
"Melamar? maksudnya gimana ya Mas?"
Arin tampak bingung.
Tentu saja, dia baru beberapa kali bertemu dengan Rangga dan itupun karena situasi dan keadaan. Mereka belum pernah bicara banyak sebelumnya. Arin belum mengenal Rangga, begitu juga sebaliknya. Rangga melamarnya? Mungkin telinganya yang salah dengar.
Begitu pikir Arin.
"Iya, melamar. Aku ingin menikahi kamu. Aku minta maaf kalau ini mendadak, tapi aku benar-benar serius dengan ucapanku. Arin, bersediakah kamu menikah denganku?"
Arin terbelalak kaget. Ini bukan kali pertama seseorang berniat dengan tulus memintanya. Masih sangat jelas terbayang dibenak Arin sosok Donny yang sudah berjuang demi cinta mereka bahkan dia sanggup menentang keluarganya demi membela Arin. namun akhirnya, Arin sendiri yang mengakhiri hubungan itu.
Dia ingat persis bagaimana sakit dan kecewanya Donny saat itu, bahkan hingga saat ini Arin belum bisa lepas dari perasaan bersalahnya.
"Arin.."
Rangga tampak menatap dengan penuh harap, menunggu jawaban dari Arin.
"Ehm.. Mas Rangga, bercandanya gak lucu. Oh iya Mas, sepertinya aku harus menemui Dokter Indra. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan."
Arin hendak pergi menghindari Rangga.
"Aku mengerti, kamu belum bisa memberikan jawabannya. Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap. Aku pergi sekarang, Assalamualaikum."
Belum sempat Arin menjawab salamnya, Rangga sudah berjalan menjauh.
Arin menatap punggung Rangga yang sudah menjauh dengan perasaan bersalah.
"Mas Rangga.. Aku yakin kamu adalah lelaki yang baik, dan kamu berhak untuk mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku."
Arin bergumam lirih
Rangga kembali ke mobilnya, dan menenangkan diri sesaat.
"Arin.. Andai kamu tahu, aku sudah mencintai kamu bahkan saat pertama kita bertemu. Berbagai macam cara sudah kulakukan untuk melupakan kamu, tapi setiap kali aku mulai terbiasa tanpa bayangmu, takdir justru mempermainkanku. Sekarang kamu sudah didepan mataku, aku akan memperjuangkan kamu sampai di titik dimana aku tak lagi bisa bertahan."
-------
"Cepat banget Rin, udah selesai?"
Tanya Hadi saat melihat Arin yang sudah menyusul mereka ke kantin rumah sakit.
Arin hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Jadi, apa kata Dokter Rangga? Kakek baik-baik aja kan Rin?"
Tanya Irfan.
"Alhamdulillah, perlahan-lahan kondisi kakek akan membaik."
Jawab Arin.
"Rin, kamu yang sabar ya. Insyaa Allah Kakek akan sembuh. Lihat ayahku, kalian ingat kan beberapa tahun lalu ayah juga harus melakukan operasi pemasangan Ring. Alhamdulillah, sampai sekarang kondisinya baik."
Bimo mencoba menghibur Arin dan memberikannya semangat.
"Tumben otakmu bener Bim.."
Ledek Hadi sambil mengusap kepala Bimo yang duduk di sampingnya.
"Hei, jangan sembarangan ya. Gini-gini nilai IPK ku levih tinggi dari kamu loh."
Bimo berdecak kesal.
"IPK kita kan beda tipis bhambanggg. Cuma beda 0.1.."
Ucap Hadi.
"Ya tapi tetap aja, aku lebih pintar dari kamu."
Balas Bimo dengan sewot.
__ADS_1
"Lama-lama kok kalian kayak pasturi yang lagi berantem gitu sih."
Potong Irfan.
"Hidihhh,, Emangnya aku lekong."
Hadi bergidik ngeri.
"Siapa juga yang mau belok sama kamu, kalau lah ya.. Ini kalau seandainya pun aku memang belok, ya aku milih beloknya sama Lee Min Ho lah."
Balas Bimo tak mau kalah.
"Eh.. Eh.. Kok jadi bawa-bawa pangeran khayalanku sih? Enak aja kamu ngatain Lee Min Ho belok. Dia itu salah satu contoh pria sejati idaman sejuta hawa tau."
Protes Arin.
"Lah kan tadi aku bilang kalau seandainya neng geulis.."
Jawab Bimo.
"Ya tetap aja aku gak terima, emang gak ada orang lain gitu yang bisa kamu jadikan contoh? Irfan misalnya."
Omel Arin.
Irfan yang sejak tadi mendengarkan debat gak mutu ketiga sahabatnya hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.
-------
"Gimana Rin, kamu udah bicara sama Rangga?"
Tanya Ardan saat Arin kembali ke ruang tunggu.
"Udah."
Jawab Arin singkat.
"Lalu, bagaimana tanggapan kamu?"
"Abang tahu?"
Tanya Arin dengan tatapan menyelidik.
Ardan mengangguk.
"Sebelum berbicara dengan kamu, dia udah minta izin ke Abang."
Jawab Ardan.
Sudahlah Bang, Aku lagi gak ingin membahas apapun. Sekarang yang terpenting adalah kondisi kakek."
"Rin.."
Ucapan Ardan terpotong ketika Arin memberi isyarat dengan telapak tangannya.
"Rangga adalah pria yang baik, Abang yakin itu. Sebaiknya kamu pertimbangkanlah dulu."
Usul Ardan.
"Aku tahu Bang."
Jawab Arin.
Abang benar, Mas Rangga adalah lelaki yang baik. Bahkan aku sudah tahu itu sejak pertama kali bertemu dulu. Walaupun awalnya aku sempat berpikiran buruk tentangnya. Tapi dia berhak untuk mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dariku. Aku pernah membuat seseorang sangat kecewa karena terpaksa meninggalkannya, bahkan hingga kini rasa bersalah itu masih membayangiku. Aku tidak ingin menambah daftar orang yang tersakiti karena diriku dan latar belakangku yang tak seperti gadis lain. Andai Ibu bukanlah seseorang yang dikenal banyak orang, mungkin akan lebih mudah bagiku.
Batin Arin.
--------
"Rangga, kamu kenapa?"
Rangga baru saja kembali ke rumah dengan wajah lesu dan langkahnya yang gontai.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok Ma. Rangga cuma capek. Rangga ke kamar dulu ya Ma."
Tanpa berkata panjang lebar lagi, Rangga langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Bu Riana yang masih menatapnya dengan bingung.
"Kenapa Ma?"
Dokter Bayu yang juga baru kembali dari Rumah Sakit menghampiri istrinya.
"Itu loh Pa, Rangga kenapa ya? Perasaan waktu mau keluar tadi semangat banget. Kok pulang-pulang lesu begitu?"
Dokter Bayu tersenyum simpul.
"Biasalah Ma, namanya juga anak muda. Mungkin dia lagi galau."
Jawab Dokter Bayu sambil menggulung lengan kemejanya.
"Galau?"
Bu Riana tampak semakin penasaran.
"Ma, Rangga kan udah dewasa. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri ya. Ngomong-ngomong, calon menantu mama cantik."
Setelah mengatakan itu Dokter Bayu langsung pergi begitu saja meninggalkan istrinya yang semakin penasaran.
"Galau? Calon menantu? Apa jangan-jangan Rangga punya pacar? Tapi kenapa dia gak kenalin ke orangtuanya?"
Gumam Bu Riana.
------------
"Rangga, sikap kamu sudah benar. Berikan dia waktu untuk berpikir. Kalau memang dia adalah jodoh yang telah Allah tetapkan untuk kamu, Papa yakin cepat atau lambat kalian akan bersatu."
Rangga yang malam itu sedang berada di balkon kamarnya sambil menatap langit berbalik dan melihat Papanya yang kini berdiri didepannya.
"Papa tau darimana?"
Tanya Rangga sambil mengernyitkan kening.
"Bukan cuma Papa, tapi kabar itu sudah menyebar di rumah sakit."
Jawab Dokter Bayu.
"Maaf Pa, Rangga gak bermaksud melanggar kode etik sebagai Dokter."
Ucapnya sambil menunduk.
"Rangga, Dokter juga manusia biasa. Lalu, apa yang salah dengan itu? Seorang Dokter juga berhak jatuh cinta dan berhak untuk menyatakan cinta."
Jawab Dokter Bayu.
"Papa gak marah?"
Rangga mencoba memastikan.
"Kenapa Papa harus marah? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, dan tak ada hal yang perlu membuat Papa marah. Tapi kalau sampai persoalan pribadi kamu mengganggu kinerja dan profesionalitas kamu sebagai Dokter atau kamu justru membahayakan nyawa pasien, atau bahkan kamu mengabaikan pasien, kalau itu yang terjadi Papa akan benar-benar marah."
Jawab Dokter Bayu.
"Makasih Pa."
Rangga tampak lega.
"Jadi, itukah gadis yang kamu cintai?"
Tanya Dokter Bayu.
Rangga mengangguk pelan.
"Good boy.. Selera kamu ternyata cukup baik."
Ucap Dokter Bayu sambil tersenyum menepuk pundak Rangga.
__ADS_1