Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Duapuluh Enam


__ADS_3

"Dimana kunci motorku ya?"


Rangga yang tadinya sudah bersiap menaiki motornya tiba-tiba menyadari bahwa dia kehilangan kunci motornya. Dia memeriksa semua sakunya namun tetap saja tidak ada.


Baru saja dia akan kembali kedalam untuk mencari keruangannya, ketika seorang satpam tiba-tiba menghampirinya.


"Dokter, ini kunci motornya punya Dokter kan..?"


Satpam itu menyerahkan kunci motor yang ditemukan Arin sebelumnya.


"Oh, iya. Sukurlah ada di bapak, saya pikir hilang. Makasih ya pak."


Ucap Rangga sambil tersenyum.


"Tadi kuncinya terjatuh waktu Dokter buru-buru masuk, untung ditemukan sama yang naik motor itu."


Satpam tersebut menunjuk motor gede yang terparkir tepat di samping motor Rangga.


"Oh.. Yaudah, nanti tolong sampaikan ucapan terimakasih saya sama orang itu ya pak."


Baru saja Rangga akan beranjak, Arin berjalan beriringan dengan Irfan sambil tertawa membahas hal-hal ringan.


Irfan berjalan menuju sepeda motornya, tepat disamping Rangga.


"Mas, makasih ya udah balikin kuncinya."


Ucap Rangga saat bersampingan dengan Irfan.


Awalnya Irfan merasa bingung, namun dia tersadar.


"Oh, bukan aku yang menemukannya. Tapi dia.."


Irfan menunjuk ke arah Arin yang sedang menunggunya digerbang rumah sakit.


Ya Allah.. Kebetulan macam apa ini, aku sudah berusaha untuk melepaskannya tapi kenapa keadaan membuatku melihatnya lagi dan lagi. Rangga, kamu harus melupakan dia.


Batin Rangga bergejolak.


"Tolong, sampaikan ucapan terimakasihku ke pacar mas ya. Aku permisi, assalamualaikum."


Rangga bergegas menyalakan sepeda motornya dan pergi begitu saja.


"Tunggu.. itu, bukannya itu Dokter yang tadi ya..?"


Irfan masih menatap punggung Rangga yang sudah menjauh dengan tatapan bingung.


"Fan, buruan.."


Arin yang sudah menunggu didepan gerbang rumah sakit melambaikan tangan.


"Oh, iya.."


Kemudian Irfan menyalakan motornya.


"Rin, coba tebak siapa pemilik motor yang kuncinya kamu temukan tadi.."


Ucap Irfan.

__ADS_1


Arin mengangkat kedua bahunya.


"Siapa?"


Tanya Arin.


"Dokter Rangga, yang tadi papasan sama kita di koridor.."


Jawab Irfan.


"Oh, ya baguslah kalau kuncinya udah kembali ke pemiliknya. Ayo pulang, keburu hujan loh. Soalnya kita menempuh perjalanan jauh."


---------


"Rangga, mama sudah bicara dengan Amelia. Dia sudah setuju untuk kalian segera menikah."


Bu Riana membuka pembicaraan saat makan malam.


Rangga terdiam sejenak.


"Rangga, ada apa?"


Tanya Pak Bayu dengan tatapan curiga.


"Gak ada apa-apa kok Pa. Rangga cuma terlalu lelah hari ini, banyak menangani pasien. Rangga ke kamar dulu ya Pa, Ma."


Kemudian Rangga meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berada di ruang makan.


"Ma, Papa rasa sebaiknya mama tanyakan dulu pada Rangga. Apakah dia sudah setuju dengan pernikahan ini? Amelia memang gadis yang baik, dan papa sih setuju-setuju aja kalau dia jadi menantu papa. Tapi kita juga harus pikirkan perasaan Rangga kan ma. Belum tentu Rangga bisa menerima Amelia."


"Justru Rangga udah setuju Pa, buktinya dia menyerahkan semua keputusan pada mama. Lagipula mama yakin, Rangga pasti akan bahagia bersama Amelia. Dia gadis yang soleha Pa, sangat jarang kita bisa menemukan gadis seperti dia. Apalagi jaman sekarang. Emangnya Papa mau Rangga menikah dengan wanita-wanita yang tergila-gila padanya itu?"


Jawab Bu Riana.


"Dia menyerahkan keputusan kepada mama, bukan berarti dia menyetujuinya Ma. Dia hanya tidak ingin berdebat dengan mama. Sebagai ibu yang melahirkan dan merawat dia sejak kecil, harusnya mama lebih peka terhadap perasaannya. Apa mama yakin Rangga benar-benar menginginkan pernikahan ini dan bukan karena keinginan mama?


Jangan mengorbankan perasaan Rangga demi obsesi mama.."


Pak Bayu mengingatkan.


Bu Riana menghela napas dalam.


"Oke, mama akan tanyakan sendiri pada Rangga. Tapi kalau memang dia menyetujuinya, papa harus segera melamar Amelia untuk Rangga."


-------


"Rangga, boleh mama masuk?"


Bu Riana membuka pintu, dan melihat putranya yang sedang meringkuk di tempat tidur.


"Rangga, ayo kita bicara. Ini tentang masa depan kamu."


Rangga bangkit dengan malas, kemudian duduk di sofa.


"Ada apa ma?"


Tanya Rangga.

__ADS_1


Bu Riana duduk di hadapan Rangga, sambil melihatnya dengan seksama.


"Rangga, jawab mama dengan jujur. Apa kamu benar-benar menyetujui pernikahanmu dengan Amelia?"


Rangga menghela napas, kemudian menyandarkan kepalanya di sofa.


"Bukannya Rangga udah bilang, terserah mama. Kalau memang mama dan papa menyetujuinya, Rangga gak ada keluhan. Lakukan apapun yang mama mau."


"Menurutmu, Amelia gimana?"


"Gimana apanya?"


Rangga mengernyitkan kening.


"Apakah dia sudah layak menjadi seorang istri?"


Rangga tertegun.


"Dia cantik, dia soleha, bisa dikatakan dia adalah tipe wanita ideal untuk menjadi pasangan hidup."


"Baiklah, mama mengerti. Itu Artinya sudah gak ada masalah, mama dan papa akan mengatur semuanya. Amelia juga sudah setuju untuk menikah."


Rangga terperanjat kaget.


"Bukannya mama bilang dia akan mempertimbangkannya setelah kondisi adiknya pulih?"


"Rangga, lebih cepat lebih baik kan. Lagipula setelah kalian menikah, akan lebih mudah bagi Amelia. Karena ada kamu, papa dan juga mama yang akan membantunya merawat adiknya."


"Tapi ma.."


"Rangga, mama mengerti. Kamu belum mencintainya kan? Kamu tahu, dulu papa dan mama juga menikah karena perjodohan. Saat itu belum ada cinta diantara kami. Tapi papa dan mama yakin, bahwa memang Allah telah menakdirkan papa dan mama untuk berjodoh. Secara perlahan, akhirnya Allah menunjukkan jalanNya. Papa dan mama mulai saling jatuh cinta, hingga akhirnya hidup bahagia sampai kamu sebesar ini."


Pada akhirnya, mama melakukan dengan caranya. Sudahlah. Memang sudah waktunya aku menata masa depanku. Sekarang aku memang tidak mencintainya, tapi mungkin nanti perlahan aku akan mencintainya.


"Rangga.. jodoh, rejeki, maut itu semua Allah yang tentukan. Dan mungkin memang inilah jalan yang Allah tetapkan untuk kamu. Percaya deh sama mama, kamu pasti akan bahagia memiliki istri soleha seperti Amelia. Dia adalah gadis yang baik, dan dia sangat layak untuk menjadi pendamping kamu"


"Iya ma, Rangga mengerti."


"Kalau begitu sekarang mama akan bicarakan dengan papamu. Insyaa Allah minggu depan kita akan melamar Amelia."


"Ma, apakah mama bahagia?"


Tanya Rangga.


"Kebahagiaan kamu, adalah kebahagiaan mama juga. Dan mama yakin, kebahagiaan kamu ada pada Amelia."


Kemudian Bu Riana meninggalkan kamar Rangga dan kembali pada Pak Bayu untuk membicarakan pernikahan Rangga.


Sampai kapan Rangga harus mengikuti semua keinginan mama?


Sejak dulu, selalu mama. Kapan mama akan memahami Rangga ma?


Rangga ingin menjadi atlet karate, tapi mama justru mendaftarkan Rangga mengikuti les privat ini dan itu. Rangga ingin mengambil bidang otomotif, tapi mama mendorong Rangga mengambil bidang kesehatan seperti papa. Rangga ingin melanjutkan study, tapi mama justru mengatur pernikahan Rangga.


Apakah memang sebagai seorang anak Rangga tidak memiliki hak untuk merdeka ma?


Rangga menatap jendela kamarnya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


__ADS_2