
"Ayah, maaf jika Arin sudah membuat semua orang khawatir memikirkan Arin. Tapi sudah cukup ayah, Arin gak mau melibatkan lebih banyak orang. Arin butuh waktu untuk memikirkan masalah ini. Tolong jangan paksa Arin Ayah, Arin tidak ingin menjadi beban siapapun."
Arin meninggalkan Ayahnya yang masih terdiam di bangku rumah sakit.
Dua hari kemudian, hal mengejutkan terjadi.
Tiba-tiba saja banyak wartawan yang mengikuti Wulan Ayu di rumah sakit, setelah sehari sebelumnya ibu kandungnya itu membongkar jati diri Arin kepada media.
Arin yang mengetahui hal itu tentu saja tak tinggal diam. Akhirnya dengan berani Arin menemui awak media, dan mengakui dialah Ariana Dahlia, putri dari Wulan Ayu dan Fakhrul Razi. Tak hanya itu, Arin bahkan membongkar kejadian yang sebenarnya bahwa Ibunya sudah membohongi media. Ibunya tidak pernah menikah dengan Fakhrul Razi. Dengan kata lain, dia adalah anak yang terlahir dari hubungan gelap. Sontak saja hal itu membuat awak media semakin gencar mengejarnya untuk mendapatkan kebenaran.
Hanya dalam hitungan jam, video pengakuan Ariana langsung menjadi trending topik di berbagai media elektronik termasuk media sosial. Berbagai komentar dan tanggapan dari masyarakat pun mulai bermunculan. Sebagian besar orang merasa kasihan dan simpati pada Ariana, namun tak sedikit juga orang yang justru menuding Ariana sengaja mencari sensasi atau ingin menumpang tenar dari kasus ini.
"Sekarang kau lihat apa yang dilakukan putrimu itu. Benar-benar memalukan, anak yang tidak tahu sopan santun. Bisa-bisanya dia mempermalukan orangtua kandungnya."
Fakhrul yang sore itu baru tiba di Indonesia tampak sangat berang dengan pemberitaan yang muncul di media.
Bahkan dia juga tak luput dari kejaran para pemburu berita.
"Maaf Mas, aku juga gak menyangka Arin akan berbuat senekat itu."
Wulan Ayu tampak sangat ciut melihat amarah pria di depannya.
"Segera temukan anak itu, dan kita akan bersembunyi di New York untuk sementara waktu sampai berita mereda."
"Aku sudah mencarinya Mas, tapi aku tidak menemukan dia. Aku tidak tahu kemana dia pergi. Aku kehilangan jejaknya saat dikerumuni wartawan siang tadi."
"Dasar Bodoh! Kau kan bisa menggunakan mantan mertua dan mantan suamimu yang bodoh itu! Aku yakin mereka sengaja menyembunyikan Arin."
"Percuma Mas, mereka juga tidak mau mengatakan dimana keberadaan Arin. Bahkan mereka tidak peduli meskipun aku sudah memberikan mereka ancaman."
"Kalau begitu biar aku yang turun tangan. Kalau sampai mereka menahan putriku, aku tidak segan-segan melaporkan mereka atas tuduhan penculikan. Toh, mereka tidak punya hubungan darah dengan Ariana."
Wulan Ayu tampak semakin ciut.
"Mas, sudahlah. Mari kita lupakan saja masalah ini, biarkan Ariana hidup dengan tenang. Setelah kita menikah nanti, kita juga akan punya anak kan. Lagipula, Ariana tidak menerima kita sebagai orangtuanya."
"Itu semua karena kesalahanmu! Ariana membenciku juga karena salahmu. Dengar, jika Kau berhasil membawa putriku pulang aku akan melupakan masalah ini. Kita akan mulai hidup baru sebagai keluarga yang utuh. Tapi jika Kau gagal, aku tidak segan-segan menghancurkan karirmu dan aku benar-benar akan melakukannya!"
-------------------
Flashback...
Siang itu sesaat setelah Ariana membongkar jati dirinya dihadapan awak media. Peristiwa itu terjadi di depan rumah sakit, bahkan menjadi tontonan banyak orang.
Ariana bergegas pergi meninggalkan kerumunan wartawan yang masih berusaha mengejarnya. Situasi tampak sangat kacau.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang menarik lengan Arin dan membawanya masuk ke sebuah mobil, pria itu kemudian menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran media.
"Siapa kamu?"
Ariana tampak bingung sekaligus penasaran dengan seseorang yang kini sedang menyetir.
Orang itu mengenakan hodie berwarna hitam dengan penutup kepala, dilengkapi dengan masker penutup wajah berwarna senada.
"Kamu mau bawa aku kemana?"
Tanya Ariana.
Namun orang itu hanya diam sambil fokus menyetir.
Merasa takut kalau orang ini berniat menculiknya, Arin mulai bersikap waspada.
"Dengar, kalau kamu bermaksud menculikku maka kamu salah sasaran. Apalagi jika demi uang, kamu tidak akan mendapatkannya. Jadi sebaiknya kamu turunkan aku disini sekarang."
Orang itu masih tak juga bergeming, membuat Ariana semakin cemas.
"Kalau kamu gak menghentikan mobilnya aku akan lompat!"
Ancam Arin.
Namun percuma saja, karena mobil itu sudah terkunci otomatis.
Arin yang semakin panik mulai mencari cara untuk bisa meloloskan diri.
Beberapa saat kemudian Arin menarik kemudi mobil, membuat mobil itu kehilangan keseimbangan hingga akhirnya si pengemudi menginjak rem.
Nyaris saja mereka menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang jika mobil itu tidak bisa dihentikan.
Si pengemudi kemudian membuka masker penutup wajahnya.
"Aku baru tahu kalau kamu se bar-bar itu."
Ariana tampak sangat terkejut saat mengetahui sosok pria yang sejak tadi menculiknya.
"Irfan? Kok kamu bisa ada disini?"
Ariana tak menduga jika ternyata sosok pria yang sejak tadi bersamanya adalah Irfan, sahabat baiknya.
"Tadinya aku berniat menjenguk Kakek, karena kebetulan aku juga ada urusan disini. Dan gak sengaja aku melihat kamu yang dikerumuni wartawan. Makanya aku bantuin kamu. Eh, malah aku dikira penculik."
"Ya ampun Fan, sumpah habisnya kamu tuh bikin takut aja. Dari tadi ditanya bukannya jawab, siapa yang gak was-was coba."
__ADS_1
Protes Arin.
"Hehehe.. Maaf, sebenarnya aku juga lagi latihan."
Jawab Irfan sambil tertawa dan melepas hodie yang digunakannya.
"Latihan?"
Arin tampak bingung.
"Iya. Kemarin aku dapat tawaran main film dari sepupuku yang kebetulan produser. Filmnya genre action, dan kebetulan aku dapat peran jadi penculik misterius gitu. Makanya hari ini aku kesini untuk menemui sepupuku."
Irfan memberi penjelasan.
"Sumpah, emang dapet banget deh acting kamu. Aku yakin siapapun pasti ngira kalo kamu penculik beneran."
Puji Arin.
"Ngomong-ngomong, apa yang tadi kamu sampaikan didepan wartawan itu memang benar? Ehm, maaf Rin. Aku gak bermaksud ikut campur tapi.."
"Ya, itu memang benar Fan."
Jawab Ariana dengan tatapan kosong.
"Rin, kalau kamu butuh bantuan kamu bisa bilang ke aku. Apa yang bisa aku lakukan buat kamu?"
Tanya Irfan.
Ariana menggeleng perlahan.
"Aku udah sangat berterimakasih karena kamu membantuku dari kejaran wartawan tadi. Tapi kamu gak perlu membantuku lebih jauh dari ini Fan, aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri."
Jawab Arin.
"Kamu gak perlu sungkan Rin, aku, Bimo sama Hadi pasti akan selalu bantu kamu."
Ariana kembali menggeleng.
"Fan, aku gak mau merepotkan banyak orang. Aku tahu kalian berniat untuk membantuku. Tapi kalian gak perlu melakukan apapun."
Irfan menghela napas dalam.
"Aku benar-benar gak mengerti dengan jalan pikiran kamu Rin. Sampai kapan kamu akan memendam masalahmu sendiri seperti ini?"
Ariana menatap Irfan, kemudian tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku yakin, aku bisa mengatasi ini sendiri. Dan soal kejadian tadi, tolong jangan katakan apapun pada Bimo dan Hadi ya."
Irfan yang tak lagi bisa membujuk Arin akhirnya hanya mengangguk pasrah.