pacaran yaudah kau lamar ajalah, jumpai walinya dan ajak dia nikah. Nunggu apalagi.."


Celoteh Arin sambil tertawa sumringah.


"Alamak, ngeri kau ya wak. Udah bahas soal lamar melamar aja, jangan-jangan kau pulak yang udah dilamar sama abang itu."


Ucap Bimo dengan tatapan menyelidik.


"Aku cuma ngasih saran aja, kan kamu bilang dia gak mau pacaran."


Balas Arin sambil mengangkat bahu.


"Masalahnya kalau aku lamar dan aku nikahin sekarang, anak orang mau ku kasih makan apaan?


Makan batu sama pasir? Aku sendiri sampe sekarang hidup masih nebeng orangtua, belagak mau nikahin anak orang. Yang ada aku langsung dikasih kopi sianida sama bapaknya karena gak bisa tanggung jawab menafkahi anaknya."


Gerutu Bimo.


"Makanya kerja boss, belajar jadi laki-laki gentleman. Setiap orangtua pasti ingin putrinya mendapatkan lelaki yang bertanggung jawab "


Ucap Arin sambil menepuk pundak Bimo.


"Gentleman kayak Donny ya Rin?"


Pertanyaan Bimo mendadak membuat Arin salah tingkah.


"Bim, kamu laper gak? Cari sarapan dulu yuk."


Arin berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Boleh deh, yuk sarapan di kantin aja."


"Rin, jawab dulu dong yang tadi.."


Bujuk Bimo setelah memesan makanan kepada ibu kantin.


"Yang tadi apaan?"


Arin tampak bingung.


"Donny itu gentleman gak sih? Aku pengen tahu aja gimana cara dia bisa mendekati kamu.."


Tanya Bimo sambil nyengir.


"Ini pesanannya.."


Bu Kantin meletakkan dua piring mie goreng dan dua gelas teh di atas meja tepat dihadapan Arin dan Bimo.


Tak ingin Bimo bertanya lebih jauh, Arin langsung meraih makanan pesanannya dan mulai makan.


"Rin.."


Bimo seolah masih menuntut jawaban.


"Kalau lagi makan, gak boleh ngobrol. Kata orangtua pamali."


Jawab Arin yang hanya fokus dengan makanannya.


Bimo meraih gelasnya, kemudian menenggak minumannya sampai tandas.


--------


Siang itu Arin baru saja kembali dari kampus dan langsung disambut oleh neneknya di depan pintu.


"Assalamualaikum nek.."

__ADS_1


Sapa Arin sambil menyalim tangan neneknya.


"Waalaikumsalam Arin.. Ayo cepat masuk, Donny dari tadi udah nungguin kamu loh."


Arin terdiam mematung. Dia tak menduga jika Donny akan datang mencarinya.


Sejak bertemu dengan Tante Retno beberapa hari yang lalu Arin sengaja mengabaikan Donny. Dia bahkan tidak membalas chat atau menjawab telepon dari pria itu. Dia hanya butuh waktu, sampai dia benar-benar siap untuk meninggalkan Donny.


Namun dia sangat tak menyangka jika Donny justru mencarinya.


"Arin, kenapa kamu pulang sendiri? Kenapa gak kabarin abang dulu? Kamu tahu gak, abang sangat mengkhawatirkan kamu. Kamu gak balas chat dan gak jawab telepon abang."


Donny tampak sangat cemas.


"Maaf, Arin buru-buru pulang karena ada tugas presentasi."


Jawab Arin berbohong.


Donny menghela napas lega.


"Yaudah, yang penting sekarang abang tahu Arin baik-baik aja. Tapi lain kali, jangan ulangi seperti ini lagi."


"Arin masuk dulu ya bang, belum sholat dzuhur."


Kemudian Arin meninggalkan Donny bersama kakek dan neneknya di ruang tamu setelah menyalim tangan kakeknya.


"Maafin Arin bang.. Arin belum siap untuk bertemu abang."


Gumam Arin sambil bersandar di pintu kamarnya.


"Arin, kenapa kamu disini? Sana temani Donny dulu. dia jauh-jauh datang kesini untuk menemui kamu, bukan untuk bermain catur dengan kakek."


Nenek Arin baru saja masuk, karena sudah lebih satu jam Arin berdiam di dalam kamarnya.


"Ehm, Tugas.. Arin lagi banyak tugas nek. Tolong bilang ke bang Donny Arin lagi gak bisa diganggu nek."


Jawab Arin berbohong sambil berpura-pura membuka-buka bukunya.


"Arin, gak baik bersikap begitu. Donny kan gak setiap hari ada disini. Apalagi dia datang jauh-jauh dari Jakarta, setidaknya temani dia bicara sebentar."


Bujuk nenek.


"Tapi tugas Arin penting banget nek.."


Arin bersikeras.


"Arin, apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu selama di Jakarta?"


Tanya nenek dengan tatapan ingin tahu.


"Gak ada, gak terjadi apapun."


Jawab Arin berusaha menutupi.


"Kalau memang gak terjadi apa-apa, kenapa sikap kamj berubah seperti ini? Biasanya kamu bersikap ramah pada Donny, tapi kenapa hari ini nenek lihat sepertinya kamu sedang berusaha menghindar?"


Pertanyaan nenek sangat menohok, dan memang benar dugaan nenek.


Arin sengaja menghindari Donny.


"Yasudah kalau memang kamu gak mau menemani Donny bicara, Tapi setidaknya jangan menghindar. Apapun masalah yang sedang kalian hadapi, nenek harap kalian bisa menyikapinya dengan kepala dingin."


Arin hanya bisa tertunduk dalam.


Lalu bagaimana jika masalahnya sangat kompleks?


Aku bahkan tak tahu cara mengatasi ini.


Batin Arin.

__ADS_1


__ADS_2