Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Empat Puluh Tiga


__ADS_3

"Rangga, apa maksud kamu?"


Ardan berusaha mengendalikan keterkejutannya.


"Aku benar-benar minta maaf Mas, aku tidak bermaksud mempersulit situasi. Tapi, aku benar-benar ingin melindungi Arin."


Jawab Rangga bersungguh-sungguh.


Ardan menatap Rangga dengan intens, seolah mencoba menemukan kejujuran dibalik tatapannya.


"Mas, aku tidak main-main. Aku ingin menikahi Arin dan aku ingin menjaganya, melindungi dia. Mungkin ini terdengar konyol dan aku tahu mas Ardan juga tidak percaya padaku. Tapi, Arin adalah satu-satunya alasan aku kembali kesini. Dan kalau boleh jujur, aku sudah jatuh cinta pada Arin sejak pertemuan pertama kami dulu, bahkan sampai sekarang. Aku sudah berusaha untuk melupakannya bahkan aku sampai pergi jauh ke Amerika dengan alasan melanjutkan kuliah. Namun setiap kali aku mencoba menghilangkan dia dari pikiranku, takdir justru membuatku bertemu dengannya lagi dan lagi."


Ardan masih terdiam, berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Rangga.


"Mas, tolong berikan restu untukku menikahi Arin."


Ucap Rangga dengan nada lirih memohon.


"Rangga, aku tahu kamu adalah pria yang baik. Dan sebagai seorang abang, tentu aku juga ingin Arin mendapatkan yang terbaik. Aku akan sangat senang jika Arin menikah dengan pria yang mencintainya dengan tulus, dan bisa melindunginya dan siap menerima dia dengan segala kekurangannya. Tapi untuk menikahinya, keputusan itu mutlak berada di tangan Arin sendiri. Sebaiknya kamu bicara dengannya. Sampaikan niat baikmu kepadanya. Aku hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Jawab Ardan.


"Aku tahu Mas. Tapi sebelum mengatakannya kepada Arin, aku perlu mendapatkan izin dari keluarganya terlebih dulu. Aku tahu mungkin tidak akan mudah untuk meyakinkan Arin. Tapi aku akan berusaha membuktikan kata-kataku."


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu mendadak mengatakan ini? Maksudku, apa kamu benar-benar yakin dengan perasaanmu? Jika itu hanya perasaan suka sesaat saja, sebaiknya kamu mundur. Jangan pernah mengusik Arin sedikitpun. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Arin lagi. Dia sudah cukup banyak menderita."


"Tidak Mas, aku benar-benar yakin dengan perasaanku. Aku mencintai Arin, dan aku ingin dia menjadi istriku. Aku tahu apa yang kulakukan ini memang sangat konyol dan sulit untuk dipercaya, tapi aku akan membuktikan kata-kataku."


Rangga tampak sangat serius dengan ucapannya, dia bahkan tak bergeming.


"Untuk saat ini aku percaya padamu. Tapi jika sekali saja kamu menyakiti Arin atau bahkan meski hanya satu tetes saja airmata jatuh dari pelupuk matanya karenamu, maka kamu akan berurusan denganku."


Ucap Ardan dengan tatapan tajam.


"Insyaa Allah Mas, aku akan berusaha untuk itu. Aku memang tidak bisa berjanji tidak akan membuatnya menangis, tapi aku akan berjuang untuk itu."


Jawab Rangga dengan mantap.


"Baiklah, sebagai sesama pria aku pegang kata-katamu."


Balas Ardan.


Ardan dan Rangga sedang berjalan kembali ke ruang tunggu didepan ruangan NICCU, dan saat itu tanpa sengaja Rangga melihat Arin yang sedang berbincang dengan beberapa orang pria dan tampak sangat akrab.

__ADS_1


Rangga ingat persis, salah satu dari mereka. Itu adalah pria yang sama, yang beberapa tahun lalu dia melihat Arin bersandar di bahunya di salah satu bangku di rumah sakit ini.


Perasaan Rangga berkecamuk. Di satu sisi, dia merasa kesal dengan pria itu. Namun dia sadar dia bukanlah siapa-siapa dan dia tak punya hak untuk merasakan kekesalan itu. Di sisi lain dia juga merasa sangat ingin tahu, siapa pria itu dan bagaimana dia bisa sangat dekat dengan Arin. Bahkan Arin tampak tak canggung saat berbicara dengan ketiga orang pria itu.


Ardan yang kala itu berada di samping Rangga, bisa melihat sorot mata tajam dengan tatapan tak suka melihat apa yang ada didepannya.


Pria itu segera memberikan penjelasan, sebelum Rangga membuat kesimpulan sendiri.


"Itu Hadi, Bimo dan Irfan. Mereka adalah sahabat Arin semasa kuliah. Bahkan dengan Irfan, dia sudah mengenalnya sejak SMA."


Ardan menjelaskan sambik menunjuk ketiga pria itu satu persatu.


Rangga merasa canggung karena Ardan menyadari rasa kesalnya melihat Arin dekat dengan pria lain. Akhirnya dia hanya mengangguk sambil tersenyum kikuk.


Rangga dan Ardan menghampiri Arin yang masih mengobrol dengan teman-temannya.


"Bimo, Hadi, Irfan.. Apa kabar kalian?"


Sapa Ardan.


"Eh, ada Mas Ardan. Alhamdulillah kabar baik Mas. Maaf kami baru sempat datang kesini. Kami baru tahu kalau kakek sakit dan sempat kritis, itupun karena Arin yang absen di acara wisuda."


Jawab Irfan.


Ardan memperkenalkan Rangga pada ketiga sahabat Arin.


"Apa kabar Dok, lama gak jumpa. Mungkin Dokter udah lupa, tapi dulu Dokter juga yang membantu operasi ayahku di rumah sakit ini."


Ucap Bimo sambil mengulurkan tangan.


"Alhamdulillah kabar baik. Maaf, setiap harinya memang sudah menjadi tanggung jawab seorang Dokter untuk menangani pasien silih berganti jadi agak sulit rasanya mengingat pasien satu persatu. Ngomong-ngomong, gimana kabar ayah kamu?"


Tanya Rangga berbasa basi sambil membalas uluran tangan Bimo.


"Alhamdulillah Dok, sejak menjalani pola hidup sehat kondisi Ayah semakin membaik. Itu juga berkat saran Dokter."


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Sampaikan salamku untuk ayah kamu ya."


Ucap Rangga dengan tulus.


"Gimana kondisi kakek Rin, udah siuman?"


Tanya Ardan.

__ADS_1


"Alhamdulillah kakek baru siuman bang, tapi kondisinya masih sangat lemah. Dokter Indra ada di dalam untuk memeriksa kondisi kakek."


Jawab Arin.


"Alhamdulillah, syukurlah."


Ardan menghela napas lega.


"Kondisi lemah pada pasien pasca operasi itu hal yang lumrah. Insyaa Allah beberapa hari kedepan kondisi kakek akan semakin membaik."


Ucap Rangga.


"Oh iya Arin, Rangga ingin membicarakan sesuatu dengan kamu. Ini penting."


Ardan menyampaikan niat Rangga yang ingin bicara empat mata dengan Arin.


"Rin, kalo gitu kami tunggu diluar ya. Mau cari kantin."


Ucap Hadi sambil menarik kedua sahabatnya.


----------


"Mau ngomong soal apa Mas? Apa ini soal kakek? Apa ada masalah dengan operasinya?"


Arin tampak mulai panik.


"Tenang Arin, jangan panik dulu. Ini bukan soal kakek kok. Tapi, memang ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kamu."


Arin melongo sesaat.


"Hal penting apa ya Mas?"


Tanya Arin yang tampak ingin tahu.


"Sebelumnya aku minta maaf, mungkin ini terdengar konyol dan sangat lancang. Dan aku juga tahu mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya."


Arin yang tampak semakin penasaran menatap Rangga dengan penuh curiga.


"Arin, aku ingin melamar kamu. Menjadikan kamu istriku."


Akhirnya kalimat itu terucap dari Rangga.


Kalimat yang dia pendam bertahun lamanya, keluar begitu saja.

__ADS_1


Kalimat yang sejak dulu sangat ingin dia utarakan pada gadis yang kini tengah berdiri di hadapannya, dengan raut wajah yang tampak bingung dan canggung.


__ADS_2