
"Rangga, papa minta maaf. Selama ini papa tidak bisa membela kamu, dan membiarkan mamamu yang memegang kendali. Tapi kalau memang kali ini kamu tidak menginginkannya, papa akan berusaha untuk membujuk mama."
"Sudahlah pa, gak ada gunanya."
Jawab Rangga datar.
"Rangga..
Pernikahan itu bukan permainan. Dibutuhkan komitmen yang kuat sebagai pondasinya. Bagaimana bisa berkomitmen, dengan seseorang yang bahkan tidak dikenal. Sejujurnya, papa memang berharap Amelia menjadi menantu di rumah ini. Tapi papa tidak ingin mengorbankan kebahagiaan kamu. Katakan saja kalau kamu tidak menginginkannya, kita akan berusaha untuk membujuk mamamu."
"Papa tau kan bagaimana sikap mama.."
Gumam Rangga.
"Tapi kita harus mencobanya. Papa akan membantu kamu untuk meyakinkan mama kamu."
Ucap Pak Bayu sambil menepuk pundak Rangga.
----------
"Arin,boleh kakek tanya sesuatu?"
Malam itu Arin sedang berkumpul di ruang keluarga bersama kakek dan neneknya setrlah makan malam.
"Iya, kakek mau tanya apa?"
Tanya Arin.
"Arin, kakek tidak bermaksud menuduh kamu, atau apapun tapi tolong jawab kakek dengan jujur, apakah benar kamu meminjam uang pada ibumu?"
Arin tertunduk lesu, merasa bersalah. Namun dia juga tak menduga jika ayahnya mengetahui soal itu.
"Mungkin kamu bertanya-tanya, bagaimana ayahmu bisa mengetahuinya. Siang tadi ibumu menghubungi ayah kamu. Dia marah-marah pada ayahmu, dan menuduh ayah kamu tidak bertanggung jawab. Dia mengira kami menelantarkan kamu, sampai-sampai kamu harus meminjam uang. Ibumu bilang minggu depan dia akan menjemput kamu dan membawa kamu untuk tinggal bersamanya."
Arin terperanjat kaget. Jadi inilah sebabnya, kenapa ayahnya sangat marah hari ini. Ibunya telah salah menduga dan berpikir bahwa ayahnya menelantarkan Arin. Memang ini salahnya, karena dia tak sempat menjelaskan yang sebenarnya pada ibunya karena dia sedang sangat kalut.
"Kakek, Arin minta maaf. Karena Arin, ibu jadi salah paham pada ayah. Tadi Arin benar-benar kalut kek.. Om Darma, papanya Bimo harus di rujuk ke rumah sakit di kota Medan dan melakukan operasi pemasangan ring di area jantungnya. Biaya operasinya sangat besar, sedangkan Bimo hanya mampu memenuhi separuhnya. Saat itu kami semua kalut, sementara Irfan dan Hadi juga tak punya cukup tabungan untuk membantu Bimo, begitu juga dengan Arin. Dan Arin pikir satu-satunya solusi untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat hanyalah dari ibu. Karena itu Arin hubungi ibu, dan Arin meminjam uang pada ibu sebesar tujuh puluh juta."
__ADS_1
"Arin.. Kenapa kamu tidak mengatakannya pada kakek atau ayah kamu?"
"Arin gak mungkin minta pada ayah kek, sementara kakek tahu sendiri kan bagaimana selama ini ayah memperlakukan Arin."
"Arin, dengarkan kakek. Ayah kamu sangat menyayangimu. Kamu kira untuk apa selama ini dia bekerja keras siang dan malam bahkan jarang pulang, kalau bukan untuk kamu dan Ardan?"
"Arin tahu kek. Arin yang salah. Besok Arin akan menemui ayah, Arin akan minta maaf pada ayah karena Arin sudah membuat kesalah pahaman yang besar terhadap ibu dan ayah. Arin akan jelaskan semuanya, begitu juga pada ibu."
"Yasudah. Besok biar kakek yang menemani kamu menemui ayahmu."
-------
"Mau apa kamu kesini? Kalau kamu berniat untuk pamit, itu tidak perlu. Pergilah. Ayah tidak akan menghalangi kamu. Lagipula, mungkin lebih baik jika kamu tinggal bersama ibumu yang sanggup memberikan apa yang kamu inginkan. Setidaknya, kamu bisa menikmati hidup mewah bersama ibumu."
Ucap Ayah Arin dengan datar.
"Ayah, Arin minta maaf.. Arin yang salah. Arin yang udah buat ibu sama ayah salah paham.. Arin benar-benar minta maaf.."
Arin menangis dan berlutut di hadapan ayahnya sambil memeluk kaki ayahnya.
"Apa yang kamu lakukan? Ayah, bawa dia pergi dari sini!"
"Bohong kamu!"
Hardik Ayah Arin sambil menghempaskan Arin dan mundur beberapa langkah.
"Arin berani sumpah ayah, Arin gak berbohong. Papanya Bimo harus di rujuk ke rumah sakit di kota Medan untuk melakukan operasi pemasangan Ring di area jantungnya. Kalau ayah gak percaya, Arin bisa membawa ayah kesana."
Arin masih berlutut sambil terisak, hingga menjadi tontonan beberapa karyawan di bengkel milik ayahnya itu.
"Pergi! Pergi kamu dari sini..!!"
"Malik, apa yang kamu lakukan? Putrimu datang kesini untuk meminta maaf dan meluruskan masalahnya, tapi kamu malah mengusirnya? Ayah macam apa kamu!"
Kakek menghadang Malik, ayah Arin.
"Ayah, bawa dia pergi dari sini sekarang. Aku tidak ingin hal ini menjadi tontonan orang banyak. Orang-orang pasti akan mengatakan aku ayah yang kejam. Cepat pergi!"
__ADS_1
"Arin, ayo kita pergi dari sini. Tidak ada gunanya kita berbicara dengan ayahmu. Hatinya sudah menjadi batu!"
Kakek menarik tangan Arin yang saat itu masih menangis tersedu, kemudian membawanya pergi.
Arin.. Maafkan ayah.
Batin Pak Malik sambil menatap punggung ayah dan putrinya yang sudah menjauh dengan tatapan nanar.
"Kakek.. Kenapa ayah semarah itu pada Arin.. Apakah begitu besar kesalahan Arin sampai-sampai ayah tidak sudi menerima maaf Arin?"
Sepanjang perjalanan Arin menangis tersedu.
"Arin, ayahmu masih emosi. Sebaiknya biarkan dia tenang dulu. Kakek yakin setelah pikirannya tenang, dia akan baik-baik saja."
Jawab Kakek sambil menenangkan Arin.
"Kakek.. Apakah ayah benar-benar ingin Arin pergi? Apakah ayah bersungguh-sungguh mengusir Arin?"
"Dia tidak punya hak untuk mengusirmu, masih ada kakek dan nenek yang akan selalu menerima kamu. Jangan dipikirkan. Lagipula kamu sudah dewasa, kamu berhak menentukan pilihan kamu sendiri. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, kakek dan nenek adalah rumahmu. Bahkan meski dunia mengusirmu, kamu tetap punya rumah untuk pulang."
"Makasih kek.. Selama ini cuma kakek, nenek dan bang Ardan yang peduli pada Arin."
"Tentu saja, karena kamu adalah cucu kesayangan kakek dan nenek juga adik kesayangan Ardan."
Jawab kakek sambil mengusap kepala Arin.
"Lihat, ada pedagang kembang gula kapas.."
Ucap kakek sambil menunjuk keluar melalui jendela mobilnya.
Kakek menepikan mobilnya, kemudian mengajak Arin keluar.
Itu adalah taman yang dulu sering mereka kunjungi, setiap kali ayahnya membawa mereka sekeluarga mudik ke rumah kakek dan nenek. Banyak memori indah di taman ini, termasuk kembang gula kapas.
Kakek membeli dua tangkai kembang gula kapas, salah satunya diberikan pada Arin yang sedang duduk di bangku taman.
"Kamu ingat, dulu kamu sering meminta ayahmu membelikan kembang gula ini. Ibumu selalu melarangnya, karena takut gigimu akan rusak. Tapi ayahmu diam-diam membawamu ke taman ini bersama Ardan untuk membeli kembang gula."
__ADS_1
Arin tersenyum getir. Tentu dia ingat semuanya, setiap kepingan kenangan itu kembali terputar dibenaknya seperti tayangan film.