
Dua belas tahun lalu, taman ini tak jauh berbeda dengan sekarang. Bahkan nyaris tak ada perubahan. Yang berubah hanyalah waktu. Arin menatap taman itu dengan tatapan nanar. Harusnya, dia akan datang kesini dengan hati yang gembira, mengenang masa kecilnya bersama Ardan dan kedua orangtuanya.
Arin ingat persis, dulu dia sering bermain kejar-kejaran bersama Ardan dan ayahnya. Sedangkan ibunya akan mengabadikan momen bahagia itu dengan kamera yang dia bawa.
Ibu memang selalu mengabadikan setiap momen bahagia dengan kameranya. Ibu selalu bilang, suatu saat semua gambar itu akan mengingatkan saat kita terlupa bahwa hal-hal yang indah dalam hidup kita pernah terjadi.
Namun entah apa yang terjadi, delapan tahun lalu sebelum pergi ayahnya membakar semua gambar yang tersimpan rapi termasuk juga kamera milik ibu. Semuanya dibakar habis tak tersisa.
Arin menangis dan nyaris kalap, dia berusaha untuk memadamkan api yang sudah cukup besar namun ayahnya langsung menarik tangannya menjauh tanpa mengatakan apapun.
Masa kecil yang indah, dengan keluarga yang bahagia. Semuanya hanya tinggal kenangan yang tersimpan di ingatan Arin. Dia hanya bisa berharap tak akan melupakan satu momen pun.
"Arin, sudah petang. Ayo kita pulang. Nenekmu pasti sangat mencemaskan kamu."
Ucapan kakek membuat Ariana tersadar dari lamunannya. Entah sudah berapa lama dia berdiam, dia bahkan nyaris lupa ada kakek di sampingnya.
"Ehm, maaf kek. Arin akan pulang sebentar lagi. Kakek pulang duluan aja. Kalau nenek tanya, Arin masih akan duduk disini sebentar."
Jawab Ariana.
"Baiklah, kakek pulang dulu ya. Jangan terlalu lama berdiam. Arin, kamu harus tetap semangat. Kakek yakin, cepat atau lambat ayah kamu akan berubah."
Setelah mengusap kepala Ariana, kakek pergi meninggalkannya yang masih duduk di bangku taman.
---------
"Rangga, kebetulan kamu sudah pulang. Coba lihat ini, bagaimana menurut kamu?"
Mama menunjukkan beberapa kotak hantaran yang sudah di isi dengan berbagai macam.
"Bagus."
Jawab Rangga datar.
Hari ini dia merasa sangat lelah, setelah melakukan beberapa operasi besar. Otaknya tak lagi mampu mencerna apapun, dia hanya ingin segera merebahkan tubuhnya.
"Rangga, kamu lihat dulu dong. Kira-kira ada yang perlu di tambahin gak?"
Mama tampak antusias.
"Ma, Rangga capek. Rangga ke kamar dulu ya."
Rangga baru saja akan melangkah, namun mama menahannya.
"Tunggu dulu Rangga, ini kan untuk persiapan pernikahan kalian. Setidaknya kamu bantu mama dong.."
"Ma, dari awal Rangga udah bilang kan. Terserah mama, kalau mama bahagia lakukan apapun yang mama mau."
Rangga berjalan tergesa dan langsung masuk ke kamarnya.
"Apa mama masih belum sadar juga?"
Papa yang sejak tadi melihat kejadiannya mulai angkat bicara.
__ADS_1
"Pa, tolong dong percaya mama. Mama hanya ingin Rangga mendapatkan istri yang terbaik, itu saja."
"Terbaik untuk mama, tapi bukan untuk Rangga. Coba mama ingat-ingat lagi, selama ini apa mama pernah menanyakan apa yang Rangga mau? Apa yang Rangga inginkan?"
Bu Riana tertegun. Dia tak menduga jika suaminya akan mengatakan hal ini.
"Ma, untuk kali ini saja. Tolong tanyakan pada Rangga. Apa yang dia inginkan. Jangan sampai nantinya mama menyesal karena tanpa mama sadari mama telah bersikap egois. Aku ini papanya, aku juga ingin dia bahagia. Dia sudah dewasa, dan papa yakin dia yang lebih mengetahui apa yang bisa membuatnya bahagia."
------
Ariana berjalan dengan langkah gontai. Setelah merasa cukup tenang, akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat akan memasuki pekarangan, Ariana melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah kakek dan neneknya. Mobil milik ayahnya, tentu saja.
"Apa lagi yang ayah inginkan sekarang, apakah tak cukup semua amarah yang selama ini dia luapkan?"
Ariana berbalik, dan menjauh. Dia tak ingin bertemu dengan ayahnya sekarang. Hatinya masih terlalu sakit mengingat apa yang telah terjadi. Selama ini dia telah banyak berdiam dan memendam semuanya, namun kali ini dia benar-benar merasa tak mampu.
Langkah kaki membawanya ke satu tempat yang tak asing. Satu-satunya tempat dimana dia bisa melupakan sejenak kesedihannya, studio.
Arin memasuki ruangan kedap suara tersebut dan duduk dihadapan Gilang, rekannya sesama penyiar.
Saat itu Gilang sedang offair, memutar sebuah lagu yang di minta oleh salah satu pendengarnya.
"Kenapa Rin, kacau banget kayaknya..?"
Tanya Gilang.
Jawab Arin sambil tersenyum sumringah, lagi-lagi senyuman palsu.
"Kalo lapar ya makan.."
Celetuk Gilang.
Ariana meraih ponsel milik Gilang, kemudian memesan makanan melalui jasa delivery.
"Lang, malam ini kita tukeran shift ya. Kamu pulang aja, biar aku yang jaga malam."
Ucap Arin.
Sudah menjadi kebiasaan di studio, bagi penyiar terakhir malam itu maka dia juga yang bertugas untuk jaga malam. Meskipun begitu, satpam tetap berjaga diluar gedung.
"Tumben?"
Gilang mengernyitkan kening.
"Kamu yakin mau jaga malam?"
Ariana mengangguk mantap.
"Sesekali pengen juga ngerasain sensasi tidur sendirian di studio."
Jawab Ariana.
__ADS_1
"Yaudah deh, terserah kamu. Tapi jangan bilang aku gak ngingetin kamu loh ya. Bangunan ini angker."
Ucap Gilang dengan ekspresi meyakinkan.
"Angkeran mana sama muka mantan kamu?"
Ariana menyindir sambil tertawa sumringah.
"Ya angkeran dia sih."
Jawab Gilang yang juga ikut tertawa.
---------
"Sudah jam berapa sekarang, dan Arin belum pulang juga?"
Pak Malik tampak gusar.
"Untuk apalagi kamu mencarinya, apa gak puas siang tadi kamu memakinya?"
Jawab kakek dengan nada dingin.
"Malik, sampai kapan kamu akan seperti ini? Arin itu putrimu.. Apa salahnya sampai kamu bersikap seperti ini?"
Nenek mulai menangis sedih.
"Putriku? Hah, tanyakan saja pada ibunya."
Jawab Pak Malik dengan nada sinis.
"Malik, apa maksudmu? Jangan bilang kamu percaya semua gossip itu?"
Ucap kakek.
"Darimana gossip itu bermula? Tak ada yang tahu. Tapi aku tahu kebenarannya."
Jawab Pak Malik.
"Kebenaran apa maksud kamu?"
Tanya nenek.
"Sudahlah, cukup aku yang tahu. Lagipula, harusnya dia sudah cukup beruntung kan. Karena ayah dan ibu selalu memanjakannya. Jika dia bersama ibunya, aku yakin dia akan menjadi anak terlantar."
"Malik, apa sebenarnya yang terjadi? Tolong jelaskan.. Kenapa kamu tidak mengatakan apapun? Apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dan Wulan? Bagaimanapun juga sampai saat ini dia masih istri sah kamu nak."
Alih-alih menjawab, Pak Malik justru berbalik dan pergi begitu saja.
"Tolong katakan pada Arin, jangan pernah menemuiku lagi di bengkel."
Ucapnya sebelum pergi.
Ayah, ibu. Maafkan aku. Aku tidak mampu mengatakan kebenarannya. Cukuplah aku memendamnya sendiri. Akan terlalu menyakitkan jika semuanya terungkap. Arinlah orang yang akan paling terluka. Lebih baik dia membenciku seumur hidup, daripada harus mengetahui yang sebenarnya.
__ADS_1