
"Dokter Rangga? Jadi, Dokter benar-benar Rangga Aditya yang dulu pernah menolongku?"
Arin tampak tak yakin meskipun dia sudah menduga sebelumnya.
"Ya, apa kamu ingat sekarang?"
Jawab Rangga dengan tatapan penuh harap.
"Masya Allah.. Pantesan aja kok aku ngerasa kayaknya wajah Dokter gak asing, kayak pernah ketemu sebelumnya."
Arin tampak sumringah.
"Arin, kamu kenal dengan Dokter Rangga?"
Ardan tampak semakin bingung.
"Ini loh bang yang dulu pernah nolongin Arin waktu motor Arin mogok di jalan. Kejadiannya beberapa tahun lalu yang Arin sempat cerita ke Abang kalo KTP nya ketinggalan di Arin."
Arin menjelaskan pada Ardan.
Siapa pria ini? Kenapa sepertinya Arin sangat dekat dengannya? Apa jangan-jangan.. Ah, apa yang kupikirkan. Kalaupun memang pria ini adalah pasangannya, toh itu juga bukan urusanku.
Batin Rangga.
"Oh, iya Abang ingat sekarang. Dokter Rangga, terimakasih sekali lagi karena Dokter sudah menolong keluargaku dua kali."
Ucap Ardan.
"Sama-sama Bang. Lagipula sesama manusia kan memang seharusnya saling tolong menolong."
Jawab Rangga dengan canggung.
Baiklah, keluarga. Ternyata mereka sudah menikah..
"Ngomong-ngomong, beberapa tahun lalu aku juga pernah ke rumah sakit ini untuk menjenguk orangtua temanku, sepertinya aku juga melihat Dokter Rangga disini."
"Ya, bahkan kamu yang menemukan kunci motorku dan memberikannya pada satpam, dan aku juga harus berterimakasih untuk itu kan."
Balas Rangga.
"Aku bahkan gak tahu kalau itu punya Dokter, karena waktu itu aku sedang buru-buru makanya aku titipin di satpam."
Jawab Arin.
"Ya, satpam itu juga bilang kalau yang menemukannya adalah seorang gadis manis yang baik hati."
Seloroh Rangga.
"Aku gak menyangka kalau ternyata orang yang menolongku waktu itu adalah seorang Dokter, aku justru sempat negatif thinking dan mengira Dokter Rangga punya niat buruk terhadapku."
Ucap Arin sambil tertawa.
__ADS_1
"Waspada itu memang perlu Rin, apalagi saat itu memang situasinya cukup berbahaya untuk seorang gadis mendorong motor sendirian di jalan sepi."
Jawab Rangga.
"Wah, jadi nostalgia nih ceritanya.."
Sambung Ardan yang sejak tadi hanya menjadi pendengar budiman.
Arin dan Rangga tersenyum sumringah.
"Sekali lagi terimakasih banyak Dok, karena sudah banyak membantu."
Ucap Ardan.
"Cukup panggil Rangga saja, sebenarnya aku tidak sedang dalam masa tugas. Aku sedang cuti panjang untuk melanjutkan study dan baru saja tiba dari Amerika ketika Dokter Indra menemuiku."
"Belajar jauh sampai ke Amerika? Itu bagus, karena masyarakat pasti sangat membutuhkan tenaga medis yang sangat handal seperti Dokter Rangga."
Puji Ardan.
"Kalau udah jadi Dokter, kenapa masih melanjutkan Study?"
Tanya Arin.
Rangga tertegun. Dia tak mungkin mengatakan dengan jujur jika salah satu alasan dia pergi ke Amerika untuk melupakan gadis yang kini ada di hadapannya. Dan tentu saja, juga karena dia merasa sangat perlu untuk memperdalam ilmunya.
"Dek, menjadi Dokter itu gak gampang loh. Pintar saja tidak cukup, kita juga harus punya ilmu dan pengalaman yang memadai. Benar kan Dok.."
Rangga tersenyum sambil mengangguk setuju.
"Permisi Dok, Dokter Rangga ditunggu Dokter Bayu di ruangannya."
Seorang perawat memanggil Rangga.
"Oh, Baik Sus. Saya segera kesana."
Balas Rangga.
"Baiklah Arin, dan.."
"Ardan Dok, nama saya Ardan. Abangnya Arin."
Ardan memperkenalkan dirinya pada Rangga.
Jadi, pria ini adalah Abangnya Arin dan bukan suaminya? Astaga.. Bisa-bisanya aku sampai salah menduga..
Batin Rangga.
"Ya, Mas Ardan. Jadi untuk beberapa hari Kakek Jailani akan dirawat inap, minimal sampai luka jahitannya kering. Kami juga masih harus melihat perkembangan Kakek. Dan karena saat ini saya sendiri sebenarnya masih dalam masa cuti, mungkin untuk selanjutnya kakek Jailani akan ditangani oleh Dokter Ilham dan Dokter Indra."
"Baik Dok, kalau begitu kami permisi dulu. Ayo Dek.. Assalamualaikum Dok."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Balas Rangga sambil tersenyum.
Arin.. Masih adakah kesempatan untukku mengenalmu lebih jauh? Bahkan jika bisa, aku ingin menjadikanmu pendamping hidupku. Ya Allah.. Apakah keinginanku ini berlebihan? Bolehkah hamba meminta dia untuk menjadi jodoh hamba?
Rangga masih terdiam menatap pintu yang baru saja tertutup. Sangat sulit dipercaya jika gadis yang selama ini dia cintai baru saja duduk di hadapannya. Dan yang membuatnya merasa lega, karena ternyata Arin masih mengingatnya.
Rangga membuka jas putihnya, kemudian bergegas menemui Dokter Bayu, papanya.
"Angin apa yang membuat anak muda ini pulang? Kemarin mama bilang kamu gak akan pulang liburan kali ini karena banyak kegiatan disana?"
Dokter Bayu menyambut putranya yang baru saja tiba.
"Ehm, ya memang awalnya Rangga gak berniat untuk pulang sih Pa. Tapi, ada hal yang penting. Rangga harus menemui seseorang."
Jawabnya.
"Jadi, siapa kira-kira orang penting yang sangat ingin kamu temui sampai kamu bela-belain pulang dari Amerika? Apa dia pacarmu?"
Rangga hanya tersenyum simpul.
"Tapi syukurlah kamu pulang disaat yang tepat, karena kepulanganmu yang mendadak justru telah menyelamatkan nyawa satu pasien."
"Iya Pa, dan kebetulan pasien itu adalah keluarga dari teman Rangga."
Jawabnya dengan canggung.
"Baiklah, Papa mengerti sekarang. Jadi karena dia kah kamu mendadak kembali dari Amerika bahkan tanpa memberitahu Papa dan Mama?"
"Gak, bukan itu maksud Rangga Pa.."
Rangga terlihat mulai gelagapan.
"Rangga, Kamu itu anak Papa. Dan Papa yang paling mengerti sikap kamu. Sekarang kamu terlihat salah tingkah, itu artinya memang ada sesuatu antara kamu dengan cucu dari pasien itu. Apa dugaan Papa benar?"
Rangga menghela napas dalam. Dia tahu, tak ada gunanya menyimpan rahasia dari Papa. Bahkan jika didunia ini hanya boleh memilih satu orang yang paling bisa di percaya, Rangga akan memilih Papanya sendiri.
Meski dia jarang berbagi rahasia dengan papanya, tapi dia tahu bahwa papanya adalah orang yang sangat amanah terutama dalam menyimpan rahasia.
Dan entah dengan cara apa, Papanya selalu mengerti apa yang dia pikirkan.
Akhirnya, Rangga menceritakan semua pada papanya. Mulai dari pertemuannya dengan Arin, bagaimana perasaannya terhadap gadis itu hingga akhirnya kini takdir mempertemukan mereka kembali.
"Hei Bung, Papa tidak pernah mendidikmu menjadi seorang pengecut dan pecundang. Kalau kamu mencintai gadis itu, katakan dengan berani. Temui keluarganya, sampaikan niat baikmu. Diammu tidak akan menyelesaikan apapun. Setidaknya, gadis itu tahu kamu mencintainya."
Rangga tampak sangat terkejut dengan reaksi Papanya. Awalnya dia mengira Papa akan meledek atau bahkan mencibirnya seperti yang biasa Papa lakukan. Tapi ternyata kali ini pengecualian, Dokter Bayu seolah mengerti apa yang dialami putranya.
"Rangga, dengar. Dulu Papa juga berjuang mati-matian demi mama kamu. Bahkan Papa rela hemat-hematin uang jajan demi bisa berkomunikasi dengan mama kamu meski hanya beberapa menit. Jaman Papa muda dulu jangankan internet dan sosmed, bahkan untuk berbicara dengan orang yang jauh pun harus melalui warung telepon dan biayanya sangat mahal. Tapi berkat kegigihan usaha Papa yang bahkan sanggup menempuh perjalanan dari Jogja ke Medan dengan naik bus lintas, akhirnya mama kamu luluh juga."
Dokter Bayu mengakhiri ceritanya sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1