
"Wah, ternyata benar yang abang bilang, masakan kak Yoshie memang terbaik. Sumpah, ini sih enak banget."
Puji Arin sambil memberikan dua jempol setelah menikmati ramen yang dimasak oleh Yoshie.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau Arin suka."
Jawab Yoshie sambil tersenyum.
"Kak, nanti ajarin Arin masak ramen juga ya, sama masakan khas Jepang yang lain. Arin juga pengen bisa masak kayak kakak."
Pinta Arin.
"Boleh saja. mumpung besok akhir pekan, bagaimana kalau kita belanja bahan makanan ke pasar?"
"Di Jepang ada pasar juga?"
Arin merasa takjub.
"Arin, kalau gak ada pasar emang kamu pikir orang-orang belanja bahan makanan dimana?
ya pastilah ada pasar.."
Jawab Ardan.
"Ya, manatau kan belanjanya ke mall atau swalayan gitu. Agak terkejut juga sih, negara maju seperti Jepang juga masih punya pasar."
Balas Arin sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Arin, belanja di mall dengan di pasar tradisional itu tentu berbeda. Akan jauh lebih berkah kalau kita belanjakan uang kita sekaligus kita bersedekah kepada orang yang kurang mampu."
Ucap Yoshie sambil tersenyum.
Arin tampak bingung dengan ucapan Yoshie.
"Gini loh dek, kalau kita belanja di pasar tradisional setidaknya kita bisa sedikit membantu pedagang yang ada di pasar. Mereka pasti sudah bekerja keras demi kebutuhan hidup dan keluarganya. Belum lagi mereka harus bersaing dengan pedagang-pedagang lain. Sedangkan kalau kita belanja di mall, keuntungannya lebih banyak justru untuk memperkaya pemilik mall itu saja."
Ardan menerangkan.
"Oh, oke Arin paham. Tapi kalau seandainya semua orang belanja di pasar tradisional, gimana dengan nasib karyawan mall? Mereka pasti akan kehilangan pekerjaan karena pihak perusahaan tidak mampu menggaji karyawannya dan itu justru menambah angka pengangguran kan."
Ujar Arin.
"Kita bisa membuatnya seimbang. Tidak semua kebutuhan yang kita perlu tersedia di pasar tradisional kan, begitu juga sebaliknya. "
Balas Yoshie sambil tersenyum.
"Wah, Arin gak nyangka kak Yoshie sangat solutif. Abang sangat beruntung punya istri seperti kak Yoshie."
__ADS_1
Puji Arin.
"Yoshie ini wanita langka, cantiknya luar dalam. Selain cerdas, dia juga soleha. Itulah yang membuat abang jatuh hati. Dia benar-benar sosok istri idaman. Abang beruntung memiliki istri seperti dia."
Timpal Ardan.
"Jangan terlalu memuji. Justru akulah yang bersyukur menikah dengan abang. Aku tidak sebaik yang terlihat, tapi abang yang membantu dan membimbingku menjadi wanita yang lebih baik."
Ucap Yoshie sambil tersipu.
"Masyaa Allah, cantiknya istri abang kalau sedang tersipu.."
Goda Ardan sambil mengecup kening Yoshie.
"Ehem.. Mesra-mesraan melulu, seolah dunia milik berdua dan yang lain cuma butiran debu."
Protes Arin dengan wajah cemberut.
Ardan dan Yoshie tertawa melihat tingkah manja Arin.
"Makanya buruan nikah, biar bisa mesra-mesraan juga. Apa perlu abang yang ngomong sama Donny untuk melamar kamu?"
Arin tertegun sejenak.
Andai abang tahu masalahnya.
Batin Arin.
Tanya Yoshie.
"Eh, belum boleh! Arin dan Donny belum menikah, belum boleh pergi berduaan apalagi perjalanan jauh, bukan muhrim. Sebenarnya kemarin abang juga marah banget waktu tahu Arin pulang ke Jakarta berdua aja dengan Donny. Jangan diulangin lagi ya."
Tegas Ardan. Dia menunjukkan sisi over protektifnya sebagai seorang abang.
"Siap boss.."
Jawab Arin sambil memberi hormat.
"Jadi, bagaimana rencana kamu dan Donny kedepannya Rin? Kalau memang kalian saling suka, saling sayang, sebaiknya menikah itu disegerakan.
Jangan terlalu lama berhubungan yang gak jelas, malah jadi dosa nantinya."
Donny mengingatkan.
Arin meraih gelas di hadapannya, kemudian meneguk isinya hingga tandas.
Masalahnya gak sesederhana itu bang. Bagaimana bisa Arin menikah dengan bang Donny, jika keluarganya tidak bisa menerima Arin.. Apa salah Arin bang, hingga mereka memandang Arin buruk hanya karena gossip miring yang menerpa ibu. Arin tak tahu apapun, tapi orang lain seolah lebih tahu segalanya.
__ADS_1
Batin Arin.
"Arin, kenapa termenung?"
Yoshie menyentuh pundak Arin dan menyadarkannya.
"Ehm, gak apa kak. Arin cuma masih lelah, apalagi setelah perjalanan jauh kepala Arin terasa sedikit pusing. Arin ke kamar dulu ya kak, bang."
Kemudian Arin beranjak dan bergegas ke kamarnya.
"Sayang, entah kenapa abang merasa ada sesuatu yang Arin sembunyikan saat ini. Abang tahu persis, Arin bukan orang yang senang bolos kuliah apalagi jika hanya untuk liburan. Sepertinya Arin sedang ada masalah."
Ucap Ardan pada Yoshie.
"Nanti aku akan mencoba bicara dengannya ya bang. Siapa tahu aja dia bersedia untuk menceritakan masalahnya."
Usul Yoshie.
"Sayang, Arin ini anaknya sulit ditebak. Dia gak pernah mau membagi masalahnya kepada siapapun, bahkan meskipun itu keluarganya sendiri. Abang ingat sekali. Dulu, hampir setiap hari saat pulang sekolah dia sampai dirumah dalam keadaan kacau. Terkadang dia pulang dalam kondisi basah kuyup meskipun saat itu cuaca sedang panas terik, atau bajunya yang berlumur lumpur, macam-macam. Tapi gak pernah sekalipun dia mengadu dan mengatakan bahwa dia menjadi korban bully teman-temannya. Dia justru mencari alasan untuk menutupi kesalahan orang lain. Kadang dia bilang gak sengaja jatuh terpeleset di kubangan air, atau alasan-alasan lainnya."
Ardan mulai bercerita.
"Lalu, bagaimana abang bisa tahu kalau Arin dibully oleh teman-temannya?"
Tanya Yoshie.
"Waktu itu sebenarnya kebetulan, abang dan Donny melintas di daerah dekat sekolah Arin. Abang lihat sendiri bagaimana Arin dibully oleh anak-anak lelaki yang bahkan sudah seusia abang. Tentu aja abang gak terima. Waktu itu abang sangat marah, akhirnya abang dan Donny memukuli teman-teman yang membully Arin sampai babak belur. Dan kamu tahu sayang, waktu itu Arin justru minta abang untuk gak bilang sama ayah dan ibu. Dia gak ingin membuat ayah dan ibu khawatir jika tahu dia menjadi korban bully teman-temannya. Meskipun pada akhirnya ayah juga mengetahuinya tanpa sengaja."
"Arin wanita yang tangguh bang. Mungkin baginya, masalah itu cukup disimpan untuk diri sendiri."
"Ya, memang begitulah dia sejak dulu. Sekalipun dia gak pernah mengadu atau mengeluh. Dan sikap itu terbawa sampai sekarang. Dia menjadi sosok introvert, sulit ditebak."
"Yasudah, nanti aku akan berbicara dengan Arin."
Ucap Yoshie.
"Gak perlu dipaksakan sayang, Abang gak yakin dia bersedia untuk terbuka pada kamu. Apalagi kalian juga baru bertemu. Bagaimanapun juga, bagi Arin kamu masih asing."
"Abang, hanya sesama wanita yang bisa saling memahami."
Ucap Yoshie sambil tersenyum tulus.
"Sayang, makasih ya. Kamu juga sudah memikirkan Arin."
Ucap Ardan sambil menggenggam tangan istrinya.
"Abang, keluarga abang adalah keluargaku juga. Arin adalah adik perempuanku, tentu saja aku memikirkan dia."
__ADS_1
Balas Yoshie.