
Pukul sembilan pagi, Arin bersiap untuk pergi. Salah seorang pelayan hotel beberapa saat yang lalu sudah mengantarkan beberapa barang yang dia butuhkan.
Arin sudah berjanji akan menemui Donny di Ancol pagi itu. Tentu saja, untuk menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan.
Setelah berganti baju dan sarapan di caffetaria hotel, Arin bergegas pergi dengan menggunakan jasa ojek online yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan.
Pukul sebelas siang, akhirnya Arin tiba di Ancol dan bertemu dengan Donny yang sudah tiba lebih awal.
"Arin, kenapa kamu gak mau abang jemput? Toh abang juga melewati daerah rumah Arin kan, kita bisa pergi bareng tadi."
Ucap Donny.
Wajahnya tampak cemas, entah sudah berapa lama mereka seolah menjauh. Donny merasa Arin berubah, seperti sedang sengaja menghindarinya belakangan ini.
"Abang, ayo kita naik wahana. Ingat gak, dulu kita pengen banget naik roller coaster tapi petugasnya gak mengizinkan karena Arin kurang tinggi."
"Itu kan Arin yang pengen, sampe nangis segala karena gak boleh masuk sama petugasnya. Susah tau abang sama Ardan bujukin Arin waktu itu."
jawab Donny.
Mereka kembali ke masa beberapa tahun silam. Saat itu Arin yang masih berusia tujuh tahun tampak sangat antusias untuk mencoba wahana roller coaster. Dia menarik tangan Ardan dan Donny untuk mengikutinya.
Baru saja merasa bahagia karena akan mencoba wahana ekstrem, namun harapan Arin harus pupus karena tinggi badannya tidak mencapai syarat minimum untuk bisa menaiki wahana menantang itu.
Arin menangis sejadinya, membuat Ardan dan Donny kebingungan untuk membujuk agar dia berhenti menangis. Bahkan pengasuh Donny yang saat itu menemani mereka bermain di Ancol ikut membujuk Arin tapi tidak berhasil.
"Arin, nanti kalau Arin udah jadi lebih tinggi abang janji akan bawa Arin untuk naik wahana ini sebanyak yang Arin mau."
Ucap Donny saat itu.
"Abang janji?"
Arin menatap Donny penuh harap.
"Iya, abang janji. Beberapa tahun lagi setelah Arin lebih tinggi abang akan bawa Arin untuk naik wahana apapun yang Arin mau sepuasnya."
Balas Donny dengan mantap.
"Oke, Arin pegang janji abang. Kalau nanti Arin udah lebih tinggi Arin pasti akan tagih janji abang."
Dan akhirnya Arin kecil berhenti menangis.
"Karena dulu abang udah janji, hari ini abang akan menepatinya. Arin boleh menaiki wahana apapun yang Arin mau, sepuasnya. Abang akan temani Arin."
Ucap Donny.
"Kalo gitu ayo, Arin udah gak sabar ingin mencoba roller coaster."
Ucap Arin dengan antusias.
__ADS_1
-----
Entah sudah berapa wahana ekstrem yang mereka coba, dan Arin pun sudah puas berteriak mengeluarkan semua sesak yang tersimpan di dada.
Benar kata orang, berteriak adalah salah satu cara yang ampuh untuk melegakan perasaan.
"Abang lapar gak? Ayo kita makan, kali ini Arin mau makan di tempat favorit Arin dulu. Abang masih ingat kan?"
"Siap tuan putri, hari ini abang akan ikuti apapun yang Arin minta."
Ucap Donny sesumbar
"Abang janji?"
Pinta Arin.
"Iya, abang janji.."
Jawab Donny.
"Oke, karena abang udah janji pokoknya apapun yang Arin minta hari ini abang harus kabulkan ya.."
Ucap Arin.
Donny melirik jam tangannya.
"Batas waktunya hanya sampai jam dua belas malam. Sebelum jam dua belas malam ini, abang akan menjadi tuan jin yang siap untuk memberikan apapun yang Arin minta. Asalkan Arin gak minta hal diluar nalar. Karena abang bukan jin sungguhan."
"Baiklah tuan jin, sekarang Arin ingin makan di Mekdi. Bisakah tuan jin membawa Arin kesana?"
Pinta Arin dengan gaya manja.
"Tentu, dengan senang hati tuan putri. Tapi kita gak naik permadani, karena permadani tuan jin masih di laundry."
Jawab Donny mengikuti drama Arin.
"Ayo."
Ucap Arin antusias.
Setelah makan siang di Mekdi, kali ini Arin meminta Donny membawanya ke mall. Dulu mereka sering ke mall, bukan untuk berbelanja tentunya. Tapi untuk bermain beberapa permainan yang sering mereka mainkan di Timezone.
Puas bermain di Timezone, kali ini Arin meminta Donny membawanya ke salah satu gerai ice cream favoritnya dulu. Mereka benar-benar seperti sedang napak tilas, kembali mengulang hal yang dulu sering mereka lakukan. Arin tampak sangat bahagia, untuk sesaat dia seolah melupakan semua beban yang ada di hati dan pikirannya.
Waktu terus berjalan, siang berganti dan malam mulai menghampiri.
"Arin, boleh abang bawa Arin ke suatu tempat?"
Tanya Donny saat mereka sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Kemana?"
Tanya Arin.
"Ke satu tempat, yang dulu paling sering kita kunjungi. Abang punya kejutan untuk Arin."
"Kejutan?"
Arin tampak penasaran.
"Yup, nanti Arin akan lihat."
Akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal mereka dulu, sebelum ibu Arin memutuskan untuk pindah.
"Udah lama banget ya bang, banyak yang berubah di taman ini."
Ucap Arin yang tampak takjub.
Taman kecil itu dihiasi lampu kelap-kelip, membuat suasana tampak romantis. Dan yang tak terduga, Donny juga mendekorasi bangku taman yang dulu menjadi tempat duduk favorit Arin saat mereka bermain drama dan Arin menjadi ratunya.
"Bahkan abang ingat hal sekecil ini?"
Arin tampak takjub.
"Abang selalu ingat apapun tentang Arin, apa yang Arin suka, apa yang Arin tak suka, semuanya."
Jawab Donny.
Melihat semua yang telah Donny lakukan untuknya, Arin merasa sangat bersalah. Donny adalah lelaki yang sangat baik, dan tentu saja Arin mencintainya.
Tapi Arin sadar, bahwa dia tak layak untuk pria sebaik Donny.
Tiba-tiba Donny berjongkok didepan Arin, sambil menyodorkan sebuah kotak cincin.
"Tuan putri, menikahlah denganku. Aku bersedia menjadi ksatria yang akan melindungimu seumur hidupku, mencintai kamu dan menjadikan kamu ratu paling bahagia."
Arin sangat terkejut, bahkan sampai kehilangan kata. Hatinya terasa teriris, sakit, sesak, itulah yang dia rasakan sekarang.
Dilamar oleh pria yang dicintai, tentu adalah momen yang paling membahagiakan untuk seorang wanita.
Tapi tidak dengan Arin. Bahkan meskipun dia sangat ingin, tak mungkin baginya untuk menerima lamaran dari Donny.
Dia sudah berjanji pada tante Retno, dia akan melepaskan Donny. Dia akan mundur. Tapi sekarang, bagaimana dia akan melakukannya?
"Arin, kali ini abang benar-benar serius. Abang tidak sedang bermain drama seperti yang dulu sering kita lakukan. Abang benar-benar ingin menikahi Arin, abang ingin Arin menjadi pendamping hidup abang, menjadi ibu dari anak-anak kita nanti. Arin tahu kan, selama ini abang menyayangi Arin, sejak dulu. Abang bukan pria sempurna, tapi abang akan berusaha untuk membuat Arin bahagia. Kita akan menciptakan momen indah, dan akan selalu begitu sampai kita menua bersama. Ariana Dahlia, apakah Arin bersedia menghabiskan sisa hidup untuk bahagia bersama abang?"
Wajah Donny tampak penuh harap.
Arin tertegun, airmatanya tak lagi bisa dia bendung.
__ADS_1
Bukan airmata terharu atau bahagia, melainkan airmata yang hadir dari ketidak berdayaan dan rasa bersalahnya.