Ariana Untuk Rangga

Ariana Untuk Rangga
Episode Delapanbelas


__ADS_3

Pukul delapan pagi, Arin sudah tiba di bandara internasional Itami, Osaka diantar oleh Ardan dan Yoshie.


"Adek, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa langsung kabarin abang begitu sampai dirumah. Salam juga sama kakek, nenek dan ayah. Nanti abang telepon begitu adek sampai dirumah."


Ucap Ardan ketika Arin menyalim tangannya untuk berpamitan.


"Siap boss.."


Jawab Arin dengan gaya menghormat.


"Arin, kapan-kapan main kesini lagi ya. Bawa Donny juga."


Ucap Yoshie.


"Eits, gak boleh ya. Kalau mau bawa Donny nanti setelah menikah. Ingat ya dek, sebelum menikah abang gak izinkan adek pergi berdua dengan Donny. Kalau kalian nekat juga, abang akan langsung menikahkan kalian."


Sela Ardan tegas dengan tatapan tajamnya.


Yoshie dan Arin tertawa sumringah dengan tingkah over protective yang Ardan tunjukkan.


"Abang, tadi aku belum selesai bicara. Maksudku, bawa Donny juga setelah menikah. Honeymoon disini."


Ucap Yoshie dengan wajah polosnya.


Sadar dengan kesilapannya, Ardan kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Abang, pulanglah. Kakek dan nenek sangat merindukan abang. Mereka juga pasti ingin kenal lebih dekat dengan kak Yoshie. Soal ayah, Arin yakin saat itu ayah hanya emosi sesaat. Amarah orangtua, adalah bentuk dari kasih sayangnya pada kita. Abang lihat Arin, ayah selalu marah pada Arin. Tapi Ayah melakukan itu memang karena Arin yang salah."


Ucap Arin.


Ardan tertegun. Sejak berseteru dengan ayah soal pernikahannya beberapa bulan yang lalu, Ardan memang memilih untuk pergi setelah memperkenalkan istrinya dan sejak itu dia tak pernah kembali.


"Arin, setelah selesai kuliah nanti Arin tinggal disini ya, dengan abang dan kak Yoshie."


Pinta Ardan.


Arin dengan tegas menolak.


"Kalau Arin tinggal disini, bagaimana dengan kakek dan nenek?"


Ucap Arin.


Ardan menghela napas dalam.


"Apakah ayah masih sering marah-marah dan memakimu?"

__ADS_1


Tanya Ardan.


"Abang, Arin udah terbiasa. Toh sejak dulu memang ayah begitu kan. Setidaknya, ayah tidak pernah main tangan pada Arin. Lagipula seperti yang Arin katakan tadi, ayah marah pada Arin karena kesalahan Arin juga."


Jawab Arin.


Ardan mengusap kepala Arin dengan lembut.


"Abang tahu Arin adalah gadis yang tegar. Tapi jangan pernah menyimpan masalah apapun sendirian. Ingat, Arin masih punya abang."


Ucapnya.


"Sudah hampir waktunya.. Abang, kakak, Arin pamit ya.. Insyaa Allah Arin akan datang lagi di lain waktu."


Ucap Arin sambil memeluk Yoshie dan Ardan.


"Abang, yang dikatakan Arin benar. Apa gak sebaiknya kita juga pulang ke Indonesia?"


Tanya Yoshie saat sedang dalam perjalanan pulang.


"Gak sekarang sayang. Abang belum siap batin jika harus melihat kamu dimaki oleh ayah lagi. Abang gak masalah jika dia melakukan itu pada abang, karena sama seperti Arin, abang sudah terbiasa. Tapi abang belum bisa menerima apa yang ayah lakukan pada kamu."


Jawab Ardan.


"Kalau Arin bisa menahannya, kenapa aku tidak.. Lagipula, dia adalah ayah mertuaku kan. Aku akan berusaha untuk memenangkan hatinya."


Ucap Yoshie.


Jawab Ardan.


Merasa sungkan untuk membahas lebih jauh, Yoshie akhirnya memilih untuk menahan diri.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tujuh jam dengan pesawat, akhirnya Arin tiba kembali di tanah air.


Hari menjelang sore ketika Arin menginjakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta.


Dengan langkah santai dia menggeret kopernya dan segera mencari taxi. Dia berencana untuk menginap semalam dirumah ibunya. Sebelumnya Arin sudah mengirimkan pesan pada Donny, dan mengajaknya bertemu di Ancol besok. Dia sudah siap, dan akan mengakhiri semuanya. Tentu dia sudah mempertimbangkan dengan matang.


Akhirnya Arin tiba didepan rumah ibunya, namun ada hal yang mengganggu pikirannya.


Didepan rumah ibunya, sebuah mobil sedan mewah berlogo 'bintang tiga' terparkir dihalaman dan dia tahu persis itu bukan milik ibunya.


"Mobil siapa ini?"


Gumam Arin saat melewati mobil sedan berwarna hitam tersebut dengan rasa penasaran.

__ADS_1


Baru saja dia akan masuk, samar-samar dia mendengar ibunya sedang berbicara dengan seorang pria. Dia ingat betul suara ini, persis sama dengan suara pria yang waktu itu mengunjungi rumah ibunya tengah malam. Si pengusaha kaya yang selama ini digossipkan menjalin hubungan dengan ibunya.


"Jadi, dimana kamu menyembunyikan anak itu Wulan?"


Tanya pria itu.


"Sudahlah Fahrul, untuk apa kamu mencarinya. Aku sudah bilang padamu kan, aku sudah menggugurkannya saat dia masih dalam kandungan."


Jawab ibu Arin.


Deg...


Jantung Arin berdegub kencang.


Apa yang mereka bicarakan, anak siapa? Menggugurkan? Benarkah ibu pernah melakukannya?


Batin Arin.


"Jangan berbohong padaku Wulan! Aku tahu kamu tidak menggugurkannya. Kamu pikir aku bodoh, kamu melahirkan bayi itu. Aku tahu Wulan. Bayi perempuan kan? Apa kamu pikir kamu bisa menipuku?"


Pria itu menghardik ibu Arin.


"Aku sudah membuangnya. Bukankah dulu kamu tidak menginginkannya? Sekian lama kita bersama, kenapa baru sekarang kamu menanyakannya?"


Jawab ibu Arin dengan nada ketus.


"Tega sekali kamu Wulan! Dia itu anakku, anak kita. Bagaimana bisa kamu menjadi ibu yang kejam dan tidak berperasaan?"


"Tega? Kejam? Bukankah itu lebih pantas kukatakan padamu? Baiklah, aku katakan sekarang hal yang mungkin kamu abaikan. Bukankah dulu kamu yang menyuruh orang-orangmu untuk mengancam akan membunuhku jika aku tidak membuang bayi itu? Aku harap kamu tidak melupakan itu Fahrul. Sudahlah, kita tidak perlu membahas ini lagi."


"Mengancammu? Apa maksudmu? Wulan, aku tidak pernah melakukan itu. Kamu tahu, aku pikir aku akan menikahimu setelah kamu resmi berpisah dengan suamimu dan kita akan hidup bahagia bersama putri kita. Jika tidak lalu kamu pikir untuk apa selama ini aku menyokongmu? Bahkan sampai saat ini aku yang berdiri dibelakangmu, akulah yang membuatmu sukses seperti sekarang. Aku melakukan itu karena aku mencintai kamu Wulan, dan aku ingin memberikan hidup yang layak untuk anakku."


Arin terkesiap. Dia benar-benar tidak menduga ini terjadi, ternyata gossip itu benar. Ibunya memang memiliki hubungan dengan pria bernama Fahrul. Sekarang dia mengerti, alasan kenapa dulu ayahnya mendadak membawa mereka pergi. Inilah rahasia yang selama ini dia tak pernah tahu. Arin mulai berbalik badan, kemudian berlari secepat yang dia bisa. Dia bahkan lupa membawa kopernya. Dan koper itu tertinggal tepat didepan pintu rumah ibunya.


Arin berhenti di tepi jalan, kemudian duduk bersandar di sebuah pohon. Dadanya terasa sangat sesak. Kini dia tak tahu harus kemana, dan harus melakukan apa. Dia mengusap dadanya yang terasa nyeri dan sesak.


"Mbak, mbak gak apa-apa? Apa mbak sedang sakit?"


Seorang wanita yang kebetulan melintas menghampiri Arin.


Arin menggeleng, dan langsung mengusap airmatanya.


"Aku gak apa-apa mbak."


Jawabnya kemudian langsung berdiri dan pergi.

__ADS_1


Ya Allah.. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak menyangka, ibu ternyata sejahat itu. Diam-diam ibu mengkhianati ayah, dan berhubungan dengan lelaki lain. Jadi inikah sebabnya ayah selalu marah setiap kali aku menyinggung soal ibu? Apakah selama ini ayah tahu ibu mengkhianatinya dan karena itu ayah sangat membenci ibu sampai sekarang? Lalu, bagaimana dengan anak yang dibuang oleh ibu? Dimana dia sekarang? Apakah dia masih hidup? Siapapun dan dimanapun dia, kuharap dia tak pernah tahu jati dirinya yang sebenarnya karena itu pasti akan sangat menyakitkan. Saat ini media juga sedang memburunya. Apakah Kakek, nenek dan abang juga tahu soal ini?


Arin melangkah dengan gontai, tak tahu arah dan tujuan seperti orang linglung. Dia benar-benar tak bisa berpikir sekarang. Hatinya tengah remuk redam, setelah mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh ibunya.


__ADS_2