
"Alhamdulillah, syukurlah operasinya berjalan dengan lancar."
Arin dan ketiga sahabatnya tampak sangat lega, terutama Bimo.
"Guys, sumpah aku gak tahu gimana cara membalas kebaikan kalian."
Bimo memeluk ketiga sahabatnya dengan perasaan haru.
"Jangan terlalu dipikirkan Bim.. Kita kan sahabat, dan Om Darma udah seperti orangtua kami juga. Kami melakukan ini karena kami juga menyayangi Om Darma."
Balas Irfan.
"Irfan benar Bim, kamu gak perlu pikirkan itu ya. Yang terpenting operasinya Om Darma berjalan lancar, dan Insyaa Allah Om Darma akan kembali sehat."
Timpal Arin.
"Kok jadi pada melow begini sih, aku kelaparan. Apa sekarang kita bisa cari makan?"
Celetuk Hadi yang dibalas dengan tawa riang ketiga sahabatnya.
"Maaf, apakah diantara kalian ada keluarga dari pasien atas nama Bapak Darma?"
Seorang perawat menghampiri mereka.
"Iya Sus, saya anaknya. Ada apa ya sus?"
Tanya Bimo.
"Dokter Bayu meminta anda menemuinya sekarang. Mari saya antar ke ruangannya."
"Oh, oke sus."
"Kalian duluan aja, nanti aku menyusul. aku mau ketemu Dokter Bayu dulu."
Ucap Bimo pada ketiga sahabatnya dan kemudian melangkah mengikuti perawat yang baru saja memanggilnya.
-------
"Syukurlah, kondisinya tidak separah yang kita pikirkan. Tapi meski operasinya berhasil, kondisi pak Darma tidak bisa kembali normal seperti sedia kala terutama jantungnya. Jadi sebisa mungkin tolong dijaga baik-baik. Jangan sampai Pak Darma kelelahan, apalagi melakukan pekerjaan berat karena itu akan berpengaruh pada jantungnya. Untuk lebih rinci nanti akan dijelaskan oleh Dokter Rangga, karena dia adalah dokter spesialis jantung yang menangani pasien. Kebetulan saat ini dia sedang ada di mushola, mungkin sebentar lagi dia kembali."
Saat itu memang sudah lewat waktu ashar, begitu selesai operasi Rangga langsung bergegas ke mushola.
"Baik Dok, Insyaa Allah saya akan menjaga papa saya. Terimakasih banyak Dok."
Jawab Bimo.
------
Arin, Irfan dan hadi sedang berjalan beriringan menuju salah satu kantin rumah sakit ketika tiba-tiba ponsel Hadi berdering.
Ternyata dari kakaknya, yang sedang ngidam dan menginginkan cake Medan Napoleon sebagai oleh-oleh karena dia tahu Hadi sedang berada di Medan.
"Kalian makan duluan aja deh, aku mau beli pesanan bumil dulu."
Ucap Hadi sesaat setelah mematikan ponselnya.
"Aku juga nitip ya.."
Pinta Arin dengan wajah memelas.
"Oke, aku jalan dulu deh."
Kini hanya tinggal Irfan dan Arin, yang masih berjalan di lorong rumah sakit.
"Rin, Kamu baik-baik aja?"
Tanya Irfan tiba-tiba.
langkah Arin terhenti, kemudian menatap Irfan dengan bingung.
"Emangnya aku kenapa? Aku gak kenapa-kenapa.."
Jawab Arin santai.
__ADS_1
"Maksudku, ini soal Donny.."
Wajah Arin seketika berubah kaku.
"Maaf Rin, aku gak bermaksud ikut campur. Tapi, beberapa hari yang lalu Donny sempat menghubungiku. Dan.."
Belum sempat Irfan menyelesaikan ucapannya, Arin melengos dan duduk di salah satu kursi dengan santai.
"Udahlah Fan, gak ada yang perlu di bahas lagi. Intinya, aku dan Donny.. Kami memang sudah berakhir. Aku yang memutuskan untuk mengakhirinya, tepat disaat dia menyatakan keseriusannya. Kamu pasti berpikir aku jahat kan?"
Irfan duduk di samping Arin, sambil menghela napas.
"Arin, aku mengenalmu dengan sangat baik dan aku tahu persis sikapmu. Sekarang coba jelaskan, ada masalah apa sebenarnya? Aku tidak bermaksud ikut campur, tapi sebagai sahabat kamu aku hanya ingin membantumu."
Ucap Irfan.
"Gak ada masalah apapun, aku hanya ingin mengakhirinya. Sudah, itu saja."
Jawab Arin dengan nada datar.
"Arin.."
"Fan, aku capek. Aku pinjam pundak kamu sebentar ya."
Kemudian Arin menyandarkan kepalanya di pundak Irfan.
Di saat yang sama, seorang Dokter muda melintas di hadapan mereka.
Selama beberapa saat Rangga sempat tertegun dengan apa yang dilihatnya.
Arin, itu benar Arin.. Ternyata mama benar, Arin sudah punya pasangan.
"Dokter Rangga, sudah ditunggu Dokter Bayu di ruangannya."
Kehadiran salah seorang perawat menyadarkan Rangga, begitu juga dengan Arin dan Irfan.
"Oh, ehm. Oke, saya segera kesana."
Jawab Rangga salah tingkah.
Dokter itu, sepertinya wajahnya gak asing.. Tapi, dimana aku pernah bertemu dengannya ya?
Batin Arin.
"Ayo kita ke kantin.."
Irfan menarik tangan Arin yang masih bengong sambil memperhatikan Rangga. Sekilas Rangga melirik ke arah Arin, dan tanpa diduga tatapan mereka bertemu. Hanya sekilas lalu.
Melihat Arin yang ada di genggaman lelaki lain, akhirnya Rangga menyerah.
Arin, kuharap semoga kamu bahagia.
Batin Rangga.
Aneh, aku yakin aku pernah bertemu dokter itu sebelumnya. Tapi dimana ya?
Batin Arin.
---
"Rin, kamu lagi mikirin apa sih? Dari tadi kok bengong.."
Tanya Irfan saat mereka sudah berada di kantin rumah sakit.
"Ehm, bukan apa-apa sih. Aku cuma sedang mengingat sesuatu.."
Jawab Arin.
"Mengingat sesuatu?"
Irfan mengernyitkan kening.
"Iya, Dokter tadi, wajahnya gak asing. Aku yakin aku pernah bertemu dengannya. Tapi entah kapan dan dimana."
__ADS_1
Jawab Arin.
"Dokter yang mana?"
Tanya Irfan
"Dokter yang papasan sama kita di koridor sebelum kita kesini.."
Jawab Arin.
"Oh, Dokter Rangga Aditya.."
Balas Irfan datar.
"Kamu kenal dia?"
"Gak, tadi aku gak sengaja melihat name tag di jasnya."
Jawab Irfan santai.
"Astagaaa... Aku baru ingat sekarang."
Arin menepuk jidat.
"Kenapa?"
"Dokter itu, orang yang pernah menolongku waktu motorku mogok di jalan. Ingat gak, kita pernah datang ke kota ini untuk mengembalikan ktp milik seseorang? Itu miliknya, ya.. Aku ingat sekarang. Namanya Rangga Aditya."
"Bagusah kamu mengingatnya. Tapi, emang dia mengingatmu?"
Tanya Irfan.
"Entahlah, tapi kurasa mungkin dia sudah lupa."
Jawab Arin.
"Akhirnya setelah mengantri panjang, dapat juga nih pesanannya bumil.."
Hadi yang baru saja tiba tampak sedikit berantakan.
"Lain kali kalau antrian panjang kamu kan bisa pakai jurus jitu, pura-pura pingsan misalnya.."
Ledek Irfan.
"Sialan lu Ndro.."
Celetuk Hadi.
"Atau pura-pura gila, terus kamu serobot semua antriannya. Itu sih jurus paling jitu."
Timpal Arin.
"Yee.. Itu mah sama aja markonah. Emang temen nih berdua kagak ada yang beres otaknya."
Gumam Hadi sambil menggaruk kepala.
"Maaf ya kalian lama nunggu."
Bimo juga baru tiba.
"Gak apa kok, kita juga baru mau pesan makan."
Jawab Irfan.
Setelah selesai makan, Irfan berpamitan untuk mengantarkan Arin pulang. Sedangkan Hadi tetap tinggal, untuk menemani Bimo dan Om Darma di rumah sakit.
Saat itu pukul enam sore, dan jam dinas Rangga sudah berakhir.
Dengan langkah gontai dia berjalan melewati koridor.
Hari ini rasanya sangat lelah, setelah melakukan beberapa operasi besar.
Rangga sudah terbiasa dengan itu, tapi entahlah.
__ADS_1
Saat itu dia hanya merasa sangat lelah.