Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Limapuluh Tiga


__ADS_3

"Jadi, apa rencana kamu selanjutnya Rin? Aku yakin saat ini media pasti sedang memburu kamu untuk meminta klarifikasi."


"Entahlah Fan, aku juga gak tahu. Yang pasti untuk saat ini aku butuh tempat untuk bersembunyi dan menenangkan diri."


Jawab Ariana sambil menghela napas dalam.


"Yaudah gini aja, gimana kalo untuk sementara kamu tinggal dengan budeku? Aku yakin bude gak keberatan menerima kamu dirumahnya. Karena bude juga tinggal sendirian, sejak almarhum suaminya meninggal akibat kecelakaan pesawat. Sedangkan sepupuku, dia lebih banyak tinggal di luar kota untuk proyek pekerjaan yang dia garap."


Usul Irfan.


"Inna Lillahi wa inna ilaihi roji'un. Semoga almarhum husnul khotimah. Tapi Fan, apa itu gak merepotkan bude kamu?"


Tanya Arin.


Irfan menggeleng sambil tersenyum.


"Rumahnya gak jauh kok dari sini. Tadi aku memang berencana membawa kamu kesana, karena aku yakin kamu pasti butuh tempat menenangkan diri untuk sementara waktu. Setidaknya sampai situasi mulai tenang."


"Thanks ya Fan."


Akhirnya Irfan kembali melajukan mobilnya.


"Irfan, kok kamu datangnya gak bilang-bilang dulu? Untung aja bude ada dirumah."


Bude menyambut Irfan dan Arin yang baru saja sampai dirumahnya.


"Aku emang sengaja mau kasih kejutan untuk Bude. Ngomong-ngomong, apa bang Fahri udah sampe bude?"


Tanya Irfan yang memang berniat untuk menemui Fahri, sepupunya.


"Tadi dia bilang baru sampe bandara, paling udah otewe kesini. Tapi, gadis ini siapa Fan, apa dia pacar kamu?"


Tanya Bude sambil menatap Arin dengan intens.


"Bukan Bude, ini Arin teman aku."


Tanpa menunggu komando Arin menyalim tangan bude dan memperkenalkan dirinya.


"Saya Arin bude, teman kuliahnya Irfan."


Jawab Arin sambil tersenyum.


"Wealah, bude kirain pacar kamu Fan."


Ucap Bude sambil tertawa renyah.


"Bude bisa aja. Tapi kalo seandainya dia pacar aku, Bude setuju gak?"


Goda Irfan.


"Bude gak setuju. Ngapain pacar-pacaran malah bikin dosa. Tapi kalau kalian menikah, bude dukung."


Jawab Bude dengan tegas sambil tersenyum.


"Iyaa budeku sayang, aku gak akan pernah lupa kok sama pesan bude. Jangan sampai mendekati perbuatan maksiat.."


Ucap Irfan.


"Eh ayo masuk, Arin masuk aja jangan sungkan-sungkan ya. Anggap aja rumah sendiri. Irfan dari dulu sering kok bawa teman-temannya main kesini, tapi ini pertama kalinya dia bawa teman wanita. Maaf ya, tadi bude sempat salah duga."


Bude menyapa Arin dengan ramah.


"Iya gak apa kok Bude."


Jawab Arin tersenyum canggung.


"Oh iya Bude, sebenarnya Irfan datang kesini sama Arin juga karena Irfan mau minta tolong sama bude."


Irfan memulai pembicaraan sesaat setelah mereka duduk di kursi ruang tamu.

__ADS_1


"Minta tolong apa Fan?"


Tanya Bude.


"Ehm, begini bude. Kebetulan kan Arin ini lagi ada urusan penting di daerah sini. Masalahnya dia gak punya keluarga ataupun kenalan yang bisa dia tumpangi karena Arin bukan dari kota ini. Maksudnya Irfan mau minta tolong, boleh gak Arin menginap disini untuk sementara waktu?"


Tanya Irfan.


"Wealah, bude kira mau minta tolong apa. Ya tentu boleh dong, toh bude juga tinggal sendiri. Bude malah senang kalau ada Arin disini, ya setidaknya untuk sementara bude gak kesepian."


Jawab Bude sambil tersenyum.


"Alhamdulillah.. Makasih banyak bude."


Ucap Arin sambil tersenyum.


"Iya sama-sama."


Jawab Bude.


"Assalamualaikum.."


Tampak seorang pria bertubuh jangkung dengan rambut sedikit gondrong acak-acakan dan kacamata frame bulat besar membingkai mata sipitnya. Dari penampilan, usianya sedikit lebih tua dari Arin dan Irfan.


"Waalaikumsalam."


Ketiga orang yang tengah mengobrol di ruang tamu spontan melihat ke arah pintu.


"Nah, itu yang kamu cari udah nongol Fan."


Ucap Bude.


Pria itu masuk kedalam, kemudian menyalim tangan bude.


"Pasti ibu sama Irfan ngomongin aku lagi kan."


Ucapnya.


Ucap Bude.


"Eitss, jangan salah Bu. Justru perempuan sekarang demen sama yang model begini, ala-ala badboy korea."


Jawab pria itu sambil cengengesan.


"Korea apa Korengan Bang."


Ledek Irfan yang dibalas dengan tawa mereka.


"Ngomong-ngomong, siapa gadis ini? Calon istri kamu Fan?"


Pria itu yang sejak tadi sudah melirik Arin bertanya pada Irfan.


"Ini Arin Bang, teman kuliahku. Rin, ini Bang Fahri sepupuku."


Irfan memperkenalkan Arin pada Fahri, sepupunya.


"Hai, aku Fahri."


Fahri mengulurkan tangan sambil tersenyum.


"Arin."


Jawab Arin sambil menjabat tangan Fahri sekilas.


"Wajah kamu kayaknya familiar.."


Ucap Fahri sambil menatap Arin.


"Ehm, Bang.. Aku mau bahas soal tawaran mas kemaren. Bisa kita bicara berdua aja?"

__ADS_1


Irfan mengalihkan pembicaraan.


"Fan, kamu gak lagi mau nyatain perasaan kamu kan?"


Ledek Fahri sambil tertawa sumringah, dibalas pukulan tepat di perutnya.


"Bentar doang, aku gak sabar bahas yang kemaren."


Jawab Irfan sambil merangkul pundak Fahri dan membawanya keluar.


"Fan, gimana kamu bisa kenal gadis itu?"


Tanya Fahri setelah mereka duduk di taman samping rumah.


"Maksudnya?"


Irfan mengernyitkan kening.


"Hei, apa kamu tahu kalau sekarang berita tentang gadis itu sedang sangat viral? Aku juga seorang entertainer tentu saja aku tahu. Bahkan aku pernah bertemu ibunya beberapa kali di acara stasiun tv swasta."


Irfan menghela napas dalam.


"Bang, tolong jangan bilang soal ini sama bude ya. Kasihan Arin bang, saat ini dia hanya membutuhkan tempat untuk bersembunyi. Aku janji gak akan lama, mungkin dua atau tiga hari cukup."


Ucap Irfan.


"Fan, abang sebenarnya gak masalah. Tapi kamu harus tahu Fan, ayah gadis itu bukan pengusaha sembarangan. Abang tahu persis siapa dan bagaimana pria itu. Abang harap keberadaan dia disini tidak akan menimbulkan masalah terutama bagi ibu."


Fahri mengingatkan.


"Iya Bang, aku mengerti."


Jawab Irfan.


Sementara itu di tempat berbeda..


"Gimana Ardan, apa sudah ada kabar keberadaan Arin?"


Tanya Malik, ayahnya.


Keluarga Arin tampak sangat cemas, sejak kejadian siang tadi hingga saat ini tak ada yang tahu keberadaan Arin.


"Aku udah cek rekaman CCTV dan siang tadi seseorang membawa Arin dari parkiran. Sayangnya sampai sekarang aku belum berhasil melacak plat nomor kendaraan yang digunakan."


Ucap Rangga yang malam itu sedang bersama keluarga Arin.


"Ayah gak bilang soal ini sama kakek dan nenek kan?"


Tanya Ardan dengan wajah cemasnya.


"Kakek sama nenek belum tahu soal ini bang. Tapi sejak sore tadi kakek menanyakan Arin."


Jawab Yoshie yang sejak siang tadi menemani nenek berjaga di ruangan bersama ayah mertuanya.


"Ini pasti ulah Fahrul, pasti dia yang sudah membawa Arin."


Ucap Malik dengan raut wajah yang tampak geram menahan amarah.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang ayah? Kemana kita akan mencari Arin?"


Tanya Ardan.


"Ayah tahu kita harus kemana."


Baru saja ketiga pria itu akan bergegas pergi, dihadapan mereka tampak seorang pria seusia Malik dengan penampilan necisnya. Dia datang bersama beberapa orang bodyguard.


"Fahrul.."


Gumam Malik sambil menatap pria itu dengan sorot mata tajamnya.

__ADS_1


"Dimana putriku?"


Tanya Fahrul dengan tenang, namun sorot matanya tak kalah tajam.


__ADS_2