Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Lima Puluh


__ADS_3

"Abang kenapa, kok mukanya sedih gitu?"


Ardan baru saja kembali ke ruang pasien tempat kakeknya dirawat dengan wajah sendu.


Ardan hanya menggeleng, sambil berusaha untuk tersenyum.


"Kamu udah sholat ashar?"


Tanya Ardan pada Yoshie, istrinya.


Yoshie menggeleng perlahan.


"Aku lagi cuti Bang."


Jawab Yoshie.


Ardan menyandarkan tubuhnya di sofa.


Kini pikirannya tengah serabut, memikirkan kondisi keluarganya.


Meskipun dia tahu dia hanyalah anak yang di adopsi dari panti asuhan, namun tetap saja dia tak bisa mengabaikannya. dua puluh delapan tahun dia sudah hidup bersama keluarga ini, sebagai putra dan cucu sulung.


"Abang yakin gak mau cerita sama Ochie?"


Ardan menatap istrinya sekilas, kemudian kembali menggeleng.


"Ardan.. Ardan.."


Tiba-tiba Kakek yang baru saja terbangun memanggil Ardan.


"Iya kek.."


Ardan beringsut mendekati ranjang pasien, kemudian menggenggam tangan kakeknya.


"Ada apa Kek, apa Kakek butuh sesuatu?"


Tanya Ardan.


"Dokter Rangga.. Tolong panggil dia kesini."


Ardan mengernyitkan kening.


"Dokter Rangga? Kenapa Kek, apa kakek ada ngerasa sakit atau keluhan?"


Tanya Ardan yang tampak mulai cemas.


Kakek menggeleng sambil tersenyum.


"Kakek hanya ingin bicara dengan Dokter Rangga, man to man talk. Cepat, tolong panggilkan dia kesini."


"Iya Kek, Ardan cari Dokter Rangga dulu ya. Yoshie, abang titip Kakek ya.."


Kemudian Ardan pergi mencari Rangga ke ruangannya, namun tak ada orang disana. Hanya ada jas putih yang tersampir di kursinya.


"Sepertinya Dokter Rangga sedang tidak disini.."


Gumam Ardan.

__ADS_1


Kemudian Ardan pergi ke bagian administrasi, untuk meminta kontak Rangga dan tanpa sengaja berpapasan dengan Dokter Bayu, Papa Rangga.


"Ada apa, sepertinya kamu terlihat sedikit panik?"


Tanya Dokter Bayu.


"Gak ada apa-apa kok Dok. Saya hanya sedang mencari Dokter Rangga, apakah dia gak ada dinas hari ini?"


Tanya Ardan.


"Rangga memang sedang tidak berdinas, dia masih cuti panjang sampai kuliahnya selesai."


Jawab Dokter Bayu.


"Ah, iy Dokter benar. Saya baru ingat Dokter Rangga pernah mengatakannya."


Jawab Ardan.


"Apakah ada hal yang mendesak sampai ka.u mencari Dokter Rangga?"


Tanya Dokter Bayu.


"Ehm, begini Dok.. Sebenarnya Kakek saya yang ingin bertemu dengan Dokter Rangga. Kakek bilang ada yang mau dibicarakan, sepertinya itu hal yang penting."


"Tunggu sebentar."


Kemudian Dokter Bayu merogoh ponsel di sakunya, dan menghubungi seseorang.


"Dokter Rangga, segera ke rumah sakit sekarang juga. Penting."


Setelah berbicara di telepon, Dokter Bayu kembali mengantongi ponselnya.


Ucap Ardan sambil menjabat tangan Dokter Bayu.


"Sama-sama. Kalau begitu saya tinggal dulu ya."


Kemudian Dokter Bayu meninggalkan ardan yang juga bergegas kembali ke ruang pasien.


 


"Rangga, Apa kamu memang benar-benar serius ingin menikahi cucuku? Maaf kalau Kakek tiba-tiba menanyakan ini. Kakek hanya ingin memastikan bahwa Arin sudah bersama dengan orang yang tepat."


Sore itu Rangga berbicara empat mata dengan Kakek Jailani, setelah sebelumnya Kakek meminta Ardan dan Yoshie untuk keluar.


Rangga meraih tangan Kakek Jailani.


"Insyaa Allah saya memang benar-benar serius dengan niat saya Kek. Tapi saya sadar, mungkin Arin masih perlu waktu untuk berpikir. Saya tidak ingin memaksa, saya sudah menunggunya selama bertahun-tahun. Saya tidak keberatan untuk menunggu lebih lama lagi. Saya tahu, saya harus meyakinkan Arin juga."


Jawab Rangga.


"Rangga, Kakek sangat ingin melihat kalian menikah. Bisakah kamu kabulkan permintaan Kakek?"


Rangga tertegun.


"Rangga.. Kakek titip Arin ya. Tolong jaga dia. Kakek yakin kamu bisa menjaga dia dengan baik."


"Insyaa Allah Kek, kita akan sama-sama menjaga Arin. Karena itu, Kakek harus lekas sembuh. Saya juga akan berusaha lebih keras untuk meyakinkan cucu Kakek. Tapi Kakek juga harus bantu saya ya, bantu saya meyakinkan Arin."

__ADS_1


Kakek mengangguk perlahan sambil tersenyum.


 


"Rangga, maaf ya. Jadi merepotkan kamu untuk datang kesini. Apa terjadi sesuatu pada Kakek?"


Tanya Ardan sesaat setelah Rangga keluar.


"Kakek hanya ingin bicara Mas, ya mungkin dia mencemaskan Arin juga."


Jawab Rangga.


Ardan menghela napas dalam.


"Sejak kemarin dia belum juga kembali. Ku dengar dari Rere, katanya kamu yang nganterin Arin kesana?"


Rangga mengangguk.


"Kemarin malam aku melihatnya pergi dari rumah sakit seperti sedang terburu-buru. Karena penasaran, aku mengikutinya."


"Ya, Aku tahu. Dia pasti sangat syok setelah mendengar cerita Ayah tentang dirinya."


Ucap Ardan.


"Lalu, bagaimana rencana selanjutnya Mas? Kalau memang orangtua Arin sampai membawa kasus ini ke jalur hukum, aku ragu kita bisa mempertahankan Arin."


Ardan menghela napas kembali.


"Entahlah, aku juga bingung. Mungkin memang sudah gak ada cara lain. Mau tak mau, Arin harus kembali pada orangtuanya. Tapi justru itu yang aku takutkan."


"Kenapa Mas?"


Tanya Rangga.


"Ayah kandung Arin, dia bukan orang sembarangan. Aku ragu dia menginginkan Arin hanya karena Arin adalah putri kandungnya. Entahlah, aku merasa pria itu bukan orang yang baik."


"Apakah pria itu Fakhrul Razi?"


Ardan tampak terkejut dan membulatkan mata.


"Bagaimana kamu tahu?"


Tanya Ardan.


"Berita tentang mereka sedang hangat-hangatnya dibicarakan di media. Bahkan Fakhrul sendiri telah terang-terangan mengakui bahwa mereka sudah menikah secara siri dan memiliki seorang putri."


Ardan tertegun. Dia sendiri tak begitu peduli dengan berita di media dan memang beberapa hari belakangan ini mereka hanya fokus dengan kondisi kakek yang masih dirawat di rumah sakit.


"Ada satu cara, agar kita bisa mempertahankan Arin. Sebenarnya sejak kejadian hari itu saat Arin akan dibawa paksa dan aku tahu siapa pelakunya, aku sudah memikirkan ini. Aku akan menikahi Arin secara sah secepatnya, dengan begitu tanggung jawab atas diri Arin akan beralih kepadaku. Bahkan ayah dan ibunya pun tidak akan bisa menuntut. Itupun kalau kalian semua setuju."


Ardan terbelalak mendengar ide gila Rangga.


"Rangga, aku tahu kamu mencintai Arin dan kamu berniat untuk membantu keluarga kami. Tapi membicarakan pernikahan dalam situasi ini, entahlah. Aku tidak yakin Arin akan menyetujuinya. Lalu bagaimana dengan keluarga kamu? Apakah kamu sudah bicara dengan orangtuamu?"


"Mas Ardan, aku tahu ini gila. Tapi hanya ini satu-satunya cara. Aku minta maaf sebelumnya, aku tidak berniat untuk memanfaatkan situasi ini untuk kepentinganku. Tapi sekarang kita punya tujuan yang sama kan, untuk melindungi Arin. Dan untuk melakukan itu setidaknya kita harus punya posisi dan kedudukan yang sama dengan orangtua kandungnya, dengan begitu kita punya kesempatan besar untuk tetap mempertahankan Arin bersama kita."


"Aku rasa kamu benar, Rangga. Baiklah, behini saja. Aku akan membicarakan hal ini dengan Ayah dan Arin. Kamu bicaralah pada kedua orangtuamu. Aku tidak ingin nantinya akan timbul masalah lainnya."

__ADS_1


"Baik Mas, aku akan membicarakan ini dengan kedua orangtuaku. Tapi aku rasa mereka juga akan menyetujuinya."


Jawab Rangga sambil mengangguk mantap.


__ADS_2