Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Tigapuluh Lima


__ADS_3

"Kak Yoshie.. Long time no see, Arin kangen.."


Ariana langsung berlari memeluk kakak iparnya saat Ardan dan Yoshie baru tiba di bandara sore itu.


"Dasar badung kamu ya, pake main kabur-kaburan segala bikin semua orang khawatir. Hampir aja Abang minta Detective Conan untuk turun tangan mencari kamu."


Ardan mencubit kedua pipi Arin dengan gemas.


"Ampun abang, sakit.."


Arin meringis kesakitan sambil memegang pipinya yang baru saja menjadi korban kegeraman Ardan.


"Ardan, Yoshie.."


Ayah yang baru saja tiba langsung menghampiri mereka.


"Ardan, Ayah minta maaf ya. Ayah sudah banyak salah sama kamu, dan Yoshie juga. Tolong maafkan Ayah."


Ayah memeluk Ardan dengan erat.


"Ayah, Ardan udah maafin Ayah kok. Ardan sangat bahagia, akhirnya Ayah berubah."


"Yoshie, ayah minta maaf ya. Ayah pernah menentang hubungan kalian, bahkan Ayah sempat mengusir kalian dari rumah."


"Iya Ayah, Yoshie juga sudah memaafkan ayah. Alhamdulillah, Ayah sudah menyadari kesalahan Ayah."


Jawab Yoshie.


"Udah dong nangis-nangisannya, Arin lapar.. Nenek udah masak makanan kesukaan Arin dirumah.."


Celetuk Arin yang membuat semua orang tertawa.


Malam itu, setelah sekian tahun lamanya akhirnya Arin kembali merasakan kehangatan keluarga yang sebenarnya. Meskipun memang dia tak menampik, dia masih berharap Ibunya juga ada disini bersama mereka.


Tahun demi tahun berganti, semuanya berjalan dengan normal.


Arin masih menjalani kehidupannya sebagai mahasiswi di salah satu kampus, dan minggu depan dia akan wisuda.


Sedangkan Rangga, setwlah banyak pertimbangan kini dia sedang melanjutkan kuliah S3 nya di Universitas Stanford.


 


Pagi itu Arin dan keluarganya sedang menikmati sarapan bersama. Atas permintaan ayahnya, Aedan juga kembali ke Indonesia setelah Yoshie menyelesaikan kuliahnya dan kini Ardan dan Yoshie membantu Ayah di bengkel yang semakin berkembang.


"Dek, kamu gak ada rencana lanjutin S2?"


Tanya Ardan tiba-tiba.


Arin tercenung. Beberapa hari yang lalu, Ibunya memang sudah menghubunginya dan menawarkannya untuk kuliah di luar negeri. Namun rasanya dia masih terlalu berat meninggalkan rumah ini, apalagi setelah dia berbaikan dengan Ayahnya.


"Arin, kenapa diam? Kalau memang kamu mau melanjutkan S2 mu Ayah juga gak keberatan. Insyaa Allah Ayah masih mampu membiayai kuliahmu, jadi kamu gak perlu bekerja. Cukup fokus aja dengan kuliah kamu."


Dukung Ayah.


...Bagaimana ini, haruskah aku mengatakan kalau sebenarnya Ibu sudah memintaku untuk melanjutkan S2 dan akan membiayai semuanya? Tapi kalau aku mengatakannya, aku takut itu akan menyakiti hati Ayah lagi. Aku tak tahu entah ada masalah apa antara Ayah dan Ibu, tapi sejak pindah kesini Ayah selalu marah jika aku menyinggung sedikit saja tentang Ibu....


Batin Arin.

__ADS_1


"Ehm, Arin pikir-pikir dulu ya Ayah. Sebenarnya Arin juga belum berencana melanjutkan S2."


Jawab Arin.


"Yasudah, Ayah tidak akan memaksa. Tapi kalau memang kamu ingin melanjutkan S2 mu, jangan sungkan untuk bilang pada Ayah."


"Iya Ayah."


Jawab Arin.


Saat masih menikmati sarapan, tiba-tiba ponsel Arin berbunyi. Satu notifikasi pesan dari Irfan, sepertinya sangat penting.


Irfan 📩 "Rin, buruan ke kampus sekarang. Urgent."


Arin yang melihat pesan dari Irfan langsung terburu pergi setelah berpamitan dengan keluarganya.


"Ngomong-ngomong, Arin akan di wisuda minggu depan kan.."


Ucap Ardan.


"Ya, waktu memang sangat cepat berlalu. Rasanya baru kemarin ayah memaksanya untuk kuliah."


Balas Ayah.


"Ayah tahu, biasanya saat wisuda orangtua menjadi tamu kehormatan. Aku yakin Arin juga sangat ingin orangtuanya hadir di hari terpenting baginya."


"Tentu saja Ayah akan datang."


Jawab Ayah dengan enteng.


"Dengan Ibu?"


"Ayah, cukup Ardan yang merasakan bagaimana sedihnya ketika tak didampingi Ayah dan Ibu di saat hari penobatan itu. Ardan mohon Ayah, ini demi Arin. Setidaknya kali ini saja."


Ardan memelas.


"Malik, apa yang dikatakan Ardan itu benar. Apa salahnya kalau kalian datang bersama? Toh, sampai saat ini kalian masih suami istri yang sah."


Kakek yang sejak tadi menyimak pembicaraan Ardan dan Ayahnya ikut buka suara.


Kali ini Malik benar-benar terpojok, namun bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya?


Selama ini terlalu banyak rahasia yang dia simpan sendiri, karena akan sangat menyakitkan saat keluarganya tahu yang sebenarnya. Terutama anak-anaknya.


"Malik, cukuplah sudahi egomu itu. Apa sebenarnya yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian begitu egois? Kamu dan Wulan sama saja, gak ada satupun yang mau mengalah demi anak-anak kalian."


Ucap Ibu.


Malik menghela napas dalam.


"Mengenai wisuda itu, aku akan mencoba bicara dengan Wulan nanti."


Jawab Malik akhirnya, kemudian meninggalkan meja makan.


 


"Arin... Rin, kamu harus lihat ini Rin.."

__ADS_1


Irfan menghadang Arin yang baru saja tiba di koridor kampus. Dia membawa beberapa brosur di tangannya, dan salah satunya diberikan pada Arin.


Arin membaca brosur itu, yang ternyata adalah brosur penawaran S2 di Universitas Stanford, California.


"Kamu dapat ini darimana?"


Tanya Arin.


"Dari sepupuku yang kebetulan kuliah disana. Kemarin dia kirimin brosur ini via chat kemudian aku cetak untuk dibagiin ke kalian."


Jawab Irfan.


"Jadi hal urgent yang kamu maksud soal ini?"


Tanya Arin sambil mengerutkan kening.


"Tepat sekali.."


Jawab Irfan sambil tersenyum simpul.


"Astagaa.. Kirain apaan, bikin orang kaget aja."


Arin memasukkan brosur kedalam tasnya.


"Hehehe.. Ya kali aja kamu juga berminat kuliah disana, biar kita barengan gitu. Karena kemarin kan kamu bilang Ibumu menawarkan kuliah S2 di luar negeri."


Ucap Irfan.


"Entahlah Fan, aku masih bingung. Aku belum buat keputusan apapun soal itu."


Jawab Arin santai.


"Tapi kalau aku jadi kamu sih, aku gak akan berpikir dua kali untuk menerima tawaran itu."


Celetuk Irfan.


Kamu gak tahu Fan, kondisi keluargaku tidak seperti orang lain. Bahkan sampai saat ini pun kalian tak pernah tahu siapa Ibuku kan.


Batin Arin.


 


Sore itu, Arin sedang menonton berita bersama kakeknya saat tiba-tiba muncul berita tentang Ibunya.


"Wulan Ayu Ningsih kembali membuat Indonesia berdecak kagum melalui karyanya."


Begitu judul berita di tv yang sedang mereka tonton.


"Hebat Ibu kamu Rin, kakek tidak menyangka hanya dengan menjadi penata rias dan produksi kosmetik bisa membuatnya di kenal bahkan sampai mancanegara."


Ucap kakek dengan raut wajah bangga.


Arin hanya terdiam. Yang dikatakan Kakek memang benar, belakangan ini lagi-lagi Ibunya menjadi sorotan media karena prestasinya. Namun tentu saja, hal itu dibarengi dengan skandal dan isu negatif tentangnya.


Luka lama ditoreh kembali, hal yang sempat Arin lupakan kini dia harus mendengarnya lagi. Isu perselingkuhan Ibunya, hingga anak yang lahir diluar nikah. Dan lagi-lagi dengan pria itu, yang Arin ingat betul pernah bertemu dengannya beberapa tahun lalu, tanpa sengaja tentunya.


Andai saja Ibu hanya wanita biasa, andai saja ibu bukan seorang yang dikenal banyak orang. Aku bahkan nyaris lupa bagaimana rasanya disayangi Ibu.

__ADS_1


Batin Arin.


__ADS_2