
Keesokan paginya, tanpa di duga Wulan menyambangi kediaman mantan mertuanya, kakek dan nenek Arin. Pagi itu Arin sedang bersiap berangkat ke kampus untuk mengadakan gladi resik menjelang wisuda yang akan digelar besok.
"Ibu.."
Ardan terkejut melihat kedatangan Ibunya yang sangat mendadak, begitu juga dengan kakek dan nenek. Namun Arin tampak lebih santai, karena sebelumnya memang dia sudah mengetahuinya.
"Wulan, ayo masuk dulu kita sarapan sama-sama. Hari ini kebetulan Ibu masak banyak."
Nenek menyapa Ibu Arin dengan rasa canggung.
"Gak perlu bu, aku kesini cuma mau jemput Arin."
Jawab Wulan dengan wajah datar.
"Ibu kan udah lama gak mampir, ayolah bu masuk dulu sebentar. Sekalian aku mau kenalin istriku."
Bujuk Ardan.
"Dengar, aku tidak punya waktu untuk berbasa basi dengan kalian. Arin, segera bereskan barang-barang kamu sekarang. Ibu tunggu kamu di mobil."
Wulan berbalik dan berjalan dengan angkuh kembali ke mobilnya.
Ardan yang sangat kecewa dengan sikap Ibunya, tampaknya kali ini sudah tak lagi bisa menahannya. Ardan bergegas kemudian menyusul ibunya.
"Bu, kenapa sih Ibu harus setega itu. Ardan sadar selama ini Ibu memang gak pernah sayang sama Ardan, tapi setidaknya tolong bersikap bijaklah sedikit. Apa salahnya jika hanya sekedar menyapa dan verkenalan dengan istri Ardan?"
Wulan menatap jengah pada pemuda yang kini berdiri di hadapannya.
"Jangan melampaui batasanmu Ardan. Dan mulai sekarang berhentilah memanggilku Ibu, karena kamu bukan anakku."
Ardan terhenyak, bahkan Arin dan Yoshie yang tanpa sengaja mendengar ucapan Wulan juga tampak sangat syok.
"Bu, apa maksud ibu? Kenapa Ibu bilang kalau Abang bukan anak Ibu?"
Wulan menghela napas dalam.
"Arin, Ibu gak punya banyak waktu. Cepat bereskan barang-barangmu sekarang juga dan ikut dengan ibu."
"Gak.. Arin gak akan pergi kemanapun sebelum Ibu jelaskan semuanya."
Tegas Arin.
"Jadi kamu ingin tahu kebenarannya? Baiklah, akan Ibu beritahu. Ardan hanyalah anak pungut. Apa itu audah cukup jelas? Sekarang kemasi semua barang-barang kamu dan kita pergi dari sini."
Arin dan Ardan terhenyak. Ardan menghampiri Yoshie, kemudian menarik tangannya dan membawanya masuk ke rumah tanpa berkata apapun.
Kini hanya tersisa Wulan dan Arin yang masih mematung, tampak sangat syok dengan kata-kata Ibunya.
"Arin, cepatlah. Ibu tak punya banyak waktu."
Arin menggeleng, dengan wajah nanar dan tatapan yang tampak marah.
"Arin gak akan pernah ikut Ibu. Terserah jika Ibu ingin pergi, Arin akan tinggal disini bersama Ayah dan Bang Ardan."
Jawab Arin.
__ADS_1
Wulan keluar dari mobil, kemudian menghampiri putrinya.
"Mereka bahkan bukan keluargamu, Arin. Dia bukan ayah kandungmu."
"Apa maksud Ibu? Apakah aku juga anak pungut, seperti Abang? Baguslah, kalau begitu ada dua anak pungut di rumah ini."
Jawab Arin dengan nada sarkas.
"Arin, jangan menguji kesabaran Ibu. Segera kemasi barang kamu sekarang, atau Ibu akan menggunakan cara paksa untuk membawa kamu pergi dari rumah ini."
"Arin gak akan pergi kemanapun. Kamu dengar itu?"
Kali ini kakek yang berbicara. Kakek baru saja keluar, menghampiri Arin dan Wulan."
"Kamu mau menggunakan cara paksa? Silahkan. Tapi kami juga berhak terhadap Arin."
Ucap kakek.
"Berhak?"
Wulan memandang dengan jengah.
"Dia bahkan bukan putri kandung Malik. Dia adalah putriku tapi bukan darah daging Malik."
Tegas Wulan.
"Apa.. Apa maksudmu?"
Mendadak kakek memegang dada kirinya, napasnya tersengal.
"Kakek kenapa Kek.. Kakek.."
"Abang.. Kak Yosh.. Tolong, cepatlah kesini!"
Arin berteriak memanggil Ardan dan Yoshie juga neneknya yang langsung berlari keluar.
Wulan yang menyaksikan hal itu langsung kembali ke mobilnya dan pergi begitu saja.
Semua orang tampak sangat panik.
Ardan bergegas mengeluarkan mobil dari garasi, kemudian mereka memapah Kakek ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
"Rangga, kamu yakin gak akan pulang liburan ini? Lagipula tak ada yang kamu lakukan disana selama liburan kan.."
Saat itu Bu Riana sedang berada di koridor rumah sakit dan berbicara melalui video call dengan Rangga, putra semata wayangnya.
"Yakin Ma.. Kan Rangga udah jelasin ke mama, liburan kali ini rencananya Rangga sama teman-teman mau ikut kegiatan sukarelawan di salah satu rumah sakit disini. Ya hitung-hitung sambil nambah pengalaman.."
Jawab Rangga.
Saat mereka tengah asyik mengobrol, beberapa orang perawat dan keluarga pasien berlari di koridor sambil membawa brankar pasien.
Dan tanpa sengaja Rangga melihat sesosok gadis yang sangat dia kenal.
__ADS_1
"Arin..?"
Rangga mengerutkan kening.
"Rangga, ada apa?"
Tanya Bu Riana yang tampaknya menyadari ekspresi Rangga.
"Gak, gak ada apa-apa kok Ma. Oh iya, Rangga baru ingat kalau Rangga masih ada beberapa urusan. Rangga tutup dulu ya Ma. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
"Gimana kondisi kakek saya Dok?"
Ardan tampak sangat cemas.
"Mohon bersabar dulu ya Pak, kami sedang melakukan pemeriksaan lanjutan. Tapi menurut laporan dari rumah sakit sebelumnya, Pak Jailani mengalami serangan jantung mendadak. Kami belum bisa menyimpulkan sebelum melihat hasil pemeriksaan yang lebih spesifik."
"Sebelum di rujuk kesini memang Dokter juga mengatakan hal yang sama Dok. Tapi, selama ini sejauh yang saya tahu Kakek tidak pernah mengalami serangan jantung seperti ini, terlebih karena kakek selalu menjalani pola hidup sehat."
Ucap Arin.
"Adik saya benar Dok, ini pertama kalinya Kakek me!ngalami ini."
Timpal Ardan.
"Serangan jantung bisa terjadi pada siapa saja, meskipun sudah menjalani pola hidup sehat. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan serangan jantung seperti olahraga yang terlalu keras, jarang melakukan pemeriksaan kesehatan dan faktor genetik atau keturunan juga bisa mempengaruhi."
Jawab Dokter tersebut.
"Tapi, apakah itu berbahaya Dok?"
Tanya Arin dengan wajah cemasnya.
"Kita berharap semoga saja ini hanya serangan jantung biasa dan bukan gejala penyakit yang serius. Terkadang syok atau perubahan emosi mendadak yang sangat signifikan juga bisa menjadi pemicu serangan jantung."
"Dokter, tolong selamatkan kakek.."
Arin mulai tak bisa mengontrol emosinya dan menangis.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi, kami tidak bisa memberikan jaminan. Karena kami hanyalah perantara, Allah yang berkehendak memberi kesembuhan pada kakek Anda. Kita doakan saja, semoga pak Jailani segera sembuh."
Ardan dan Arin keluar dari ruangan Dokter Indra dengan wajah kusut. Bahkan mereka tak bisa berkata apapun lagi, sedangkan nenek hanya menangis di salah satu bangku ruang tunggu ditemani Yoshie.
"Arin, Abang mau kabari Ayah dulu ya."
Kemudian Ardan berbalik dan menjauhi keluarganya, untuk menghubungi Ayahnya.
"Serangan jantung? Tapi, bagaimana bisa?"
Pak Malik yang baru saja mendapatkan kabar tentang Ayahnya terdengar sangat syok.
"Ceritanya panjang Ayah. Sekarang kami di salah satu rumah sakit di kota Medan setelah dirujuk dari rumah sakit sebelumnya. Aku akan share lokasinya ke Ayah."
__ADS_1
"Kalian tetap disana, ayah akan segera kesana."
Setelah mendapat kabar tentang Ayahnya, Pak Malik bergegas pergi bahkan saking kalutnya dia lupa berpesan pada karyawan di bengkelnya.