
"Pa, bagaimana jika mama tidak setuju?"
Rangga tampak ragu.
"Jika dia adalah gadis yang baik dan kalian saling mencintai, Papa yakin tak ada alasan bagi mamamu untuk tidak setuju. Dengar, Papa dan Mama hanya ingin kamu bahagia. Kamu anak kami satu-satunya."
Jawab Dokter Bayu meyakinkan.
"Apa menurut Papa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Rangga?"
"Hei, sejak kapan Papa jadi cenayang yang bisa membaca hati dan pikiran orang lain? Tapi, memangnya gadis mana yang bisa menolak pemuda seperti kamu? Bahkan jika Papa adalah ayah dari gadis itu, pasti Papa juga sangat berharap mendapatkan menantu seperti kamu."
Rangga menghela napas dalam.
"Tapi, masalahnya tidak sesederhana itu Pa. Sepertinya, ada orang lain yang dia cintai."
Gumam Rangga.
"Bahkan dulu mama kamu tergila-gila pada Uncle Dave.. Kamu tahu dia kan? Dibandingkan Papa, Uncle Dave jauh lebih baik. Dia tampan, dia juga terlahir dari keluarga kaya. Sedangkan Papa, hanya anak dari seorang pedagang kecil. Waktu itu banyak teman Papa yang bilang kalau Papa tidak waras, mengejar gadis yang jelas-jelas mencintai pria lain. Tapi kamu lihat sekarang, justru mama kamu yang tidak bisa jauh dari Papa."
"Jadi, apakah tidak masalah jika Rangga mengejar gadis itu?"
Tanya Rangga penuh harap.
"Selagi janur kuning belum melengkung, setiap orang punya hak untuk menikung."
Ucap Dokter Bayu sambil mengedipkan sebelah mata.
"Dasar anak nakal, pulang gak bilang-bilang. Padahal kemarin katanya sibuk."
Bu Riana yang baru saja muncul langsung mencubit pipi Rangga dengan gemas.
"Ampun Ma.. Ampun, ini sakit.."
Rangga mengaduh kesakitan, sedang Papanya hanya tertawa sumringah.
"Jadi, kapan kamu sampai? Kenapa kamu gak pulang kerumah dan malah langsung kesini?"
Bu Riana mulai menginterogasi putranya dengan tatapan tajam.
"Ma, sudahlah. Justru sangat bagus tadi Rangga ada disini. Kalau tidak, Papa tak tahu akan bagaimana nasib pasien yang baru saja dia operasi."
Bela Dokter Bayu.
"Operasi? Pa, Rangga kan masih dalam masa cuti.."
Protes Mama.
"Gak ada kata cuti bagi seorang Dokter Ma, lagipula tadi situasinya menang benar-benar genting. Pasien mendadak kritis dan harus segera di operasi, sedangkan Dokter Ilham masih di Jerman."
Jawab Rangga.
"Jadi, bagaimana sekarang? Mama juga tidak sempat memasak makan malam."
"Nah mumpung Mama sudah ada disini, kenapa tidak sekalian kita makan malam? Rasanya belum terlalu malam untuk kita makan di luar kan."
Ajak Dokter Bayu.
"Boleh juga ide Papa."
Balas Bu Riana.
"Pa, Ma.. Rangga mau ke mushola dulu. Keburu Maghribnya lewat."
__ADS_1
Kemudian Rangga meninggalkan Dokter Bayu dan Bu Riana menuju mushola.
"Mau sholat juga Dok?"
Sapa Ardan yang tak sengaja berpapasan dengan Rangga di koridor depan mushola.
Rangga mengangguk sambil tersenyum.
"Apa Kakek Jailani sudah siuman?"
Tanya Rangga.
"Masih belum Dok, mudah-mudahan Kakek segera sadar."
"Tak apa, setelah pengaruh obat biusnya hilang Insyaa Allah kakek Jailani akan sadar kembali."
Jawab Rangga.
Setelah selesai sholat, Rangga menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Ardan sambil berjalan di koridor. Tentu saja, sekaligus mencari tahu tentang Arin.
"Ngomong-ngomong, dimana Arin?"
Tanya Rangga.
"Arin pulang ke Siantar dengan nenek dan ayah untuk mengambil keperluan kakek selama dirawat disini. Besok siang mereka kembali kesini."
Jawab Ardan.
"Oh, jadi Mas Ardan menjaga Kakek sendirian?"
Tanya Rangga.
Ardan menggeleng.
"Dengan istriku, dia sudah sholat lebih dulu. Kami bergantian untuk menjaga kakek barangkali tiba-tiba siuman."
Jawab Ardan.
"Dokter sudah menikah?"
Tanya Ardan.
Rangga menghentikan langkahnya, kemudian menggeleng sambil tersenyum.
"Wah, pasti banyak gadis-gadis yang ngantri ya Dok. Dokter kan tampan, mapan. Gadis mana yang bisa mengabaikan lelaki seperti Dokter Rangga ini."
Puji Ardan.
"Maaf, cukup panggil Rangga aja, gak perlu terlalu formal."
Ucap Rangga.
"Ya, maksudku. Pasti banyak kan gadis yang mendekati kamu."
Ardan kembali bertanya.
"Ada beberapa, tapi.."
"Tapi kenapa?"
Tanya Ardan penasaran.
"Bukan apa-apa."
__ADS_1
Jawab Rangga dengan sedikit salah tingkah.
Tapi hatiku terlanjur memilih Arin, adik kamu.
Batin Rangga.
"Bagaimana dengan Arin, apakah dia sudah menikah atau mempunyai calon mungkin?"
Rangga bertanya dengan ragu-ragu.
"Dulu pernah, bahkan pria itu sudah menyatakan niat untuk melamar Arin. Tapi karena sesuatu hal, akhirnya hubungan mereka kandas. Sejak itu, Arin belum pernah dekat dengan lelaki manapun. Dia hanya fokus dengan kuliahnya. Terkadang sebagai seorang Abang, aku juga merasa miris melihatnya. Dia tidak pernah berbagi masalahnya pada siapapun. Hanya menyimpan untuk dirinya sendiri."
Jawab Ardan.
Jadi, Arin sedang tidak dekat dengan pria manapun? Apakah itu artinya, aku masih ada kesempatan untuk mendekatinya?
"Maaf ya, aku jadi mengeluhkan tentang adikku kepada kamu."
"Itu bukan masalah. Aku yakin Arin gadis yang kuat. Karena itulah dia tidak berbagi masalahnya pada siapapun. Dia tidak ingin membuat orang-orang terdekatnya terbebani dengan masalahnya."
Jawab Rangga.
"Aku tahu. Aku harap dia akan dipertemukan dengan pria yang soleh. Yang bisa mencintai dan menerima dia dengan segala kekurangannya. Aku takut. Aku sangat takut jika dia disakiti, atau dikecewakan oleh orang lain. Dia telah begitu banyak memendam kesedihannya, tapi tak ada yang bisa aku lakukan untuknya."
"Setiap orang punya jalan hidup dan ujian masing-masing. Mungkin kita mengira dia lemah, tapi bisa jadi dia lebih tegar dari yang kita duga."
"Ya, kamu benar."
Gumam Ardan.
"Aku yakin di suatu tempat di bumi ini, ada seseorang yang sedang mencintainya dalam diam, dan berdoa untuk kebahagiaannya."
Ucap Rangga dengan tatapan penuh arti.
"Aku juga berharap begitu."
Seseorang yang selalu memintanya dalam setiap doa di sepertiga malam, dan berharap menjadi pria yang menemaninya hingga kesurga. Kuharap orang itu hanya aku.
Batin Rangga.
---------------------
"Rangga, tahun depan kuliah kamu selesai kan. Apa kamu sudah punya rencana? Maksud mama, untuk masa depan kamu. Kamu ini kan sudah dewasa, sudah waktunya kamu memikirkan untuk mencari pendamping."
Ucap Bu Riana di sela makan malam mereka.
"Ma, justru karena Rangga sudah dewasa kita harus memberikan kepercayaan padanya. Papa yakin Rangga akan menemukan gadis yang tepat untuk dijadikan istri. Benar kan Rangga?"
Bela Dokter Bayu.
"Pa, Ma.. Saat ini Rangga masih fokus dengan kuliah. Tapi Papa dan Mama gak perlu cemas, Insyaa Allah Rangga sudah menemukan gadis yang tepat."
Jawab Rangga sambil tersenyum.
"Siapa? Kenalin dong sama Papa dan Mama. Mama harus mengenal calon menantu Mama."
"Masih proses Ma.."
Jawab Rangga.
"Proses gimana maksudnya?"
Tanya Bu Riana dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Proses mendekati keluarganya.."
Jawab Rangga sambil cengengesan, dan diacungi dua jempol oleh papanya.