
"Rangga, mama mau bicara sama kamu."
Bu Riana menghampiri Rangga yang sedang membaca jurnal pasien di kamarnya malam itu.
"Ma, Rangga lagi fokus. Tolong jangan ganggu Rangga dulu. Besok Rangga harus melakukan beberapa operasi besar."
Ucap Rangga.
"Baiklah, nanti mama kembali. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Ini tentang Amelia."
"Kalau mama ingin membahas soal pernikahan itu, aku gak akan berkomentar apapun. Mama urus saja semuanya. Aku sudah terlalu repot mengurus pasien di rumah sakit, tak ada waktu untuk mengurus segala macam hal yang berkaitan dengan pernikahan."
Jawab Rangga.
"Rangga, bicaralah. Kamu hanya mengatakan semuanya terserah mama. Apa kamu menginginkannya? Setidaknya berikan pandanganmu, karena kamulah yang nanti akan menjalaninya."
Pinta mama.
"Kalau itu bisa membuat mama bahagia, anggap saja Rangga memang menginginkannya."
Jawab Rangga datar.
Kemudian bu Riana keluar dari kamar putranya sambil menahan airmata.
Ya Allah.. Apa yang sudah aku lakukan. Apakah sudah benar yang aku lakukan ini? Amelia adalah gadis yang baik, aku sangat berharap dia menjadi menantuku dan aku yakin Rangga akan bahagia dengan Amelia. Tapi bagaimana dengan Rangga? Apakah dia benar-benar akan menerima Amelia sepenuh hati? Mohon berikan aku petunjuk ya Allah..
Batin Bu Riana.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dari salah seorang teman lamanya, tertera nama Hamidah di layar.
"Na, aku lagi di kota Medan nih. Kita reunian yuk.. Mumpung Dian juga ada disini."
Ucap seseorang di telepon.
"Hari ini?"
Tanya Bu Riana.
"Iya hari ini, soalnya aku juga gak bisa lama. Sore juga udah balik ke Jakarta. Mumpung suamiku lagi dinas keluar kota."
Jawab Bu Hamidah.
"Oke deh, share lokasi ya."
Tak lama kemudian, Bu Hamidah mengirimkan lokasi kepada Bu Riana.
Singkat cerita, Bu Riana bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lamanya semasa masih belia dulu di sebuah kafe.
"Gak nyangka ya kita masih bisa kumpul lagi. Udah lama banget rasanya, terakhir kali kita ketemu kalo gak salah sekitar lima belas tahun lalu ya."
Ucap Bu Hamidah.
"Ya, waktu emang cepat banget berlalunya. Perasaan baru kemaren deh kita lulus kuliah, Eh tau-taunya aja sekarang nyaris punya cucu."
Balas Bu Dian.
"Kalian cuma datang berdua? Gimana kabarnya Ayu?"
Tanya bu Riana.
__ADS_1
mendadak raut wajah kedua wanita di hadapan bu Riana menjadi muram.
"Na, kamu kan tahu sendiri. Dia udah mutusin hubungan pertemanan sejak lama. Apalagi sekarang setelah dia sukses, pasti makin gede kepala aja."
Jawab Bu Hamidah dengan sinis.
Bu Riana terdiam sejenak.
"Na, udah deh. Ngapain juga mikirin dia, emang dia ingat kita? Gak kan.. Bahkan dia juga sama sekali gak ngabarin kita waktu dia nikah, entah gossip itu benar atau tidak. Tapi banyak yang bilang dia sudah menikah bahkan sudah punya anak."
Sahut Bu Dian.
"Sebenarnya, setelah kejadian dulu aku masih sempat berhubungan dengan Ayu."
Ucap Bu Riana.
Kedua sahabat Bu Riana tampak kaget.
"Aku bahkan sempat menghadiri pernikahannya. Terakhir kali aku bertemu dengannya di rumah sakit, saat dia melahirkan anak keduanya."
"Kok kamu gak pernah bilang? Jadi gossip itu benar?"
Tanya Bu Hamidah.
"Ayu memang sudah menikah?"
Sambung Bu Dian.
Bu Riana mengangguk.
"Ayu memintaku merahasiakan semuanya."
"Ada apa sebenarnya dengan Ayu? Dia mendadak berubah, menjauh dari kita semua. Dan kabar soal pernikahannya, juga gossip-gossip miring itu."
Gumam Bu Hamidah.
"Entahlah. Aku juga sangat iba padanya. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tahu, dia di jodohkan oleh keluarganya. Awal mula pernikahannya berjalan dengan lancar, sampai saat mereka memiliki satu anak. Ketika itu nama Ayu mulai dikenal masyarakat. Tapi tiba-tiba dia menghilang. Aku bertemu dengannya secara kebetulan di rumah sakit, saat dia akan melahirkan anak keduanya. Itu terakhir kali kami bertemu. Bahkan dia memberikan nama putrinya persis seperti namaku, Ariana. Dia bilang dia ingin putrinya menjadi sepertiku. Sejak itu kami tak pernah bertemu lagi."
Bu Riana terkenang.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Ayu. Ya aku tahu sejak dulu dia memang bercita-cita menjadi penata rias yang sukses, tapi haruskah dia membuang semua orang-orang di masa lalunya? Bahkan dia juga melupakan kita, sahabatnya."
Ucap Bu Hamidah.
"Banyak hal yang tidak kita ketahui, tapi aku yakin Ayu punya alasan untuk itu. Kalian tau sendiri kan, dia sudah berusaha sangat keras untuk mewujudkan mimpinya. Dan banyak hal terjadi, tapi setidaknya sekarang dia sudah bisa tersenyum lega karena dia sudah mencapai mimpinya."
Jawab Bu Riana.
"Sudahlah, untuk apa kita bahas dia. Mending kita bahas diri kita sendiri. Eh, ngomong-ngomong gimana kabarnya Rangga Na? Pasti udah gede banget ya sekarang."
Balas Bu Dian.
"Ya, Alhamdulillah. Dia mengikuti jejak papanya."
Jawab Bu Riana.
"Jadi Dokter dong? Buah memang jatuh gak jauh dari pohonnya ya."
Sambung Bu Hamidah.
__ADS_1
Bu Riana hanya tersenyum simpul.
"Apa dia sudah menikah? Atau, punya pacar mungkin?"
Pertanyaan Bu Dian membuat Bu Riana tertegun.
Apa yang harus dia katakan?
Dia bahkan tak tahu apakah Rangga menerima keputusannya atau tidak.
"Na, kok bengong?"
Bu Hamidah mencawel lengan Bu Riana.
"Eh, Gak. Aku cuma sedang teringat sesuatu."
Jawab Bu Riana.
"Teringat sama suami ya.."
Goda Bu Dian.
"Gak, ini soal Rangga."
Jawab Bu Riana.
Akhirnya bu Riana menceritakan semua masalahnya kepada kedua sahabatnya.
"Na, apa yang dikatakan suami kamu itu benar. Biarkan Rangga yang menentukan sendiri pilihan hidupnya. Dia bukan anak kecil lagi."
Ucap Bu Hamidah setelah mendengar cerita Bu Riana.
"Jadi menurut kalian aku yang salah?"
Tanya Bu Riana.
"Kamu gak salah Na.. Sebagai seorang ibu, sangat wajar jika kita menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Tapi yang terbaik menurut kita, belum tentu baik juga untuk mereka Na."
Balas Bu Dian.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
"Biarkan dia menentukan kebahagiaannya sendiri Na. Kita sebagai orangtua, hanya bisa mendukungnya. Jangan pernah memaksakan kehendak kita pada mereka. Bukankah kebahagiaan kita, adalah jika melihat anak-anak kita bahagia?"
Jawab Bu Hamidah sambil mengusap pundak Bu Riana.
Bu Riana tertegun. Terlambat baginya menyadari, bahwa dia telah melakukan hal yang keliru.
Tapi, bagaimana dengan Amelia? Gadis itu sudah setuju dan menerima pinanganku. Dia pasti akan sangat terluka jika aku membatalkan perjodohan ini.
Batin Bu Riana.
"Na, kami mengerti apa yang kamu pikirkan. Begini saja, berikan kesempatan untuk Rangga mengenal gasis itu terlebih dulu. Setelah itu, biar mereka sendiri yang memutuskan kelanjutan hubungan mereka."
Usul Bu Hamidah.
"Kamu benar Dah, mungkin sebaiknya aku biarkan mereka yang memutuskan untuk kedepannya. Ya, mudah-mudahan saja Rangga dan Amelia memang berjodoh."
Jawab Bu Riana dengan raut wajah penuh harap.
__ADS_1