
"Arin, hari ini kamu sudah mengetahui banyak hal tentangku. Itu karena aku sudah menganggap kamu adalah adik perempuanku, dan aku percaya kepada kamu. Aku harap, Arin juga begitu terhadapku."
Ucap Yoshie saat mereka sedang dalam perjalanan kembali ke apartemen setelah mengikuti kajian di masjid Osaka.
"Iya kak.. Sekarang kakak bukan hanya kakak ipar Arin, tapi sudah seperti kakak perempuan Arin."
Jawab Arin.
"Apa kamu percaya kepadaku?"
Tanya Yoshie.
"Tentu Arin percaya sama kakak."
Balas Arin sambil tersenyum.
"Arin, kamu tahu.. Sekarang sedang musim semi, ada tempat cantik yang harus kamu kunjungi. Kakak yakin kamu akan sangat menyukainya. Mau kesana?"
Tanya Yoshie.
"Boleh, ayo kita kesana kak.."
Jawab Arin bersemangat.
Akhirnya mereka tiba di Kema Sakuranomiya Park. Karena sedang musim semi pertama, taman itu tampak bernuansa merah muda dipenuhi bunga-bunga sakura yang sedang mekar.
"Masyaa Allah.. Tempatnya cantik banget kak. Ternyata melihat bunga sakura secara langsung jauh lebih indah daripada di foto atau di tv.."
Arin tampak sangat takjub melihat keindahan taman tersebut.
"Rin, di tempat inilah dulu aku sering menyendiri saat baru mulai mengenal islam. Aku banyak berpikir dan merenung. Dan di taman ini juga, pertama kalinya aku bertemu dengan kak Sakura.
Aku sangat tersanjung ketika dia menyapaku. Kamu tahu, di negara ini sangat jarang sekali seseorang menyapa orang yang tidak dia kenal. Tapi kak Sakura melakukannya, saat itu dia duduk di sampingku, kemudian menawarkan bekal yang dia bawa. Dia bilang itu makanan khas Indonesia, oleh-oleh dari salah satu temannya."
Yoshie tersenyum, terkenang awal pertemuannya dengan wanita bernama Sakura.
"Biar kutebak, setelah itu kakak juga mulai berteman dengannya?"
"Lebih dari itu Arin, karena aku tahu dia adalah wanita muslim yang taat. Aku merasa memang Allah telah menakdirkan pertemuanku dengan Sakura, untuk membuka jalanku menjadi seorang mualaf. Singkat cerita, sejak berteman dengan kak Sakura aku justru lebih banyak mengetahui sisi seorang muslim yang selama ini tidak pernah aku tahu. Bagaimana gaya hidupnya, dan yang aku lihat Kak Sakura juga terlihat sangat damai. Padahal dia juga sama sepertiku, seorang mualaf. Hanya saja bedanya, keluarga Kak Sakura berpikir lebih terbuka dan menerima keputusannya meskipun awalnya mereka juga terkejut dan marah. Dan kamu tahu, berkat kak Sakura juga aku mengenal abang Ardan dan akhirnya menikah dengannya."
Arin menatap Yoshie dengan sangat takjub.
"Arin benar-benar salut pada kakak, termasuk pada keteguhan hati dan kesabaran kakak. Meskipun menghadapi ujian yang berat, tapi kakak tetap tidak menyerah. Sekarang Arin benar-benar yakin, abang gak salah memilih kakak sebagai pendamping. Benar apa yang dikatakan abang, kak Yoshie cantik luar dan dalam."
Ucap Arin sambil tersenyum.
"Arin, Allah menguji kita sebab Allah tahu kita mampu. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, semuanya adalah atas kehendak Allah juga. Baik dan buruk, suka dan duka, itu semua adalah skenario dari Dia, Penguasa Yang Maha Sempurna.
__ADS_1
Tapi untuk menerima atau menolaknya, itu adalah pilihan kita. Jika kita bisa menerima semuanya dengan hati yang lapang, mengikhlaskan semua yang terjadi dan berserah hanya kepada Allah diatas usaha yang kita lakukan, maka hidup kita akan tenang. Karena kita yakin, Allah telah memegang segala perkara hidup kita di dunia. Namun jika kita menolak, jika kita justru lari dari kenyataan hidup, kita tak bisa menerima apa yang telah Allah tetapkan untuk kita, hati kita akan terasa sempit. Seolah banyak beban menghimpit. Hidup kita juga akan berantakan."
Arin tampak terkesima.
Apa yang dikatakan Yoshie memang benar, dan itulah jawabannya. Itulah solusi untuk masalah yang sedang dia hadapi sekarang. Dia tak bisa lari, dia tak boleh menghindar. Dia hanya perlu menerima dengan hati yang lapang, dan berserah pada takdir Allah. Meyakini dengan sepenuh hati, bahwa apa yang Allah tetapkan pastilah itu terbaik untuknya.
"Kakak, terimakasih."
Ucap Arin dengan tulus.
"Terimakasih untuk apa?"
Tanya Yoshie tampak bingung.
"Untuk nasehat kakak. Sekarang Arin paham, bahwa Terkadang ada hal-hal yang terjadi dan tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun jika kita bisa menerimanya dengan hati yang lapang dan berserah pada Allah, hati kita akan jauh lebih tenang."
Yoshie menatap Arin, kemudian tersenyum sambil menggenggam tangannya.
"Sudah sore, ayo kita pulang. Abang Ardan pasti sudah cemas menunggu kita sejak pagi."
Ucap Yoshie.
"Tunggu sebentar kak, Arin mau ambil beberapa foto. Jarang-jarang kan Arin kesini, apalagi waktu musim semi begini, sayang kalo dilewatkan begitu aja."
Arin merogoh sling bagnya, kemudian meraih ponsel dan mengabadikan beberapa foto sebagai kenangan sebelum akhirnya kembali ke apartemen bersama Yoshie.
Tanya Ardan sesaat setelah Arin dan Yoshie kembali.
"Idih, abang kepo. Ini urusan wanita."
Jawab Arin yang langsung berlari menuju kamarnya.
Ardan menggeleng sambil tertawa melihat tingkah adik semata wayangnya.
"Abang, maaf ya pulang terlambat."
Ucap Yoshie sambil menyalim tangan suaminya.
"Iya, gak apa kok. Makasih ya sayang, kamu udah bawa Arin jalan hari ini."
Jawab Ardan sambil tersenyum.
Sebelumnya Yoshie memang sudah meminta izin pada Ardan akan membawa Arin pergi, dan mungkin mereka akan pulang terlambat.
"Jadi, berapa banyak hal yang kalian bicarakan hari ini? Jangan-jangan kalian juga ngomongin abang di belakang ya.."
Selidik Ardan.
__ADS_1
"Jangan su'udzon abang.. Aku hanya menceritakan tentang pengalamanku saat mulai mengenal islam, karena Arin menanyakannya."
Jawab Yoshie.
"Lalu gimana dengan Arin, apa dia menceritakan sesuatu?"
Ardan tampak ingin tahu.
Yoshie menggeleng mantap.
"Arin gak menceritakan apapun, tapi aku rasa dia sudah mendapatkan jawaban untuk masalahnya."
Ardan mengernyitkan kening tampak heran.
"Abang, jika memang Arin tidak mengatakan apapun tentang masalahnya itu artinya dia yakin dengan kemampuan dirinya sendiri, dan aku juga yakin itu."
Ucap Yoshie.
"Ya, abang harap begitu. Arin memang tidak pernah mengatakan apapun tentang masalahnya, tapi aku adalah abangnya yang sejak kecil menjaga dan melindunginya. Abang tahu persis bagaimana perangai Arin."
Yoshie mengusap pundak suaminya dengan lembut.
"Setidaknya Arin mengatakan satu hal, dia mempunyai abang yang sangat menyayanginya dan sangat over protective. Dan ternyata itu benar."
Ucap Yoshie sambil tersenyum tulus.
Keesokan paginya Arin keluar dari kamar sambil membawa kopernya.
Ardan dan Yoshie yang sedang menikmati sarapan tampak heran.
"Loh dek, kamu mau kemana bawa koper?"
Tanya Ardan.
"Pulang."
Jawab Arin mantap.
"Bukannya kemarin Arin bilang mau tinggal selama satu minggu disini? Kenapa buru-buru pulang?"
Yoshie tak kalah kaget.
"Kakak, abang, maaf ya. Arin baru ingat Arin banyak tugas minggu ini. Lagipula Arin udah terlalu banyak bolos."
Jawab Arin.
Ardan menepuk jidat sambil menggelengkan kepala melihat sikap impulsif adiknya, namun akhirnya dia tak bisa menolak juga.
__ADS_1