Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Empat Puluh Delapan


__ADS_3

"Jadi gadis itu anaknya Wulan Ayu, teman mama kamu?"


Dokter Bayu menatap putranya tajam.


"Itu yang ayahnya katakan Pa. Rangga benar-benar gak menyangka kalau selama ini Arin menjalani hidup yang sangat rumit. Dan soal statusnya, Rangga sendiri sejujurnya gak mempermasalahkan. Bagaimanapun latar belakangnya, toh itu bukan kesalahan Arin."


Jawab Rangga.


Malam itu Rangga menceritakan semuanya pada Dokter Bayu, Papanya.


Dokter Bayu menghela napas dalam.


"Rangga, Papa harap kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Sebaiknya bersikaplah dengan bijak. Kamu tahu ibunya adalah seorang yang dikenal masyarakat, ditambah lagi dengan latar belakang kehidupannya. Apa kamu siap menghadapi ini? Karena nantinya bukan hanya kamu, tapi Papa dan Mama juga akan menjadi sorotan."


"Rangga mengerti Pa. Tapi Rangga benar-benar yakin dengan pilihan Rangga. Rangga harap Papa dan Mama juga mengerti dengan pilihan Rangga."


"Sebaiknya kamu bicarakan ini dengan mama kamu. Kamu tahu kan, topik tentang kamu dan gadis itu sedang hangat-hangatnya dibicarakan di rumah sakit. Kalau sampai Mama kamu mendengarnya dari orang lain terlebih lagi jika dia tahu latar belakang gadis itu, Papa takut nantinya Mama kamu akan salah paham."


Saran Dokter Bayu.


"Iya Pa, tapi Rangga belum siap untuk mengatakannya pada Mama. Bagaimana jika Mama justru tidak merestuinya? Rangga takut Mama justru menentang keinginan Rangga kali ini."


"Rangga, Papa yakin Mama kamu bisa menyikapinya dengan bijak. Papa akan membantu kamu bicara dengan Mama."


"Makasih Pa."


Jawab Rangga.


"Kamu tidak pulang?"


Tanya Dokter Bayu saat melihat Rangga menggunakan jas putihnya.


"Dokter Nisa sedang tidak sehat Pa, jadi Rangga pikir sebaiknya Rangga tetap disini membantu Dokter Nisa."


Jawab Rangga berbohong.


"Baiklah, kalau begitu Papa akan pulang sekarang. Kalau kamu sudah merasa siap, bicaralah dengan mama kamu secepatnya."


Dokter Bayu keluar dari ruangan Rangga.


Ini pertama kalinya Rangga sangat kekeuh terhadap keinginannya. Semoga dia tidak membuat keputusan yang gegabah.


Batin Dokter Bayu.


 

__ADS_1


 


Sementara itu di tempat lain...


"Hanya menjemputnya saja kamu tidak bisa? Bukankah dia putrimu? Dengar, aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Bawa Arin kesini, atau akan aku hancurkan karir yang sudah kamu bangun susah payah!"


Seorang pria usia empat puluhan tampak sangat berang. Pria itu adalah Fakhrul, Ayah kandung Ariana.


"Aku sudah berusaha membawanya bahkan memaksanya, tapi dia menolak untuk ikut denganku."


Wanita dihadapannya sedang menangis menghiba.


"Dia menolakmu? Omong kosong apa ini? kamu pikir aku percaya? Bagaimana mungkin seorang anak menolak ibunya sendiri dan lebih memilih orang lain yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya?! Jangan menipuku lagi Wulan!"


Hardikan pria itu terdengar sangat lantang, hingga mengejutkan orang-orang di sekelilingnya.


"Aku berani bersumpah Fahrul, dia benar-benar menolakku dan lebih memilih tinggal bersama Malik dan keluarganya. Fahrul, tolong maafkan aku.."


"Kamu pikir bagaimana dia akan menerima anak dari mantan istri dengan selingkuhannya? Apa dia akan mencintai anakku seperti dia menyayangi putranya? Pikirkan dengan akal sehatmu! Kalau aku ada di posisi Malik aku pasti akan membalas dendam. Bahkan akan kubuat gadis itu menderita setiap saat agar dia juga merasakan rasa sakit yang aku rasakan. Apa kamu tidak memikirkan itu? Bagaimana kamu bisa dengan mudahnya menyerahkan dia kepada orang lain dan bukan kepadaku?! Aku adalah Ayahnya!!"


Kemarahan pria itu semakin meradang, membuat wulan semakin bergidik melihatnya.


"Sekarang juga kamu kembali ke Indonesia, dan bawa Arin pulang ke rumah ini. Aku tidak peduli bagaimanapun caranya. Jika kamu tidak bisa membawanya, aku akan benar-benar menghancurkan karirmu."


Pria itu berbalik, meninggalkan Wulan yang masih menangis tersedu.


 


Pak Malik menghampiri Arin yang sedang duduk di sofa menunggu Kakek yang sudah terlelap. Ardan sudah kembali sejak sore tadi bersama nenek dan istrinya, karena dia harus membantu Ayahnya mengurus bengkel. Selama Kakek dirawat, mereka bergantian untuk menjaga Kakek. Hanya Arin saja yang selalu disini, karena perasaan bersalahnya pada Kakek yang masih terbaring.


Arin keluar dari ruangan kakek, mengikuti Ayahnya ke salah satu bangku di koridor rumah sakit.


"Ada apa Yah?"


Tanya Arin setelah duduk disamping Ayahnya, hanya berjarak satu bangku kosong.


"Rin, Ardan sudah menceritakan semuanya pada Ayah, yang menyebabkan kakekmu terbaring disini."


Pak Malik membuka obrolan mereka.


Arin hanya mengangguk.


"Ayah yakin kamu mendengar sendiri dari Ibumu, tentang dirimu. Bahwa kamu bukanlah anak kandung Ayah."


Arin membulatkan mata, tampak sangat ingin tahu apa yang akan disampaikan Ayahnya.

__ADS_1


Pak Malik menghela napas dalam, sangat berat baginya untuk mengatakan kebenaran ini. Tapi dia tak ada pilihan, cepat atau lambat Arin harus tahu yang sebenarnya.


"Ibumu benar, Arin. Kamu bukan anak kandung Ayah."


Arin tampak sangat terkejut bahkan sampai mengatupkan tangan di wajahnya sambil menggeleng perlahan.


"Tadinya aku sangat berharap yang Ibu katakan tidak benar. Tapi kenapa Ayah.. Kenapa itu benar? Jadi siapa Arin sebenarnya?"


Arin mulai menangis.


"Ayah minta maaf, selama ini ayah merahasiakannya dari kamu. Karena ayah tidak ingin kamu terluka. Tapi ternyata Ayah salah, tidak seharusnya Ayah merahasiakannya dari kamu."


"Jadi gossip yang beredar tentang Ibu selama ini benar? Bahwa Ibu menjalin hubungan dengan pria lain selain Ayah? Dan Arin, adalah anak yang terlahir dari hubungan gelap antara Ibu dengan pengusaha kaya itu?"


Arin menatap Pak Malik dengan tatapan putus asa, namun seolah berharap semua itu bukanlah sebuah kebenaran.


Namun ternyata dia salah, Pak Malik justru mengangguk perlahan dan menundukkan kepala.


"Gak, Arin gak percaya. Ini pasti gak mungkin. Ayah tolong katakan, Arin putri Ayah kan? Bukankah selama ini itu yang selalu Ayah katakan, Arin adalah putri Ayah satu-satunya.."


Arin berlutut di kaki Ayahnya sambil menangis terisak.


"Arin.. Maafkan Ayah."


Arin bangkit dari posisinya, kemudian berlari meninggalkan ayahnya yang masih terpaku melihat kepergiannya.


--------------


"Arin, Apa yang terjadi dengannya?"


Rangga yang saat itu sedang berjalan di koridor rumah sakit tanpa sengaja melihat Arin yang sedang berlari menjauh.


Rangga tak tinggal diam, dia bergegas mengikuti Arin tanpa sepengetahuan gadis itu.


Arin berlari keluar dari rumah sakit, hingga saat dia merasa lelah dan akhirnya melambatkan langkah.


Kini dia sedang berjalan tanpa arah tujuan, dan sendirian.


Gadis itu berjalan gontai, bahkan dia tak sadar saat dia sedang melintasi jalan yang ramai kendaraan lalu lalang disekitarnya.


Tiba-tiba dari tikungan sebuah mobil melaju kencang ke arah Arin. Tampaknya mobil itu kehilangan keseimbangan, mungkin remnya blong.


Pengemudi sudah berusaha membunyikan klakson, namun Arin seolah tak mendengarnya atau bahkan mungkin tak peduli.


Mobil itu melaju semakin dekat dan hanya tinggal sekian detik, tiba-tiba tubuh Arin terlempar kesamping dan terjatuh berguling.

__ADS_1


Saat menyadarinya, Arin merasa menimpa tubuh seseorang, dan ternyata orang itu adalah Rangga!


__ADS_2