
"Donny, darimana saja kamu?"
Tanya mama dengan tegas.
Setelah mengantarkan Arin ke salon milik ibunya, akhirnya Donny pulang kerumah dan langsung disambut oleh mama didepan pintu dengan wajah merah menahan amarah.
"Ehm, habis lari pagi ma."
Jawab Donny berbohong.
"Lari pagi dari tengah malam? Donny, kamu pikir mama gak tahu. Kamu pasti semalaman dengan anak dari perempuan yang gak beres itu kan?"
Hardik mama.
"Astaghfirrullah ma.. Mama ini bicara apa?"
Donny tampak syok.
"Bicara apa kamu bilang?"
Mama meraih ponselnya di atas nakas, kemudian membuka galeri foto.
"Kamu lihat ini! Ini foto kamu kan, bersama gadis itu!"
Tampak beberapa foto saat Donny sedang menikmati sarapan di warung nasi padang pagi tadi bersama Arin.
"Lalu apa masalahnya Ma? Donny cuma sarapan dengan Arin kan, bukan melakukan hal yang aneh."
Jawab Donny dengan tenang.
"Jadi darimana kamu sejak malam tadi? Kamu pikir mama gak tahu kamu pergi? Jawab mama!"
Bentak mama dwngan wajah berang.
Akhirnya mau tak mau Donny menceritakan kejadian yang sebenarnya, termasuk saat dia tidur semalaman di mobil untuk menjaga Arin.
"Sumpah ma, Donny dan Arin gak ngapa-ngapain. Bahkan Donny semalaman tidur di mobil, sama sekali gak masuk ke rumah Arin.."
__ADS_1
Ucap Donny berusaha meyakinkan mamanya.
"Donny, mama benar-benar gak ngerti ya sama kamu. Apa sih yang kamu lihat dari perempuan itu? Apa kamu tega membuat papa dan mama malu demi perempuan itu? Donny.. Kamu boleh mencari wanita lain yang jauh lebih baik. Tapi tolong.. Jangan dia.. Kamu tahu kan bagaimana ibunya? Apa kamu mau mencoreng nama baik keluarga kita? Kamu gak kasihan sama papa dan mama?"
Mama mulai terisak.
"Ma, itu hanya gossip.. Mama kan tahu sendiri, gossip itu hanya akal-akalan para awak media yang belum tentu kebenarannya. Apalagi saat ini memang ibunya Arin sedang naik daun setelah menjadi kepala tim penata rias untuk program acara Miss Asia. Tentu saja dia selalu diburu oleh media, termasuk kehidupan pribadinya."
Donny mencoba memberi penjelasan.
"Gak akan ada asap kalau gak ada api Donny. Mama gak mau tahu, mulai sekarang kamu harus tinggalkan perempuan itu. Kalau kamu tetap nekat, mama akan cabut semua fasilitas kamu termasuk kartu atm, mobil, motor dan semuanya."
"Tapi ma.. Donny benar-benar mencintai Arin. Mama tahu kan, bahkan Donny sudah lama mencari Arin."
"Tapi sejak awal kamu gak bilang kalau wanita itu adalah anak dari Wulan Ayu Ningsih! Kalau mama tahu, sudah sejak awal mama larang kamu untuk mencari dia."
"Ma, tolong ma.. Jangan membenci Arin. Dia gak punya kesalahan apapun ma.. Jangan libatkan Arin dengan kesalahan ibunya."
Donny berlutut sambil memohon.
"Gak punya kesalahan apapun kamu bilang? Apakah kamu tahu siapa perempuan itu? Apa kamu tahu asal-usulnya? Bahkan saat ini publik sedang geger dengan pemberitaan tentangnya apa kamu tak tahu itu?"
"Ma, tolong ma.. Donny mencintai Arin. Hanya dia. Dan Donny hanya akan menikah dengan Arin. Tolong jangan membenci Arin ma.. Donny mohon.."
"Mama tidak membencinya Donny, mama juga iba padanya. Tapi mama tetap tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Sebaiknya kamu renungi kesalahan kamu. Dan minggu depan, mama akan menjodohkan kamu dengan anak dari teman mama. Dia gadis yang baik, dan yang pasti dia juga daei keluarga baik-baik."
Mama melenggang pergi, meninggalkan Donny yang masih terduduk dilantai dan tampak sangat frustasi.
"Oke, Fine. Kalau mama gak bisa terima Arin, Donny juga gak akan terima wanita itu. Karena sampai kapanpun, cuma Arin yang Donny cintai. Mama mau menarik semua fasilitas Donny kan? Ini.. Donny kembalikan semuanya."
Donny meletakkan kunci mobil, kunci sepeda motor dan dua buah kartu ATM di atas nakas, berniat pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
Mama menatap Donny dengan tatapan nanar menahan amarah.
"Donny, sampai hati kamu melakukan ini sama mama kamu sendiri, hanya demi wanita yang bahkan bukan siapa-siapa. Kamu sampai membantah mama yang melahirkan kamu.."
Gumam mama Donny sambil menangis.
__ADS_1
"Mama yang memaksa Donny seperti ini. Mama yang tidak bisa menghargai pilihan Donny. Ma, Donny sama sekali gak berniat membantah atau menyakiti hati mama. Donny cuma minta mama untuk menerima Arin. Apakah mama gak bisa melakukan itu demi anak mama?"
"Menerima Arin? Kemudian membiarkan keluarga kita dicela karena menerima anak dari wanita j****g sebagai menantu, bahkan statusnya pun sedang dipertanyakan? Beruntung mereka tidak mengenal Arin. Jika mereka tahu siapa Arin, mungkin saat ini Arin juga sudah menjadi bulan-bulanan mediadan masyarakat."
"Cukup ma! Sampai kapan mama mau merendahkan Arin dan ibunya?"
Emosinya memuncak, tanpa sengaja Donny membentak ibunya.
"Donny, apa yang kamu lakukan? Sampai hati kamu membentak mama kamu seperti itu hanya karena perempuan itu? Tadinya papa kira dia gadis yang baik. Tapi melihat kamu yang sekarang justru berani membantah orangtua kamu karena dia, papa berubah pikiran. "
Pak Dana yang sudah bersiap akan berangkat ke kantor tampak sangat berang.
"Pa, Donny gak bermaksud seperti itu pa.."
"Sudah cukup. Masuk ke kamar kamu sekarang! Dan jangan pernah berpikir untuk keluar dari rumah ini. Satu langkah saja kakimu melangkah keluar, gadis itu yang akan menerima akibatnya."
Ancam Pak Dana.
"Pa.. Jangan pernah berani menyakiti Arin!"
Donny yang juga sudah dikuasai amarah menantang ayahnya sendiri.
"Kalau kamu tetap seperti ini, papa akan melakukannya. Semua tergantung kamu Donny. Kalau kamu tidak ingin gadis itu terluka, ikuti perintah papa dan mama. Kalau kamu berani membantah, papa tidak segan-segan untuk menyakiti Arin."
Ucap Pak Dana dengan tenang, namun cukup membuat ciut nyali Donny.
"Papa sama mama egois!"
Donny berlari masuk kekamarnya dengan amarah yang meluap.
"Pa, apa papa benar-benar akan menyakiti gadis itu? Maksud mama, kita bisa bicarakan ini baik-baik kan. Lagipula ini semua bukan kesalahan Arin pa, dia hanya korban dari keadaan. Mama juga sangat bersimpati kepadanya, tapi mama juga tidak ingin mencoreng nama baik keluarga kita dengan menerima dia sebagai menantu."
"Papa tidak berniat melakukan itu ma. Papa hanya ingin menekan Donny. Mama tahu sendiri kan, dia terlalu keras kepala, sulit ditentang keinginannya."
Jawab Pak Dana.
"Mama akan menemui Arin, dan mama akan bicara dengannya. Dia adalah seorang wanita, mama yakin dia akan mengerti."
__ADS_1
"Masalah ini papa serahkan sama mama. Papa yakin mama bisa menyelesaikannya dengan cara yang bijaksana."
Ucap Pak Dana sambil memeluk pundak istrinya.