Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Tigapuluh Sembilan


__ADS_3

"Ya Allah.. Engkau yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Sesungguhnya tiada daya dan upaya kami, selain atas pertolonganMu. Hamba sadar bahwa nyawa kami pun adalah milikMu, dan akan kembali kepadaMu. Jika memang Engkau ingin mengambil kembali, ambillah kakek dalam keadaan hamba yang bertaqwa. Namun jika Engkau kehendaki kesembuhan baginya, Hamba yakin dan percaya Engkau akan memberikan pertolonganMu meski melalui cara yang tidak kami duga."


Rangga yang saat itu baru saja memasuki mushola merasa trenyuh mendengar doa dari seorang pria yang tengah khusyuk di atas hamparan sajadah.


Ya Allah.. berikankah kesembuhan untuk kakek pria ini..


Batin Rangga.


Rangga telah selesai melaksanakan kewajibannya, namun pria itu masih duduk di atas sajadah sambil berdzikir dengan sangat khusyuk.


Setelah melirik jam di tangannya, Rangga bergegas menuju ruang ICCU untuk melakukan operasi pemasangan ring terhadap seorang pasien yang sedang dalam keadaan kritis.


"Nona Arin, kami akan segera melakukan operasi pemasangan ring terhadap kakek anda. Alhamdulillah, Dokter Rangga ada disini. Dia adalah Dokter Spesialis Kardiovaskular terbaik di rumah sakit ini yang sedang melanjutkan study nya di standford. Ini sangat kebetulan sekali, Dokter Rangga baru saja kembali dan dia bersedia memimpin tim Dokter untuk melakukan operasi terhadap kakek anda."


Seorang perawat memberikan kabar baik itu pada Arin yang sejak tadi hanya berdiam di depan ruang ICCU.


Tentu saja itu kabar terbaik yang mereka harapkan, karena akhirnya kakek bisa ditangani oleh Dokter.


Bahkan ayahnya secara refleks bershjud syukur di koridor rumah sakit. Nenek dan Yoshie saling merangkul dan terlihat sangat lega.


"Alhamdulillah.. Terimakasih Suster. Tolong, ucapkan terimakasih kami juga kepada Dokter Rangga dan Dokter yang lain."


Ucap Yoshie.


Arin yang tampak sangat lega segera berlari menuju mushola untuk menyampaikan kabar baik ini, dan tanpa swngaja dia menabrak seorang Dokter yang sedang bergegas menuju ruang ICCU. Arin menunduk meminta maaf, dan langsung bergegas pergi tanpa melihat orang yang dia tabrak.


"Arin.."


Gumam Rangga dengan sorot mata sendunya.


"Dokter, semua persiapan sudah selesai, kita bisa memulai operasinya sekarang."


Seorang perawat menghampiri Rangga yang masih terpaku memandang Arin yang sudah berlari jauh.


Rangga bergegas memasuki ruangan ICCU bersama tim dokter dan beberapa perawat yang akan membantunya melakukan operasi kali ini.


 


"Suster Ana, bagaimana pasien yang harus melakukan operasi pemasangan ring, apakah kalian sudah konfirmasi untuk merujuknya ke rumah sakit lain?"


Dokter Bayu yang saat itu baru saja selesai menangani pasiennya menghampiri petugas di meja administrasi.


"Operasinya sedang berlangsung Dok, dan kali ini Dokter Rangga yang melakukannya."

__ADS_1


Jawab petugas tersebut.


"Dokter Rangga? Apa kamu yakin dia yang melakukan operasinya?"


Dokter Bayu tampak tak percaya.


"Benar Dok, sudah dikonfirmasi oleh Dokter Indra dan saat ini mereka sedang berada di ruang ICCU melakukan operasi pemasangan ring terhadap pasien."


"Baiklah, itu bagus. Semoga saja operasinya berjalan lancar."


Kenapa tiba-tiba Rangga ada disini, dia bahkan tidak memberi kabar jika dia akan pulang.


Batin Dokter Bayu sambil berjalan meninggalkan meja administrasi.


Dokter Bayu kembali ke ruangannya, dan segera menghubungi istrinya untuk memberi kabar kepulangan putranya.


 


Setelah hampir tiga jam, akhirnya operasi selesai dilakukan dan berjalan dengan lancar.


Rangga keluar dari ruang ICCU untuk menemui keluarga pasien dan menjelaskan kondisi pasien yang baru saja dia tangani.


Ardan dan ayahnya langsung berdiri menyambut Dokter Rangga.


Tanya Malik dengan wajah penuh harap.


"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Namun pasien masih harus di rawat inap selama beberapa hari."


Jawab Rangga.


"Alhamdulillah.."


Arin yang saat itu tengah merangkul neneknya terdengar sangat lega.


Rangga tampak terkejut, ternyata gadis yang tengah duduk di ruang tunggu bersama dua wanita lainnya adalah Arin. Gadis yang paling ingin dia temui, kini justru ada dihadapannya. Dia baru tahu jika pasien yang dia tangani, ternyata adalah keluarga Arin.


"Dokter, terimakasih banyak dok.. Kami tidak tahu bagaimana cara membalas jasa Dokter, tapi kami benar-benar berterimakasih karena telah menyelamatkan kakek."


Ucap Ardan sambil menjabat tangan Rangga.


"Ini sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai Dokter, dan alhamdulillah, Allah berkehendak memberi kesembuhan pada kakek Anda."


Jawab Rangga sambil tersenyum menerima jabatan tangan Ardan.

__ADS_1


Untuk informasi lebih detail kita bisa bicara di ruangan saya."


Sambungnya.


"Baik Dok."


Ardan dan Arin mengikuti Rangga menuju ruangannya.


Dokter muda ini, sepertinya wajahnya gak asing. Tapi.. Dimana aku pernah melihatnya ya? Aku yakin sebelumnya aku pernah bertemu dengan Dokter ini. Oh iya, aku baru ingat.. Om Darma, ayahnya Bimo juga pernah dirawat disini juga karena penyakit jantung dan kami sempat menemaninya. Mungkin waktu itu aku gak sengaja bertemu atau berpapasan dengannya di rumah sakit ini. Tapi tunggu, tadi kalau aku tidak salah namanya Dokter Rangga? Apakah orang ini adalah Rangga Aditya? Aku ingat sekarang, sepertinya dia juga orang yang pernah menolongku beberapa tahun lalu. Jika memang dia adalah Rangga yang dulu pernah menolongku, mungkinkah dia masih mengingatku?


Batin Arin.


Ya Allah.. Skenario apa kali ini.. Aku jauh-jauh kembali dari Amerika karena dirinya, bahkan aku sudah menyerah ketika aku harus mengutamakan tanggung jawabku sebagai seorang dokter. Aku benar-benar tak percaya kini dia justru ada diruanganku dan duduk dihadapanku. Tapi, bagaimana aku bisa bicara dengannya dalam situasi seperti ini? Arin.. Apakah kamu tidak mengingatku sedikitpun?


Batin Rangga.


"Dokter, bagaimana kondisi kakek?"


Pertanyaan Ardan menyadarkan Rangga yang tengah berkelut dengan batinnya.


"Ehm, ya. Alhamdulillah operasinya sudah selesai dan berjalan dengan lancar, namun untuk proses pemulihan pasien harus di rawat inap selama beberapa hari disini. Tolong berikan pasien banyak minum air putih, membatasi semua aktivitas fisik, termasuk menyetir kendaraan bermotor. Selain itu pasien juga dianjurkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara perlahan dan bertahap, setidaknya selama satu minggu setelah operasi pembedahan. Dan yang terpenting, tetap dukung pasien untuk menjalani pola hidup sehat. "


Jawab Rangga sambil tersenyum canggung pada Ardan.


"Baik Dok, kami akan pastikan kakek mengikuti semua anjuran dokter."


Jawab Ardan.


"Dokter, terimakasih banyak karena telah menyelamatkan nyawa kakekku. Aku gak bisa membayangkan jika Dokter tidak disini, sejujurnya sebelumnya kami sudah tidak tahu lagi harus bagaimana ketika kondisi kakek mendadak kritis dan pihak rumah sakit mengatakan tak ada Dokter yang siap untuk melakukan operasi terhadap kakek."


Ucap Arin dengan tulus.


"Sama-sama Arin, semoga kakek kamu lekas pulih."


Jawab Rangga dengan tatapan penuh makna.


"Ehm, maaf Dok.. Tapi, darimana Dokter tahu namaku?"


Arin tampak bingung ketika Rangga menyebutkan namanya.


Begitu juga dengan Ardan yang tampak tak mengerti.


"Kita pernah bertemu sebelumnya, tapi mungkin kamu sudah lupa. Karena itu sudah sangat lama."

__ADS_1


Jawab Rangga sambil tersenyum.


__ADS_2